Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 411 Orang, Anggota DPR RI Yoyok Riyo Nilai SPPG Lebih Kejar Bisnis

Kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang melesat hingga menembus 411 korban, meluas dari siswa sekolah hingga balita dan orang dewasa.
BATANG, puskapik.com - Kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang melesat hingga menembus 411 korban, meluas dari siswa sekolah hingga balita dan orang dewasa.
Anggota DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo turun langsung menjenguk para korban di RSUD Kalisari Batang sembari menyentil orientasi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kunjungan mantan Bupati Batang tersebut dilakukan sebagai bentuk pelaksanaan fungsi pengawasan parlemen terhadap program unggulan pemerintah pusat, sekaligus menyoroti pergeseran fokus pelaksanaan MBG di tingkat bawah setelah insiden serupa berulang di Batang.
Baca Juga: Bupati Tegal Luncurkan 1.000 Titik Jaringan Internet Gratis
"Saya enggak menolak MBG itu tidak, saya apresiasi kerja dari Presiden... Niat baik dari Presiden memberikan makanan bergizi gratis ini, bagus enggak saya tanya Indonesia ini? Bagus! Cuma dalam tataran pelaksanaan sampai ke bawah, saya enggak tahu orientasinya lagi. Kalau orientasinya bukan menjabarkan dari perintah pertama Presiden tapi untuk orientasi margin, orientasi bisnis, mau sampai kapan Mas Daryono kuat memikirkan ini?" tegas Yoyok, Kamis 24 September 2026.
Yoyok juga menyinggung tingginya beban operasional SPPG yang memicu risiko keamanan pangan karena kapasitas produksi terlalu besar dalam waktu singkat.
"Faktanya ini satu SPPG melayani 2.600 porsi lho. Coba, 2.600 porsi yang harus dimasak dalam satu malam dan didistribusi dalam waktu yang bersamaan dan secepat-cepatnya," ujarnya.
Guna mencegah insiden berulang, Yoyok mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) memberlakukan sistem sanksi dan penghargaan (reward and punishment) yang tegas bagi pengelola SPPG.
"Mas Daryono menurut saya harus mulailah, mulai memberikan punish and reward yang jelas. Yang terbaik saya kira ya harus dikasih penghargaan. Kalau yang kurang, ya harus mulai dikasih hukuman. Jangan cuma di-hold sementara, jangan cuma dihentikan sementara," tandasnya
Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan melakukan inspeksi mendadak ke dapur SPPG Bela Batang Sejahtera bersama perwakilan BGN Jawa Tengah.
Faiz menegaskan, Pemkab Batang menjamin seluruh biaya medis korban serta menyediakan uang santunan harian bagi keluarga penunggu pasien melalui Dinas Sosial.
“Sebagian keluarga korban kemungkinan tidak dapat bekerja selama mendampingi anak atau anggota keluarganya yang sakit. Kita juga akan membantu keluarga korban, di mana nanti penunggu pasien karena terpaksa mungkin sehari dua hari ini mereka enggak bisa bekerja, karena ada anaknya keracunan atau bahkan mungkin orang tuanya keracunan,” ujar Faiz.
Sidak tersebut membongkar ketidaksesuaian fasilitas bangunan dengan standar operasional kelayakan fisik.
“Dalam peninjauan dapur SPPG, perwakilan BGN menemukan sejumlah standar yang dinilai belum terpenuhi. Di antaranya berkaitan dengan kondisi bangunan, seperti dinding yang belum solid serta beberapa bagian area dapur yang belum sesuai standar,” jelas Faiz.
Operasional SPPG Bela Batang Sejahtera kini dihentikan sementara. Faiz menegaskan tidak menutup kemungkinan penutupan permanen sesuai hasil evaluasi menyeluruh.
“Kalau memang dirasa tidak layak untuk melanjutkan pelayanan gizi kepada masyarakat, ya harus kita tutup secara permanen. Keputusan tersebut nantinya akan dibahas bersama BGN berdasarkan hasil evaluasi secara menyeluruh. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana ke depan mengevaluasi ini secara total dan kemudian masyarakat percaya pemerintah mampu memberikan pelayanan gizi kepada masyarakat,” tegasnya.
Investigasi awal BGN melalui rekaman CCTV mengungkap bahwa proses memasak di dapur pengelola menyalahi Standar Operasional Prosedur (SOP) waktu pengolahan.
Kepala KPPG Semarang, Hadiriajaya, membeberkan bahwa makanan diolah sejak pukul 19.30 WIB, padahal aturan menetapkan pengolahan baru dimulai setelah pukul 02.00 WIB dini hari demi menjaga kesegaran sajian.
“Kami juga melakukan investigasi awal. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati, kemudian satgas, terutama Dinkes untuk melakukan investigasi pengambilan sampel makanan untuk dilakukan uji lab,” sebut Hadiriajaya.
Mengenai munculnya korban dari kalangan balita hingga dewasa di luar target siswa sekolah, BGN menduga ada makanan yang dibawa pulang ke rumah.
Baca Juga: Dugaan Pelanggaran Oknum Satpol PP Kota Tegal Diselidiki
“Dari jumlah korban yang terdampak ini cukup banyak, mulai dari balita, anak-anak, dan juga ada usia yang bukan penerima manfaat. Ini mungkin perlu kami dalami lagi karena memang ada kemungkinan makanan ini dibawa pulang oleh orang tua dari penerima manfaat yang tidak seharusnya menerima MBG,” ungkap Hadiriajaya.
Sampel makanan saat ini menjalani uji laboratorium intensif untuk mendeteksi sumber cemaran, sementara evaluasi total terhadap kelayakan bangunan, SOP, serta jalur distribusi terus berjalan.***