Galuhtimur, Desa di Brebes dengan Jejak Tiga Zaman

Rabu, 17 Desember 2025 | 21.40
puskapik

BREBES, puskapik.com — Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, menyimpan jejak sejarah dari tiga zaman berbeda. Mulai dari fosil purba yang tersembunyi di dalam tanah, candi kuno yang hi...

BREBES, puskapik.com — Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, menyimpan jejak sejarah dari tiga zaman berbeda.

Mulai dari fosil purba yang tersembunyi di dalam tanah, candi kuno yang hidup dalam cerita turun-temurun, hingga jembatan peninggalan kolonial yang masih kokoh dilintasi kereta api hingga kini.

Berikut jejak tiga zaman yang ditemukan di Desa Galuhtimur:

1. Jejak Prasejarah di Kawasan Situs Bumiayu

Jejak paling awal di Galuhtimur berasal dari masa prasejarah. Desa ini termasuk dalam kawasan Situs Bumiayu, salah satu situs purbakala terpenting di Pulau Jawa.

Di wilayah ini, warga kerap menemukan fosil hewan purba secara tidak sengaja, baik berupa fragmen tulang maupun fosil berukuran besar seperti gajah purba. Temuan tersebut tersebar di sejumlah titik di Galuhtimur dan desa-desa sekitarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, penemuan fosil semakin masif seiring hadirnya kelompok pelestari fosil Buton yang kini tergabung dalam Yayasan Pustaka Alam Bumiajuensis. Sebagian fosil disimpan dan dipamerkan di Museum Purbakala Bumiayu, sementara sebagian lainnya masih berada di rumah warga.

Banyaknya temuan fosil tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Brebes membangun Museum Purbakala di Desa Galuhtimur yang direncanakan mulai beroperasi pada awal 2026.

2. Candi Gagang Golok, Tinggalan Masa Sejarah

Selain fosil purba, Galuhtimur juga memiliki tinggalan masa sejarah berupa struktur bangunan candi yang dikenal dengan nama Candi Gagang Golok.

Struktur yang ditemukan meliputi 12 umpak, arca Dwarapala, dan makara. Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta, bangunan tersebut berasal dari masa sebelum Hindu. Awalnya berupa punden, kemudian pada abad ke-7 hingga ke-8 berkembang menjadi bangunan candi.

Bangunan yang ditemukan diduga merupakan bagian utama candi beserta halaman. Di pintu masuk terdapat dua arca Dwarapala, meski hingga kini baru satu yang berhasil ditemukan. Di bagian tengah candi juga terdapat sebuah sumur yang bagian atasnya ditutup arca dan diduga berkaitan dengan aktivitas pemujaan.

Bagi warga setempat, Candi Gagang Golok tidak hanya dipandang sebagai situs arkeologi, tetapi juga bagian dari sejarah lokal yang hidup dalam cerita turun-temurun.

3. Jembatan Kali Belang, Saksi Era Kolonial

Jejak zaman berikutnya adalah Jembatan Kereta Api Kali Belang, atau yang lebih dikenal warga sebagai Jembatan Cinta.

Jembatan ini diperkirakan dibangun pada masa kolonial Belanda sebagai bagian dari jalur kereta api di wilayah selatan Brebes dan hingga kini masih aktif digunakan. Panjang jembatan sekitar 100 meter dengan ketinggian kurang lebih 50 meter dari dasar sungai.

Struktur jembatan ditopang 22 tiang penyangga berbentuk tangga. Pembangunannya berlangsung pada rentang tahun 1890 hingga 1914 serta dilengkapi 10 titik pengaman dari besi.

Ciri khas jembatan ini terletak pada Saka Pengantin, yaitu dua tiang penyangga kembar di bagian tengah jembatan dengan jarak sekitar 25 sentimeter dan tidak disatukan. Desain ini dibuat untuk mengurangi getaran akibat laju kereta api.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait