Kebutuhan Susu Segar ke PT Nestle Tinggi, Pemkab Batang Buka Peluang Investasi Peternakan Sapi Perah

Kebutuhan susu segar di Kabupaten Batang masih tinggi, pasokan yang tersedia masih kurang untuk memenuhi kebutuhan PT Nestle Indonesia yang mencapai 32 ton
BATANG, puskapik.com - Kebutuhan susu segar di Kabupaten Batang masih tinggi.
Pasokan yang tersedia selama ini masih kurang untuk memenuhi kebutuhan PT Nestle Indonesia.
Dari peternakan sapi perah yang ada di Kabupaten Batang baru mampu memproduksi 3 ton susu segar per hari, sementara kebutuhan PT Nestle Indonesia sebesar 32 ton per hari.
Baca Juga: Lapas Plantungan Kendal Cari Solusi Alih Nama Tanah Hibah
Dari kondisi tersebut, potensi investasi di sektor peternakan sapi perah di Kabupaten Batang masih terbuka lebar.
Menurut Kepala Bidang Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang, M. Arief Edyanto mengungkapkan hal tersebut, Kamis 14 Oktober 2026.
"Terkait dengan kuota susu Nestle tadi kan 32 ton, kita baru mencukupi 3 ton sekitar sehari," ujar Arief.
Nah, lanjut Arief, untuk mengejar target pasokan hingga 10 kali lipat tersebut Kabupaten Batang membutuhkan tambahan populasi sapi perah yang signifikan, khususnya sapi laktasi atau sapi produktif yang menghasilkan susu.
Menurut Arief, untuk menghasilkan pasokan ideal sekitar 30 ton per hari, dibutuhkan ribuan ekor sapi perah laktasi dengan asumsi rata-rata produksi 10 liter susu per ekor setiap harinya.
"Kalau sekarang 300 ekor, (butuh) 3.000 yang laktasi. Kalau dalam populasi itu biasanya dikalikan 100 persen atau didua kalikan. Jadi, populasi yang kita harapkan itu sekitar 6.000, separuhnya di antara itu laktasi. Nanti akan terproduksi 3.000 kali 10 liter per hari, itu 30 ton," jelasnya.
Baca Juga: Kendal Punya Lumbung Santri, Potensinya Didorong untuk Membangun Negeri
Artinya, ruang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat maupun investor lokal untuk memelihara sapi perah demi mengisi ceruk pasar industri ini masih sangat terbuka.
Penjualan Mandiri Peternak Lokal
Di luar pasokan untuk Nestle, Arief menyebutkan bahwa sejumlah peternak di Batang sebenarnya sudah lama menjalankan usaha pemeliharaan sapi perah secara mandiri.
Sebagian besar dari mereka memasarkan produknya langsung ke konsumen.
"Kita itu di Batang itu tidak semua masuk Nestle, artinya kita masuk Nestle ada. Kayak di Batang sama di Warungasem itu ada sapi perah. Itu tidak masuk Nestle, mereka menjual mandiri. Karena itu kan sudah lama ya. Itu sekitar ada 40-an ekor laktasi, itu sehari bisa 400 liter," paparnya.
Meski peluang pasar tergolong besar, Pemerintah Kabupaten Batang menegaskan bahwa pengembangan populasi sapi perah tidak dapat dilakukan secara instan.
Dijelaskan, Dispaperta mematok target secara realistis dan terukur dalam kurun waktu satu dekade ke depan.
"Kita tidak perlu memikir itu sendirian atau pengin menangkap kuota itu dalam waktu dekat secara instan atau stimulan. Rencananya kita targetkan 10 tahun untuk mencapai angka populasi 5.000 stok ," tambah Arief.
Arief menegaskan, kangkah ini juga menjadi ajang pembuktian serta tantangan bagi warga Batang dalam menangkap peluang investasi daerah yang telah bergerak maju.***



