Inilah Cerita Menarik Sumurpanggang Tegal

Kamis, 9 April 2026 | 19.55 WIB
Polsek Sumurpanggang
Polsek Sumurpanggang

Sumurpanggang di Tegal, kini Kelurahan di Margadana, lahir dari legenda begal Jamaludin yang tubuhnya dipanggang di sumur, memberi nama wilayah itu.

TEGAL,puskapik.com - Nama Sumurpanggang, yang menjadi salah satu wilayah Kelurahan di Kecamatan Margadana, Kota Tegal, kembali menarik perbincangan sejumlah kalangan.

Itu setelah nama Polsek Sumurpanggang, berubah menjadi Polsek Margadana.

Sebuah perjalanan cukup panjang untuk sebuah perubahan penamaan. Mengingat nama Sumurpanggang atau kerap disingkat Sumpang, menjadi bagian cukup menarik dari nukilan legenda di bagian cerita Babad Tanah Jawa.

Baca Juga: Di Tengah Kota Bumiayu, Tersimpan Jejak Kehidupan Purba 1,8 Juta Tahun Lalu

Di sisi lain, dalam perjalanannya, penggunaan penamaan wilayah itu, telah cukup lama dipertahankan untuk sebuah nama desa, hingga berubah menjadi nama status administratif kewilayahannya, menjadi bernama kelurahan. Kemudian tetap dipertahankan ketika menjadi sebuah nama kantor atau markas sektor kepolisian alias Polsek.

Perlu diketahui, untuk perubahan nama wilayah administratif Desa menjadi Kelurahan, terjadi setelah nama Kotamadya Tegal berubah menjadi Kota Tegal, pada awal era reformasi. Sesuai aturan, memang seluruh Desa di Kota Tegal harus berubah statusnya menjadi Kelurahan.

Baca Juga: Pelaksanaan Pilkades Pemalang Sistem TPS Terpisah Sesuai Aturan

Meski begitu, dari sejak awal penamaan Polsekta Sumurpanggang di bawah wilayah hukum Polresta Tegal, hingga markas kepolisian itu berubah menjadi Polres Tegal Kota, namanya tetap dipertahankan. Hanya penamaan polsekta berubah menjadi polsek. Lengkapnya menjadi Polsek Sumurpanggang.

Sudah berpuluh tahun nama Polsek Sumurpanggang dipertahankan. Bahkan sempat mencuatkan pertanyaan, mengapa tidak bernama Polsek Margadana. Seperti nama polsek lain yang menyesuaikan nama wilayah kecamatan.

Contohnya nama Polsek Tegal Timur yang berada di wilayah Kecamatan Tegal Timur. Polsek Tegal Barat yang berada di wilayah administratif Kecamatan Tegal Barat. Demikian pula Polsek Tegal Selatan, menyesuaikan namanya dengan wilayah Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal.

MENGABULKAN USULAN

Setelah cukup lama jadi bahan pertanyaan, barulah pada 2023, terjadi usulan perubahan nama polsek tersebut menjadi Polsek Margadana. Kapolda Jateng akhirnya, mengabulkan usulan itu setelah melalui tahapan verifikasi dan pertimbangan cukup ketat dan njelimet. Nama Polsek Sumurpanggang kini telah berubah menjadi Polsek Margadana.

Peresmian dan pengukuhan nama baru polsek itu dilakukan langsung Kapolres Tegal Kota AKBP Heru Antariksa Cahya SIK MH, di Mapolsek Margadana, Senin, 30 Maret 2026. Hal itu merujuk pada Keputusan Kapolda Jawa Tengah Nomor KEP/316/II/2026 tertanggal 19 Februari 2026.

Menurut Kapolres Tegal Kota, langkah tersebut bukan sekadar pergantian nama. Melainkan bagian dari strategi peningkatan kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat. ''Ini bagian dari optimalisasi pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat,'' terang dia.

Hal yang perlu diingat, nama wilayah administratif kelurahan, tetap tak berubah, dengan nama Kelurahan Sumurpanggang, di bawah wilayah Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Itulah, salah satu sebab, sosok Sumurpanggang, kembali menjadi bahan perbincangan menarik.

Bila menarik benang merah cukup panjang, memang ada nukilan dari cerita Babad Tanah Jawa, berkait kelahiran penamaan wilayah itu. Dari legenda kelahiran atau penamaan wilayah tersebut, ternyata berasal dari sebuah kisah yang terjadi di Desa Balamoa, Kabupaten Tegal.

Di wilayah itu, dipercaya pernah hidup seorang jagoan kondang, yang sepak terjangnya kerap ditakuti para pedagang. Karena jagoan yang dikenal memiliki kesaktian cukup tinggi, kerap merampas barang dagangan atau hasil dari jerih payah pedagang.

Aksi kejahatan itu kerap pula disebut dengan begal, dan sosok jagoan bernama Jamaludin itu, dikenal pula merupakan salah satu putra dari Sultan Trenggono, yang lahir dari seorang garwo selir yang memilih membangkang.

Sayangnya kesaktian tinggi yang dimiliki putra selir itu, justru digunakan untuk membuat onar dan gelisah masyarakat. Yakni, untuk merampok pedagang yang melintas di sekitar Pasar Balamoa dan wilayah Tegal lainnya.

SULTAN DEMAK

Geliat sang begal yang sudah tak terbendung, dan kian meresahkan masyarakat, khususnya para pedagang, akhirnya sampai ke telinga Sultan Demak.

Sang Sultan marah besar, dan tak ingin keresahan yang menimpa warga berlarut-larut tanpa solusi.

Sampai akhirnya, sang sultan pun kemudian mengutus seorang pemuda bernam Raden Sahid untuk menangkapnya.

Raden Sahid saat sampai di Tegal, lebih memilih menyembunyikan jati dirinya. Dia mengganti namanya menjadi Lokajaya, agar dapat secepatnya menemukan sosok begal yang kerap meresahkan masyarakat itu.

Ternyata sosok begal yang meresahkan masyarakat, memang bukanlah orang sembarangan.

Alias tak bisa dianggap remeh. Terbukti berkali ulang dilakukan penangkapan, Jamaludin selalu saja dapat lolos dari penyergapan. Itu lantaran kesaktian yang dimilikinya, mampu memperdaya sekelompok orang yang akan menangkapnya.

Utusan Sultan Demak pun, yakni Lokajaya, sempat dibuat bertanya-tanya. Kesaktian seperti apa sebenarnya yang dimiliki sang begal itu.

Berbagai pencarian jawaban telah dilakukan, tapi tetap saja yak menemukan hasil yang diharapkan.

Akhirnya, di suatu malam, Lokajaya memilih bermunajat dan menyendiri di sebuah tepi Sungai Kemiri.

Di saat seperti itu, dia tiba-tiba bertemu dengan sosok yang dipercaya adalah Nabi Khidir AS, dan menerima sejumlah petunjuk.

Lokajaya pun mendapat petunjuk dan kesaktian dari Nabi Khidir AS, untuk menghadapi sosok Jamaludin yang selama ini penuh misteri. Singkat cerita kemudian keduanya bertemu dalam sebuah pertunjukkan Tari Ronggeng.

PERTARUNGAN SENGIT

Di tempat itulah, terjadi pertarungan sengit antara keduanya. Aksi saling unjuk kesaktian menjadi tontonan menarik ratusan warga.

Hingga akhirnya terjadi dorong-mendorong cukup kuat, saat saling melontarkan ilmu kejadugan tenaga dalamnya.

Nah, aksi saling dorong itu, atau dalam bahasa Tegal berarti saling surung atau menyurung, kelak menjadi cikal bakal penamaan wilayah pedesaan bernama Desa Pesurungan. Sekarang desa itu telah berubah menjadi Kelurahan Pesurungan Lor dan Kelurahan Pesurungan Kidul.

Sebagai catatan tambahan, di era setelah kemerdekaan, terutama di sejak tahun 1990 hingga 2003, warga dua desa atau hingga setelah berubah namanya menjadi wilayah kelurahan, sering terlibat bentrok atau perkelahian.

Tapi tiap kali terjadi bentrok, sosok tokoh agama bernama Ustadz Jalil, yang memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi, selalu jadi penengah.

Dia lebih memilih membubarkan bentrokan itu terjadi, dan memohon agar warga dapat menjaga suasana damai dan kondusif.

Kembali ke kisah menuju kelahiran Sumurpanggang. Pertarungan sengit antara Lokajaya dan Jamaludin yang berlangsung hampir semalaman, pun berakhir sesuai harapan warga. Sebab, Jamaludian berhasil ditundukkan Lokajaya.

Agar kesaktian atau kejadugan Jamaludin tak kembali disalahgunakan, Lokajaya berupaya keras untuk menghilangan seluruh kesaktian sang begal asal Balamoa itu.

Salah satu caranya, Lokajaya kemudian memanggang tubuh Jamaludin di atas sebuah sumur.

Sejam saat itulah, nama sumur itu dikenal menjadi Sumur Panggang. Itulah sedikit nukilan kisah legenda kelahiran nama Desa atau Kelurahan Sumurpanggang, yang kini masuk wilayah Kecamatan Margadana, Kota Tegal. **

Artikel Terkait