Bukan Sekadar Adik Kartini, Ini Kiprah Nyata Kardinah di Tegal

Selasa, 21 April 2026 | 10.51 WIB
Foto tiga saudara, Kardinah, Kartini dan Roekmini, terpajang di dekat pusara makam Kardinah, Komplek Makam Tegal Arum, Kabupaten Tegal.
Foto tiga saudara, Kardinah, Kartini dan Roekmini, terpajang di dekat pusara makam Kardinah, Komplek Makam Tegal Arum, Kabupaten Tegal.

Sosok Raden Ayu Kardinah diangkat kembali sebagai pelanjut gagasan Raden Ajeng Kartini lewat aksi nyata bagi masyarakat.

TEGAL, puskapik.com - Nama Raden Ajeng Kartini selalu jadi sorotan tiap peringatan Hari Kartini, pada tanggal 21 April.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa adik kandungnya, Raden Ayu Kardinah, justru menerjemahkan gagasan besar sang kakak menjadi kerja nyata yang berdampak luas bagi masyarakat.

Sosok Kardinah perlahan kembali diangkat ke permukaan melalui sebuah buku “Kardinah : Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan” karya Yono Daryono.

Baca Juga: Gunung Slamet Terjadi 17 Kali Gempa Low Frequency, Aktivitas Warga Sawangan Tegal Tetap Normal

Dalam perbincangan dengan puskapik.com, Selasa 21 April 2026, Yono mengaku ketertarikannya pada Kardinah bermula dari sebuah rekaman lama.

"Saya menemukan kaset rekaman suara Ibu Kardinah tahun 1970, saat saya masih menjadi penyiar radio," ujar Yono.

Rekaman itu, lanjut Yono, berisi cerita langsung dari Kardinah tentang perjuangannya membangun rumah sakit di Tegal.

Baca Juga: Pria di Pekalongan Ditemukan Meninggal di Dalam Kamar, Polisi Lakukan Olah TKP

Dari situlah Yono Daryono mulai menelusuri lebih dalam kiprah adik Raden Ajeng Kartini tersebut.

Menurut Yono, selama ini sejarah terlalu menempatkan Kartini sebagai satu-satunya simbol perjuangan perempuan, sementara peran dua adiknya, Kardinah dan Roekmini sering terabaikan.

"Padahal Kardinah ini yang benar-benar menerjemahkan gagasan Kartini menjadi tindakan nyata," kata Yono.

Yono menjelaskan, jika Kartini menuangkan ide melalui surat-surat yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, maka Kardinah justru hadir lewat aksi konkret di tengah masyarakat.

Salah satu langkah besar Kardinah yakni mendirikan sekolah keterampilan bagi perempuan pribumi serta membangun fasilitas sosial, termasuk rumah sakit dan panti jompo.

"Rumah sakit itu bahkan dibangun dari hasil penjualan buku yang dia tulis sendiri. Itu luar biasa," ungkap Yono.

Dari penjualan buku panduan memasak dan membatik, Kardinah berhasil mengumpulkan sekitar 16 ribu gulden, jumlah yang sangat besar pada masanya, yang kemudian digunakan untuk membiayai pembangunan rumah sakit di Tegal.

Tak hanya bergerak di bidang sosial, Kardinah juga memiliki pandangan luas soal ketidakadilan kolonial.

Dalam surat-suratnya kepada keluarga Abendanon, Kardinah menyoroti perlakuan diskriminatif terhadap pribumi dibandingkan kelompok lain pada masa Hindia Belanda.

"Dia bukan hanya melanjutkan emansipasi perempuan, tapi juga bicara soal emansipasi bangsa," kata Yono.

Atas jasa-jasanya, pemerintah kolonial bahkan menganugerahkan penghargaan kehormatan Ridder van Oranje Nassau pada 1924 sebuah pengakuan langka bagi pribumi saat itu.

Namun, Yono menilai kontribusi besar tersebut tenggelam oleh popularitas Kartini yang lebih dulu dikenal luas melalui karya-karya tulisnya.

"Kardinah ini pejuang kemanusiaan. Dia tidak hanya bicara, tapi benar-benar bekerja," ujar Yono.

Melalui bukunya, Yono berharap masyarakat mulai melihat sejarah secara lebih utuh, bahwa perjuangan perempuan Indonesia tidak hanya milik satu nama besar.

"Kalau Kartini adalah api gagasan, maka Kardinah adalah yang menjaga api itu tetap menyala," tutur Yono.

Artikel Terkait