Sedimentasi Tebal Picu Genangan, DPUPR Tegal Normalisasi Drainase

Minggu, 20 September 2026 | 14.02
Tim PSDA Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Tegal, mengeruk endapan sedimentasi drainase Jalan HOS Cokroaminoto, Minggu 20 September 2026.
Tim PSDA Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Tegal, mengeruk endapan sedimentasi drainase Jalan HOS Cokroaminoto, Minggu 20 September 2026.

Sedimentasi hingga 45 sentimeter dan sumbatan sampah memicu genangan di Kota Tegal. DPUPR melakukan normalisasi drainase Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Semeru.

TEGAL, puskapik.com - Sedimentasi setebal hingga 45 sentimeter ditemukan di saluran drainase Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Tegal.

Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama genangan air saat hujan turun dan debit air saluran Gajah Mada tinggi.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Tegal pun melakukan normalisasi saluran sejak awal pekan ini.

Kegiatan difokuskan pada ruas-ruas jalan protokol di tengah kota yang kerap terdampak genangan.

Baca Juga: 1.100 Pelari Pemanasan Menuju Satu Dekade Borobudur Marathon

Sub Koordinator Pemeliharaan PSDA DPUPR Kota Tegal, Wahyu Adi Sutopo mengatakan, kondisi saluran di sejumlah titik sudah mengalami penyumbatan cukup parah.

"Sedimentasi salurannya tebal, ditambah sumbatan sampah dan limbah dari beberapa pemilik usaha kuliner di lokasi," ujar Wahyu, Minggu 20 September 2026.

Dari pantauan lapangan, pekerjaan normalisasi juga terlihat di Jalan Semeru pada Jumat 18 September 2026 dan berlanjut di Jalan HOS Cokroaminoto pada Minggu.

Baca Juga: Tak Sekadar Cetak Pengusaha, Namun Bidik Pebisnis Muslim Perkuat Ekonomi Muhammadiyah Kendal

Di ruas Jalan HOS Cokroaminoto, sedimentasi mencapai sekitar 45 sentimeter pada saluran dengan panjang kurang lebih 313 meter.

Kondisi tersebut memperburuk aliran air, terutama saat curah hujan tinggi.

Sementara itu, di Jalan Semeru, saluran dengan panjang sekitar 511 meter juga mengalami permasalahan serupa.

Ukuran drainase yang relatif lebih kecil, membuat genangan lebih mudah terjadi ketika aliran air terhambat.

Wahyu menjelaskan, kegiatan pemeliharaan drainase sebenarnya telah rutin dilakukan sejak awal Januari 2026.

Selain pengerukan endapan pasir, petugas juga memperbaiki bagian talud yang mengalami kerusakan.

Normalisasi ini melibatkan dua tim, masing-masing terdiri atas 12 personel.

Lebih lanjut, Wahyu menyebut pihaknya telah melaporkan temuan terkait pembuangan limbah usaha ke saluran kepada pimpinan.

"Harapannya ada tindaklanjut, agar tidak ada lagi limbah maupun sampah yang langsung dibuang ke drainase," ucap Wahyu.

Upaya tersebut diharapkan mampu mengembalikan fungsi saluran air dan mengurangi potensi genangan di kawasan perkotaan. **