Sejarah Desa Cempaka Tegal, Sosok Putri Cantik dan Sayembara Tuk Mudal

Rabu, 1 April 2026 | 09.13 WIB
Sejumlah pengunjung bermain air di Tuk Mudal Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. (Dok)
Sejumlah pengunjung bermain air di Tuk Mudal Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, beberapa waktu lalu. (Dok)

Legenda Putri Cempaka dan sayembara Tuk Mudal menjadi asal-usul sumber air unik di Desa Cempaka, Tegal, kini jadi wisata dan penggerak ekonomi warga

TEGAL, puskapik.com - Sosok Putri cantik masih menjadi misteri di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Nama putri yang menjadi nama desa yang berada di lereng Gunung Slamet ini, tak lepas dari cerita rakyat munculnya Tuk Mudal.

Cerita Putri Cempaka sudah melegenda di warga Desa Cempaka dan sekitarnya.

Namun, sosok Putri Cempaka tak ada dalam cerita sejarah tentang asal usul kerajaan sang putri.

Baca Juga: Polres Pekalongan Bersama Unit Jibom Polda Jateng Laksanakan Disposal Bahan Peledak

Namun demikian, cerita rakyat ini bisa dimaknai sebagai simbol kemuliaan, harapan, atau hajat penting.

Karena itu, sebagian masyarakat meyakini bahwa Putri Cempaka merupakan figur lokal yang dimuliakan dalam cerita rakyat, bukan tokoh historis yang dapat ditelusuri secara pasti.

Meski demikian, sosok Putri Cempaka tak lepas dari cerita sayembara munculnya Tuk Mudal yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Desa Cempaka.

Baca Juga: Perayaan Syawalan, Polres Pekalongan Sita 66 Balon Udara dan Petasan

Tak hanya dimanfaatkan airnya, tapi juga menjadi salah satu destinasi wisata andalan Desa Cempaka.

Kisah munculnya Tuk Mudal bermula saat Putri Cempaka menggelar sayembara.

Putri Cempaka menginginkan sebuah sumber mata air atau “tuk” yang bisa digunakan sebagai tempat pemandian. Permintaan itu menjadi perhatian para wali. Mereka kemudian saling bertanya, siapa yang sanggup mewujudkan keinginan sang putri.

Beberapa nama wali itu, diantaranya Mbah Mayakerti, Mbah Raksandana, Mbah Sutawedana, Mbah Camuluk, Mbah Agung, dan Mbah Ajegjaya.

Namun, dalam kisah yang berkembang di masyarakat bahwa Mbah Camuluk yang berhasil membuat mata air sesuai permintaan Putri Cempaka. Mbah Camuluk membuat mata air dengan sebuah tongkat.

Mbah Camuluk dengan penuh keyakinan, ia menancapkan tongkatnya ke sebuah batu besar.

Tak lama setelah itu, dari titik tersebut tiba-tiba muncul air yang memancar deras ke samping, seolah-olah keluar dengan kekuatan yang tak biasa.

Air yang keluar bukan sekadar mengalir, tetapi “mudal” atau menyembur deras. Dari peristiwa inilah kemudian muncul nama Tuk Mudal yang merujuk pada cara munculnya air tersebut.

Beberapa waktu setelah berhasil mewujudkan sumber air itu, Mbah Camuluk dikabarkan meninggal dunia.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, Putri Cempaka meminta agar beliau dimakamkan di wilayah tersebut. Sejak saat itu, kawasan itu dikenal sebagai Desa Cempaka, mengikuti nama sang putri.

Selain kisah tersebut, masyarakat juga mengenal versi legenda lain yang tak kalah menarik.

Ada yang meyakini Tuk Mudal berkaitan dengan permintaan seorang putri raja yang ingin dibuatkan tempat pemandian sebelum menerima pinangan.

Jejak cerita itu diyakini masih tersisa dalam bentuk batu lumpang yang disebut-sebut pernah digunakan sebagai tempat mandi.

Terlepas dari perbedaan versi cerita, satu hal yang tetap sama adalah keyakinan masyarakat terhadap keunikan Tuk Mudal. Mata air ini dianggap berbeda karena kemunculannya yang tidak lazim karena bukan dari bawah tanah, melainkan dari sisi tanah dengan semburan yang kuat.

Keberadaan kisah ini justru memperkuat identitas Tuk Mudal sebagai lebih dari sekadar sumber air. Ia adalah ruang di mana cerita, kepercayaan, dan warisan budaya bertemu.

Hingga kini, air Tuk Mudal masih terus mengalir, seolah mengingatkan bahwa di tempat itu pernah ada sebuah permintaan, sebuah usaha, dan sebuah peristiwa yang kemudian dikenang sebagai awal mula dari Tuk Mudal.

Mantan Kades Cempaka, Abdul Hayyi menuturkan, cerita rakyat Putri Cempaka menjadi legenda yang masih dipercaya keberadaanya.

Sosok Putri Cempaka menjadi simbol semangat manfaat untuk kemaslahatan umat, karena air merupakan sumber kehidupan manusia.

"Semangat ini juga kami bawa untuk mengembangkan Desa Cempaka. Salah satunya menghidupkan ekonomi masyarakat dengan berdirinya Pasar Slumpring," ujarnya.

Seperti diketahui, Pasar Slumpring Desa Cempaka menjadi destinasi wisata favorit masyarakat Tegal dan sekitarnya. Pasar Slumpring yang berada di sebelah Tuk Mudal menjadikan perekonomian masyarakat terus meningkat.

Pasar Slumpring yang buka hanya setiap hari Minggu, sangat unik karena menjajakan makanan tradisional.

Tak hanya itu, alat tukar untuk membeli makanan di Pasar Slumpring juga unik karena menggunakan koin yang terbuat dari bambu.

Setiap koin ditukar dengan uang Rp2.500. Hingga kini, Pasar Slumpring terus berkembang dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan orang setiap Minggu, dan menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat Cempaka. **

Artikel Terkait