Tegal Kota Pesisir Jadi Pusat Studi Universitas Harkat Negeri dan Rujak Center Luncurkan PKPP

Sabtu, 25 April 2026 | 14.39
Ilustrasi Tegal Kota Pesisir
Ilustrasi Tegal Kota Pesisir

Universitas Harkat Negeri Tegal bekerja sama dengan Rujak Center for Urban Studies meluncurkan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) sebagai respons terhadap kompleksitas masalah kawasan dan wilayah perkotaan pesisir yang berada di garis depan dampak perubahan iklim.

TEGAL, puskapik.com - Universitas Harkat Negeri Tegal bekerja sama dengan Rujak Center for Urban Studies meluncurkan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) sebagai respons terhadap kompleksitas masalah kawasan dan wilayah perkotaan pesisir yang berada di garis depan dampak perubahan iklim.

Pendirian Pusat Kajian Perkotaan Pesisir ini mempunyai dua sisi strategis, yakni penanganan masalah ekologis dan meningkatkan gerak ekonomi berbasis ekonomi dan budaya pesisir.

Mendorong penelitian dan implementasi temuan riset menjadi kebijakan dan solusi yang kontekstual, terukur, dan dapat direplikasi, melalui penguatan tata kelola pengetahuan dan kapasitas daerah, PKPP berupaya membangun kontribusi yang relevan dan berdampak menghadapi tantangan perkotaan pesisir terkait dengan berbagai masalah yang ada mulai dari perubahan cuaca sampai perencanaan tata kota.

Baca Juga: Kodim 0712 Tegal Gerebek Warung Obat Ilegal di Martoloyo, Ratusan Pil Disita

Tegal sebagai kota sekunder di Indonesia menjadi wilayah riset, penanganan ekologi yang diharapkan memberi dampak langsung dari sisi ekologi dan ekonomi, menjadi salah satu alasan kuat terbentuknya Pusat Kajian ini.

Karena itu, Sekretaris Daerah Kota Tegal drg. Agus Dwi Sulistyantono menyambut baik kolaborasi Universitas Harkat Negeri dan Rujak Center yang mendirikan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir.

Dia meyakini bahwa kebijakan pemerintah akan semakin optimal jika dikolaborasikan dengan

ilmu pengetahuan melalui institusi pendidikan serta pelibatan masyarakat.

"Bagaimana wilayah pesisir bisa memiliki ketahanan yang baik terhadap dampak perubahan iklim, terutama kenaikan muka air laut dan kenaikan suhu. Apakah solusi yang diambil Pemkot masih relevan hingga saat ini. Inilah pentingnya kerjasama dengan pihak Universitas seperti PKPP Universitas Harkat Negeri ini sehingga masyarakat pesisir bukan hanya sebagai objek, tetapi menjadi subjek yang terlibat dalam tata kelola,"jelas Agus Dwi Sulistyantono sesaat setelah peresmian Pusat Kajian ini.

Adapun Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said menyampaikan, PKPP adalah pusat studi yang pertama didirikan dan yang diresmikan kedua setelah Pusat studi Sustainabilitas yang diluncurkan Januari 2026 lalu.

"Kota Tegal sebagai kota sekunder di Indonesia dan juga kota pesisir dijadikan pusat riset yang dapat

menjadi pembelajaran bagi kota-kota di Indonesia tapi juga kota-kota pesisir di dunia,” jelas Sudirman Said.

Selanjutnya ia juga menggaris bawahi ambisi untuk menjadikan Universitas Harkat Negeri sebagai kampus yang berdampak konkret bagi kehidupan masyarakat.

Dijelaskan Sudirman Said, literasi dilakukan tidak hanya di ruang ruang studi tapi juga adanya interaksi yang lebih luas sehingga aksi nyata segera dapat tercapai menjawab tantangan yang ada.

Ini program yang Universitas canangkan dalam pembentukan pemimpin dengan kapasitas pemikiran strategis dan kemampuan kerja nyata.

Baca Juga: Hasilkan Sapi Premium, Berkah Setia Farm Jadi Percontohan Lumbung Ternak Jateng

PKPP dibentuk sebagai wadah pengembangan pengetahuan, pembelajaran, serta kerja sama lintas pemangku kepentingan.

PKPP berfokus pada kajian dan penguatan kapasitas kota-kota pesisir di Indonesia, khususnya kota-kota sekunder yang mengalami pertumbuhan pesat dan menghadapi kerentanan tinggi terhadap risiko perubahan iklim yang semakin kompleks.

Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 8.000 desa yang langsung berbatasan dengan air laut dengan jumlah penduduk 16 juta lebih jiwa; setidaknya 219 kabupaten dan kota yang berbatasan dengan laut, Dalam jarak 50 kilometer dari garis pantai, paling tidak 132 juta jiwa warga Indonesia atau 60% dari total populasi Indonesia.

Mereka adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Setidaknya 20 tahun terakhir air laut meningkat sehingga dampak yang terasa sampai sekarang adalah mulai dari banjir rob, naiknya permukaan air laut, terganggunya ekosistem sampai terganggunya pola produksi masyarakat pesisir karena juga terjadinya peningkatan suhu bumi yang diakibatkan oleh industri bahkan oleh program program seperti reklamasi yang mengurangi ruang bagi air laut.

“Pesisir adalah untaian horisontal pusat kehidupan dan vertikal dari hulu ke hilir pada geografi kepulauan seperti Indonesia. Ini yang menjadikan pesisir wilayah penting yang harus diperhatikan oleh semua pihak karena mempengaruhi kehidupan tidak hanya bagi masyarakat pesisir tentu saja yang akan pertama kali terdampak akan tetapi juga kehidupan bagi semua.

"PKPP diposisikan sebagai pusat kajian aksi yang menghasilkan ilmu pengetahuan agar dapat menjadi dasar bagi pencarian solusi yang mengedepankan pendekatan ko-produksi multipihak untuk mewujudkan wilayah pesisir yang berketahanan, berkeadilan dan lestari”, jelas Marco Kusumawijaya, Direktur PKPP.

Sebagai simpul pengetahuan, pusat ini mengintegrasikan riset terapan, praktik kebijakan, serta pengalaman hidup masyarakat pesisir dalam suatu kerangka yang terpadu.

Melalui pendekatan tersebut, lanjut dia, pusat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat sipil dalam merespons krisis iklim secara efektif, melibatkan semua, dan berkeadilan sosial,dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keberlanjutan ekologi.

Selain itu, pusat kajian ini diharapkan dapat berperan sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan praktik baik antar kota pesisir, serta mendorong terbentuknya kerjasama yang lestari dalam pengembangan strategi adaptasi yang kontekstual dan berdampak nyata.***