Ratusan Kepala Sekolah dan Guru se-Kabupaten Tegal Ikuti Financial Class

Minggu, 1 November 2026 | 17.02 WIB
Ratusan kepala sekolah dan guru di Kabupaten Tegal.mengikuti financial class di Pendapa Amangkurat Slawi, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ratusan kepala sekolah dan guru di Kabupaten Tegal.mengikuti financial class di Pendapa Amangkurat Slawi, Kamis, 29 Oktober 2026.

Ratusan kepala sekolah dan guru se-Kabupaten Tegal ikuti financial class. Pemkab Tegal dan OJK dorong penguatan literasi keuangan dan cegah kejahatan digital.

SLAWI, puskapik.com - Ratusan kepala sekolah dan guru dari jenjang TK/PAUD, SD, hingga SMP se-Kabupaten Tegal berkumpul di Pendapa Amangkurat untuk mengikiti financial class, Kamis, 29 Oktober 2026.

Financial class, sebuah program pembekalan literasi keuangan agar mereka mampu menanamkan kebiasaan mengelola keuangan kepada siswa sejak dini.

Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan keuangan, pemahaman produk dan layanan jasa keuangan, serta pencegahan kejahatan keuangan digital.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Tegal, Akhmad Uwes Qoroni, yang hadir mewakili Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman, menekankan pentingnya peran kepala sekolah dan guru dalam membentuk karakter finansial generasi muda di tengah pesatnya teknologi digital.

"Literasi keuangan merupakan kecakapan hidup yang penting dikenalkan sejak anak-anak. Di sinilah kepala sekolah dan guru memiliki peran strategis untuk membangun kebiasaan bijak berfinansial di lingkungan sekolah," ujar Uwes.

Baca Juga: Gerindra Tegal Hijaukan GOR Trisanja Slawi, Tanam Pohon Mangga Hingga Tabebuya

Menurut Uwes, materi yang diserap oleh para kepala sekolah dan guru ini mencakup kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, membiasakan menabung, hingga memahami risiko layanan keuangan digital.

Ia berharap para peserta dapat meneruskan pengetahuan ini kepada guru sejawat, peserta didik, hingga orang tua siswa.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal, Kurnia Tri Puspita, memaparkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Data tersebut menunjukkan indeks inklusi keuangan telah mencapai 93,61 persen, namun indeks literasi atau pemahaman baru berada di angka 69,57 persen.

"Banyak masyarakat yang sudah memiliki rekening atau menggunakan layanan keuangan, tetapi belum memahami sepenuhnya produk yang mereka gunakan. Kondisi ini meningkatkan risiko terjebak penipuan dan pinjaman ilegal," jelas Kurnia di hadapan 280 peserta.

OJK mendorong para tenaga pendidik untuk menjadi agen literasi keuangan di sekolah masing-masing, salah satunya melalui pemanfaatan program Satu Rekening Satu Pelajar yang diharapkan membantu anak mengenal layanan perbankan, menetapkan tujuan keuangan, dan membangun kebiasaan menabung secara teratur.

Di tengah kerentanan tersebut, Kurnia mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan dugaan penipuan transaksi keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC) di iasc.ojk.go.id. Pelaporan yang cepat diperlukan untuk membantu penelusuran aliran dana dan penanganan rekening terkait sesuai kewenangan masing-masing pihak. Meski demikian, pengembalian dana korban tidak dapat dijamin karena bergantung pada kondisi dan hasil penanganan kasus.

Baca Juga: Bekas Kandang Ayam Desa Balaradin Kebakaran

Dari sisi penegakan hukum, Kapolres Tegal AKBP Febriyani Aer mengingatkan para kepala sekolah dan guru untuk memperketat kewaspadaan terhadap ancaman judi online, pinjol ilegal, dan penipuan siber yang menyasar data pribadi.

"Jangan mudah tergiur tawaran keuntungan instan dan jangan sembarangan memberikan kode OTP dan PIN kepada siapapun serta tidak mudah mengeklik tautan mencurigakan yang mengqtasnamakan bank atau instansi resmi," imbau AKBP Febriyani Aer.

Selain materi keuangan, Kapolres juga menitipkan pesan kamtibmas kepada para kepala sekolah dan guru agar terus memberikan edukasi serta pengawasan berkelanjutan, guna memastikan para siswa tidak terlibat dalam aksi tawuran maupun tindakan melanggar hukum lainnya. ***

Artikel Terkait