Puluhan Warga Kota Tegal Antusias Nonton Bareng Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 23.21
Nonton film Pesta Babi di Kota Tegal
Puluhan warga nonton pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kota Tegal, Sabtu 16 Mei 2026 malam

Puluhan warga menonton pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kota Tegal berlangsung pada Sabtu 16 Mei 2026 malam di sebuah kafe di kawasan Jalan Melati, Kelurahan Kejambon, Tegal Timur.

TEGAL, puskapik.com - Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kota Tegal berlangsung pada Sabtu 16 Mei 2026 malam.

Acara nonton bareng (nobar) digelar di sebuah kafe di kawasan Jalan Melati, Kelurahan Kejambon, Kecamatan Tegal Timur.

Sejak pukul 18.00 WIB, puluhan warga mulai memadati lokasi, hingga sebagian penonton meluber ke area depan kafe.

Baca Juga: Plt Bupati Pekalongan Sukirman Minta Camat dan Kades Berikan Pendampingan KDKMP

Film mulai diputar sekitar pukul 19.00 WIB dan berakhir menjelang pukul 21.00 WIB.

Kepadatan penonton sempat membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi tersendat, lantaran sebagian kendaraan harus melambat melewati kerumunan.

Meski begitu, suasana tetap tertib. Tidak terlihat adanya gangguan selama pemutaran hingga sesi diskusi usai film.

Sejumlah penonton tampak larut secara emosional. Beberapa di antaranya bahkan meneteskan air mata saat berbagi kesan setelah pemutaran.

Seorang penonton mengungkapkan, praktik eksploitasi alam seperti yang digambarkan dalam film sebenarnya bukan hal baru.

Menurutnya, fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia.

“Dari dulu pola-pola seperti ini sudah ada. Di banyak tempat, masyarakat harus berhadapan langsung dengan alat berat demi mempertahankan tanah mereka,” ujarnya.

Baca Juga: Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana di Pemalang Sasar Sekolah yang Berada di Lereng Gunung Slamet

Dia juga menyinggung situasi yang digambarkan dalam film, termasuk kisah warga yang harus menghadapi tekanan besar dalam kondisi rentan.

Film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale ini mengangkat cerita perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.

Melalui pendekatan dokumenter, film tersebut menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat ekspansi industri, mulai dari perkebunan sawit, tebu hingga proyek pangan skala besar.

Selain menggambarkan dampak sosial dan lingkungan, film ini juga menelusuri keterkaitan kepemilikan bisnis di balik proyek-proyek tersebut, termasuk pihak-pihak yang menikmati keuntungan terbesar.

Karya ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah lembaga, di antaranya WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace serta LBH Papua Merauke.

Panitia penyelenggara, Faiz menuturkan, kegiatan nonton bareng ini berangkat dari tingginya perhatian publik Tegal terhadap film tersebut di media sosial.

Menurut Faiz, sebagai pihak yang bergerak di bidang literasi, pihaknya merasa pemutaran film itu masih sangat relevan untuk dilakukan.

"Awalnya kami melihat animo masyarakat di media sosial cukup besar terhadap film ini. Dari situ muncul keinginan untuk mengetahui langsung, sebenarnya apa isi dan pesan yang ingin disampaikan," ujar Faiz.

Faiz menjelaskan, panitia kemudian berinisiatif menghubungi pihak terkait untuk mengajukan izin pemutaran film tersebut.

Permohonan itu akhirnya disetujui, dengan tujuan agar masyarakat dapat mengakses dan memahami isi film secara utuh.

"Film ini tidak bisa diakses secara bebas, harus melalui izin khusus. Justru karena itu, kami merasa penting untuk menghadirkannya, supaya kita bisa sama-sama tahu dan memahami lebih dalam," kata Faiz.

Sementara itu, perwakilan panitia lainnya, Irfan, menambahkan bahwa kegiatan ini juga sejalan dengan semangat yang dibangun melalui akun media sosial mereka.

Irfan menegaskan, platform tersebut bukan sekadar komunitas, melainkan ruang kolektif untuk membangun kesadaran bersama, khususnya di kalangan anak muda.

"Momentum ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Kami melihat ini sebagai cara untuk merawat kesadaran kolektif dengan pendekatan yang lebih luas dan masif," pungkas Irfan.***