Sudirman Said Masuk Daftar 20 Besar Tokoh dalam Studi Kepemimpinan Nasional SMRC

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said masuk 20 besar tokoh studi kepemimpinan nasional SMRC. Rektor UHN Tegal ini raih skor 6,3 dari 200 pemuka pendapat.
TEGAL, puskapik.com - Rekam jejak di pemerintahan dan profesional, menjadi aspek penilaian studi kualitas kepemimpinan nasional demokratik-transformatif yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting atau SMRC.
Dalam studi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral periode 2014-2026 Sudirman Said, menempati peringkat ke-17 dari 31 tokoh yang dinilai.
Rektor Universitas Harkat Negeri Kota Tegal ini, memperoleh skor rata-rata 6,3 dalam skala 0-10.
Hasil studi tersebut menempatkan Sudirman di antara sejumlah tokoh nasional dari berbagai latar belakang, mulai dari politikus, mantan pejabat pemerintahan, akademisi hingga aktivis masyarakat sipil.
Baca Juga: Keluarga Pastikan Kabar Viral Perempuan Korban KDRT di Kabupaten Tegal Tidak Benar
Mahfud MD menempati posisi teratas dengan skor 7,6.
Sejumlah nama lain yang berada di kelompok atas antara lain Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan, Dedi Mulyadi, Zainal Arifin Mochtar dan Pramono Anung Wibowo, yang masing-masing memperoleh skor 7,0.
Pendiri SMRC Saiful Mujani menjelaskan, studi tersebut dilakukan untuk menilai kualitas kepemimpinan nasional yang demokratis dan transformatif menjelang Pemilihan Umum 2029.
"Itu temuan kami dari studi opinion leader ini tentang kualitas kepemimpinan nasional demokratik transformatif menjelang 2029," kata Saiful, yang juga Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin 19 Oktober 2026.
Penilaian tidak hanya didasarkan pada kemampuan seseorang dalam menjalankan kepemimpinan.
Studi tersebut juga mempertimbangkan kualitas personal dan komitmen terhadap prinsip demokrasi serta kepentingan publik.
Ada sepuluh aspek yang digunakan, yakni kapabilitas atau kompetensi, empati, integritas, akseptabilitas, sikap pluralis dan inklusif, kemampuan memimpin, komitmen terhadap demokrasi, komitmen terhadap kesejahteraan umum, komitmen terhadap profesionalisme angkatan bersenjata dan kepolisian serta komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif.
Seluruh aspek tersebut digunakan untuk menghitung skor rata-rata setiap tokoh dalam skala 0-10.
Dalam konteks ini, skor yang diperoleh masing-masing tokoh menggambarkan penilaian responden terhadap sejumlah dimensi kepemimpinan yang telah ditetapkan.
Hasilnya tidak semata-mata mengukur popularitas ataupun tingkat keterpilihan politik.
SMRC menjelaskan, penilaian kualitas personal membutuhkan responden yang memiliki pengetahuan tentang seluruh tokoh yang dibandingkan.
Dengan demikian, penilaian diharapkan dilakukan secara setara atau apple to apple, bukan berdasarkan pengenalan terhadap sebagian tokoh saja.
Studi tersebut melibatkan 200 opinion leaders atau pemuka pendapat yang terdiri atas 166 akademisi dan ilmuwan dari berbagai bidang serta 34 jurnalis.
Kelompok responden mencakup intelektual publik, akademisi, pengamat, pimpinan media massa cetak, elektronik dan daring serta jurnalis senior yang terbiasa menjadi narasumber media.
Responden dihimpun melalui metode snowballing, terutama dengan menelusuri media massa nasional dan daerah.
Dari seluruh responden, sebanyak 149 orang bersedia namanya dipublikasikan sebagai penilai.
SMRC menegaskan bahwa pemilihan responden tidak dilakukan secara acak terhadap populasi opinion leaders.
Karena itu, hasil studi tersebut lebih bersifat deskriptif daripada inferensial.
Karakteristik metode ini menjadi konteks penting dalam membaca hasil penilaian.
Skor yang dihasilkan mencerminkan evaluasi kelompok responden yang memenuhi kriteria studi, bukan gambaran statistik tentang pandangan seluruh masyarakat Indonesia.
Sudirman Said merupakan tokoh yang pernah menjabat Menteri ESDM pada 2014-2016.
Setelah berkiprah di tingkat nasional, Sudirman kini memimpin Universitas Harkat Negeri, perguruan tinggi yang berlokasi di Kota Tegal.
Di lingkungan perguruan tinggi, kepemimpinan memiliki tantangan yang berbeda dari pemerintahan.
Selain mengelola institusi, pimpinan kampus dituntut membangun kualitas pendidikan, memperkuat kapasitas akademik dan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Baca Juga: Diikuti 280 Peserta, Jambore Pemuda Jateng 2026 Jadi Wadah Asah Kreativitas dan Bakat
Universitas Harkat Negeri pada 2026 memperoleh penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Terproduktif Skema Insentif pada Klaster V dalam PKM Award yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Capaian institusi tersebut menjadi bagian dari rekam jejak kepemimpinan Sudirman di lingkungan pendidikan tinggi.
Namun, penghargaan perguruan tinggi dan skor dalam studi SMRC merupakan dua indikator berbeda dengan konteks penilaian masing-masing.
Studi SMRC sendiri menempatkan kualitas kepemimpinan sebagai persoalan multidimensi, mencakup kompetensi, integritas, kemampuan memimpin serta komitmen terhadap demokrasi dan kesejahteraan umum.
Hasilnya memberikan gambaran tentang bagaimana sejumlah tokoh dinilai oleh kelompok pemuka pendapat berdasarkan dimensi-dimensi tersebut.***
Artikel Terkait

Kodim Pemalang Perkuat Sinergi Masyarakat untuk Cegah Konflik Sosial

Keluarga Pastikan Kabar Viral Perempuan Korban KDRT di Kabupaten Tegal Tidak Benar

Diikuti 280 Peserta, Jambore Pemuda Jateng 2026 Jadi Wadah Asah Kreativitas dan Bakat
