Warga Panggung Harap Kebijakan PT KAI Tunda Pembongkaran Rumah, Ini Alasannya

Kamis, 15 Januari 2026 | 13.06 WIB
Permukiman RT 17 dan 18/ RW 07 Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, akan diratakan untuk pengembangan Depo Tegal.
Permukiman RT 17 dan 18/ RW 07 Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, akan diratakan untuk pengembangan Depo Tegal.

Warga Panggung Tegal minta PT KAI tunda pembongkaran rumah hingga usai Lebaran dan tahun ajaran baru demi kesiapan mental anak.

TEGAL, puskapik.com - Warga RT 17 dan RT 18 RW 07 Kelurahan Panggung, Kota Tegal, memohon kebijakan kepada PT KAI agar pembongkaran rumah hunian yang berdiri di atas aset perusahaan negara tersebut dapat ditunda hingga setelah Lebaran dan tahun ajaran baru.

Permohonan itu disampaikan warga dalam lanjutan sosialisasi rencana pengembangan Depo Tegal di Balai Kelurahan Panggung, Kamis 15 Januari 2026.

Warga mengaku belum siap jika proses pembongkaran dilakukan dalam waktu dekat, karena dikhawatirkan berdampak pada kondisi psikologis anak-anak mereka.

Baca Juga: Puluhan Rumah di Kelurahan Panggung Terdampak Rencana Pengembangan Depo Tegal

Salah satu warga, Rusdianto mengatakan, pihaknya tidak menampik bahwa rumah yang ditempati selama ini berdiri di atas aset PT KAI.

Kehadiran warga dalam sosialisasi, menurutnya, sebagai bentuk penghormatan dan kesiapan menerima informasi resmi terkait rencana pengembangan depo.

"Kami paham ini aset PT KAI. Kami juga datang untuk mendengarkan sosialisasi," ujar Rusdianto.

Namun demikian, Rusdianto berharap PT KAI dapat memberikan waktu tambahan kepada warga.

Baca Juga: Jalur Evakuasi Jasad Syafiq Ridhan Ali Razan dari Gunung Slamet Diubah

Pensiunan PT KAI ini juga mengingatkan pengalaman pembongkaran rumah di RT 19 beberapa tahun lalu yang berlangsung sangat cepat.

"Waktu itu kurang dari dua jam, bangunan sudah rata dengan tanah ketika alat berat diturunkan. Kami khawatir anak-anak kami tidak siap secara mental," ungkap Rusdianto.

Rusdianto secara khusus memohon agar pembongkaran ditunda hingga anak-anak menyelesaikan tahun ajaran baru.

"Kami mohon kebijakan. Jangan sampai anak-anak trauma karena harus kehilangan rumah di tengah sekolah," tutur Rusdianto.

Permohonan serupa disampaikan warga lainnya, Sukarti. Dengan suara lirih, Sukarti mengaku masih diliputi kebingungan sejak menerima kabar rencana pembongkaran rumah.

"Terus terang saya hanya bisa menangis. Setelah Lebaran nanti anak saya akan menikah. Kalau sekarang kami harus pergi, saya tidak tahu harus bagaimana," kata Sukarti.

Sementara itu, Ketua RT 17 Herlina menyebutkan, di wilayahnya terdapat lima rumah yang terdampak rencana pengembangan Depo Tegal.

Lina mengaku tidak mengetahui secara pasti sejak kapan warganya menempati rumah di atas lahan PT KAI.

"Setahu saya dulu hanya ada tiga rumah. Tapi sekarang yang terdampak ada lima," ujar Lina.

Lina menambahkan, mayoritas warga RT 17 tidak memiliki tempat tinggal alternatif dan akan kembali menumpang di rumah orang tua masing-masing.

"Mau tidak mau ya balik ke orang tua, tinggal di rumah tumpeng," kata Lina.

Menanggapi aspirasi warga, Manajer Penjagaan Aset PT KAI Daop 4 Semarang, Rifialda mengatakan, seluruh usulan akan diterima dan disampaikan kepada pimpinan untuk dipertimbangkan.

Baik usulan penundaan pembongkaran hingga Lebaran dan tahun ajaran baru, maupun permintaan agar warga diberi kesempatan membongkar rumah secara mandiri agar sebagian material dapat diselamatkan.

"Akan kami sampaikan ke pimpinan. Kami memahami kondisi dan usulan warga, namun keputusan tetap berada di manajemen. Harapannya rencana ini bisa berjalan lancar dan warga tetap menerima apa yang dapat diberikan," jelas Rifialda. **

Artikel Terkait