Menu MBG Disorot, HNSI Minta SPPG Jaga Kualitas dan Nilai Gizi

HNSI Jateng soroti menu MBG, minta SPPG jaga kualitas dan nilai gizi. Program dinilai strategis, perlu pengawasan agar tepat sasaran dan optimal.
TEGAL, puskapik.com - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG tak luput dari sorotan.
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Tengah, mengingatkan agar kualitas menu yang disajikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG benar-benar sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Ketua HNSI Jawa Tengah, Riswanto, menegaskan bahwa program MBG merupakan kebijakan strategis yang harus dijalankan secara serius, tidak sekadar menjadi program formalitas.
Baca Juga: Tak Keluar Rumah 3 Hari, Pria di Cilibur Paguyangan Ditemukan Meninggal di Kamar
"MBG ini bukan sekadar slogan. Pelaksanaannya harus sesuai dengan arahan Presiden, terutama dari sisi kualitas dan nilai gizi yang diterima masyarakat," ujar Riswanto, Rabu 15 April 2026.
Sorotan tersebut menguat seiring rencana pemerintah menjadikan Jawa Tengah, sebagai daerah percontohan menu ikan dalam program MBG, yang ditargetkan hadir dua kali dalam sepekan.
Menurut Riswanto, kebijakan ini akan sangat baik jika diiringi dengan pengelolaan yang tepat.
Baca Juga: Keamanan Jadi Prioritas Utama Pilkades Serentak di Pemalang
Riswanto menilai, penggunaan bahan baku ikan berpotensi meningkatkan nilai gizi penerima manfaat.
Namun, implementasinya harus benar-benar diawasi agar kualitas makanan yang disajikan tetap terjaga.
"Kalau memang menu ikan ini diterapkan, tentu harus dipastikan kualitasnya. Jangan sampai tidak sesuai dengan standar gizi yang diharapkan," kata Riswanto.
Riswanto juga menyoroti sejumlah tampilan menu MBG yang beredar di media sosial dan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan standar yang diinginkan.
Karena itu, lanjut Riswanto, perlu ada evaluasi terhadap pengelolaan program di tingkat SPPG.
"Jangan sampai apa yang disajikan tidak sesuai dengan yang dilaporkan. Ini perlu dievaluasi agar program benar-benar tepat sasaran dan memenuhi kebutuhan gizi penerima," ujar Riswanto.
Riswanto menambahkan, penerima manfaat MBG mayoritas merupakan generasi muda yang membutuhkan asupan gizi optimal.
Oleh karena itu, kualitas makanan yang disajikan harus menjadi perhatian utama.
Selain itu, pengelolaan SPPG dinilai perlu didukung sistem yang terukur, mulai dari perencanaan anggaran, pemilihan bahan baku hingga proses distribusi makanan.
Riswanto juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah serta pelaku usaha lokal agar pelaksanaan program berjalan optimal.
"Semua pihak harus terlibat. Dengan begitu, program ini tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tapi juga memberi dampak ekonomi yang luas," kata Riswanto.
Dengan pengelolaan yang tepat, Riswanto optimistis program MBG, termasuk rencana menu ikan dua kali sepekan di Jawa Tengah, dapat berjalan sesuai tujuan.
"Harapannya, program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik dari sisi gizi maupun ekonomi," pungkas Riswanto. **



