Forum HRD Tegal Dorong Rekrutmen Transparan, Hindari PHP ke Pencari Kerja

Jumat, 14 Agustus 2026 | 21.31 WIB
Ketua Forum HRD Kota Tegal, Erni Unggul Sedya Utami, menyampaikan saran dan masukan kepada perusahaan melalui perwakilan HRD saat sharing session di Kampus Universitas Harkat Negeri Tegal, Kamis 13 Agustus 2026.
Ketua Forum HRD Kota Tegal, Erni Unggul Sedya Utami, menyampaikan saran dan masukan kepada perusahaan melalui perwakilan HRD saat sharing session di Kampus Universitas Harkat Negeri Tegal, Kamis 13 Agustus 2026.

Forum HRD Kota Tegal mendorong perusahaan menerapkan rekrutmen transparan dan memberi kepastian kepada pelamar kerja. Praktik percaloan juga diminta dihentikan.

TEGAL, puskapik.com - Forum Human Resource Development atau HRD Kota Tegal, menggelar pembinaan dan sharing session di Kampus Universitas Harkat Negeri Tegal, Kamis 13 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi praktisi SDM untuk memperkuat peran strategis HRD sekaligus merespons dinamika ketenagakerjaan yang semakin kompleks.

Ketua Forum HRD Kota Tegal, Erni Unggul Sedya Utami, menegaskan bahwa peran HRD tidak hanya sebatas administratif, tetapi juga menjadi teladan di lingkungan perusahaan.

Baca Juga: Pilkades Serentak Pekalongan 2026 Digelar, Sukirman Tegaskan Netralitas dan Tolak Politik Uang

"Kita ini orang pertama yang menjadi sorotan di perusahaan. Sedikit saja kita melakukan hal yang kurang tepat, itu langsung jadi bahan pembicaraan," ujar Erni.

Menurut Erni, forum HRD dibentuk untuk menjembatani komunikasi antarpraktisi SDM serta memperkuat sinergi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian atau Disnakerin.

Erni menyebut, hubungan yang terjalin selama ini cukup harmonis, termasuk kolaborasi dalam berbagai kegiatan pembinaan tenaga kerja.

Baca Juga: RSB Jepara Diresmikan, Taj Yasin Harap Jadi Penguat Kesehatan dan Kemaslahatan Umat

Salah satu isu yang disoroti dalam forum tersebut adalah proses rekrutmen tenaga kerja yang dinilai masih perlu dibenahi.

Erni mendorong perusahaan agar lebih transparan dan tidak memberikan ketidakpastian kepada pelamar kerja.

"Jangan kasih harapan palsu atau PHP ke calon tenaga kerja. Kalau memang diterima, sampaikan diterima. Kalau tidak, ya sampaikan tidak. Itu penting agar mereka tidak menunggu tanpa kepastian," tegas Erni.

Erni juga menyoroti praktik percaloan dalam proses lamaran kerja yang masih ditemukan di lapangan.

Menurut Erni, hal tersebut berpotensi merugikan pencari kerja dan mencederai prinsip keadilan dalam rekrutmen.

Selain itu, Erni mendorong optimalisasi layanan Job Cafe yang dikelola Disnakerin sebagai pusat informasi dan fasilitasi pencari kerja.

Erni mengusulkan agar proses rekrutmen dapat dipusatkan melalui layanan tersebut, termasuk pelaksanaan wawancara kerja di Mal Pelayanan Publik atau MPP.

"Kalau rekrutmen difasilitasi melalui Job Cafe, prosesnya bisa lebih transparan dan terkontrol. Pencari kerja juga lebih terlindungi," ujar Erni.

Di sisi lain, fenomena meningkatnya lulusan SMA/ SMK yang langsung masuk dunia kerja juga menjadi perhatian.

Kondisi ini dinilai memunculkan tantangan baru bagi perguruan tinggi, sekaligus menunjukkan tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor industri.

Kepala Disnakerin Kota Tegal, Ilham Prasetyo, dalam sambutannya menegaskan bahwa sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan organisasi maupun perusahaan.

Ilham menyebut, penguatan kualitas SDM menjadi keharusan di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat.

"Perubahan teknologi dan tuntutan produktivitas menuntut pengelolaan SDM yang profesional, adaptif dan berorientasi jangka panjang. HRD memiliki peran strategis, tidak hanya administratif tetapi juga sebagai mitra manajemen," jelas Ilham.

Ilham menambahkan, penguatan SDM tidak hanya berkaitan dengan kompetensi teknis, tetapi juga mencakup etika kerja, integritas serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Dalam kesempatan tersebut, Ilham juga mengajak perusahaan untuk mendukung dua program strategis, yakni Garwa Surga atau Gerakan Wanita Sayang Suami dan Keluarga serta program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha atau TJSLBU.

Melalui program Garwa Surga, perusahaan didorong untuk mengedukasi pekerja terkait pentingnya perlindungan jaminan sosial, khususnya bagi anggota keluarga yang bekerja di sektor informal.

Sementara melalui TJSLBU, perusahaan diharapkan dapat membantu pembiayaan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan seperti nelayan, petani, pedagang kecil hingga pelaku UMKM.

"Kolaborasi antara HRD, pemerintah dan dunia usaha sangat penting untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan, sekaligus meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan tenaga kerja," kata Ilham. **