Harga Ikan Naik, Momentum Panen Dinilai Ideal untuk Menu MBG

Harga ikan di Tegal naik akibat pasokan terbatas pasca Lebaran. Nelayan mulai melaut, momentum panen dinilai ideal untuk tekan biaya menu MBG.
TEGAL, puskapik.com - Harga sejumlah jenis ikan di Tempat Pelelangan Ikan, Pelabuhan Perikanan Nusantara atau PPN Tegalsari, Kota Tegal, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini dipicu terbatasnya pasokan setelah sebagian nelayan baru kembali melaut setelah lebaran.
Salah satu pedagang ikan di TPI PPN Tegalsari, Khunaeni, Rabu 15 April 2026 mengatakan, kenaikan harga terjadi pada beberapa jenis ikan yang cukup diminati masyarakat.
Baca Juga: Polda Jateng Gembleng Ratusan Satpam Tegal
"Ikan tongkol sekarang Rp 35 ribu per kilogram, sebelumnya Rp 25 ribu. Ikan teros juga naik jadi Rp 25 ribu, dulu kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu," ujar Khunaeni.
Sementara itu, untuk jenis ikan lainnya seperti etong dan pihi, harga relatif stabil.
Ikan etong masih berada di kisaran Rp 27 ribu per kilogram, sedangkan ikan pihi bertahan di harga Rp 35 ribu per kilogram.
Baca Juga: Menu MBG Disorot, HNSI Minta SPPG Jaga Kualitas dan Nilai Gizi
Menurut Khunaeni, kenaikan harga ini disebabkan pasokan ikan yang belum kembali normal.
Banyak nelayan yang baru mulai melaut sehingga hasil tangkapan belum melimpah di pasaran.
"Pasokan masih kurang karena nelayan baru pada melaut. Biasanya nanti normal lagi sekitar satu sampai dua bulan ke depan," kata Khunaeni.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia atau HNSI Jawa Tengah, Riswanto mengatakan, fluktuasi harga ikan merupakan hal yang wajar karena sangat bergantung pada musim tangkap dan ketersediaan pasokan.
Menurut Riswanto, kondisi saat ini masih dalam fase awal aktivitas melaut pasca Lebaran.
Dalam waktu sekitar satu hingga dua bulan ke depan, produksi ikan diperkirakan meningkat, sehingga berpotensi menekan harga di pasaran.
"Kalau sudah masuk masa panen atau tangkapan melimpah, biasanya terjadi penumpukan produksi. Itu momen yang bisa dimanfaatkan karena harga cenderung turun," ujar Riswanto.
Riswanto menambahkan, kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan penting bagi pengelola SPPG dalam menyusun strategi pengadaan bahan baku, khususnya untuk mendukung program MBG dengan menu ikan.
Riswanto menyebut, nelayan di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah umumnya menghasilkan berbagai jenis ikan, mulai dari ikan demersal seperti kakap merah, kerapu, kurisi hingga ikan pelagis seperti tongkol, tuna dan tenggiri.
Jenis-jenis ikan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai menu MBG, baik dalam bentuk segar maupun olahan seperti fillet, nugget atau bakso ikan.
"SPPG bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran. Mau ambil langsung dari nelayan atau lewat pengolahan, tinggal dihitung efisiensinya," kata Riswanto.
Pria berkacamata ini juga menilai, waktu pembelian bahan baku menjadi faktor penting agar program berjalan efektif.
Pembelian saat produksi melimpah dinilai dapat menekan biaya sekaligus memastikan ketersediaan pasokan.
"Kalau belanja di saat musim ikan, tentu lebih menguntungkan. Karena harga lebih rendah dan stok melimpah," jelas Riswanto.
Diketahui, pemerintah berencana menjadikan Jawa Tengah, sebagai percontohan menu ikan dalam program MBG yang diberikan dua kali dalam sepekan.
Karena itu, stabilitas harga dan pasokan ikan menjadi faktor krusial dalam mendukung keberlanjutan program tersebut.
Meski saat ini harga masih mengalami kenaikan, pelaku usaha perikanan optimistis kondisi akan berangsur normal seiring meningkatnya aktivitas melaut dalam beberapa pekan ke depan.
"Kalau sudah banyak yang melaut, biasanya ikan mulai banyak lagi dan harga ikut turun," tegas Khunaeni. **



