Gedung Hogwan Bumiayu Runtuh, Begini Jejak Pabrik Tapioka yang Pernah Termasyhur

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21.12
Tembok Gedung Hogwan, bangunan tua bekas pabrik tapioka di Bumiayu, Brebes, runtuh menimpa tiga rumah dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Tembok Gedung Hogwan, bangunan tua bekas pabrik tapioka di Bumiayu, Brebes, runtuh menimpa tiga rumah dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

Tembok Gedung Hogwan Bumiayu runtuh menimpa tiga rumah dan menewaskan tiga orang. Bangunan tua ini menyimpan sejarah pabrik tapioka yang pernah berjaya.

BREBES, puskapik.com – Tembok bagian depan Gedung Hogwan di Jalan Lapangan Asri, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, runtuh pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Material bangunan menimpa tiga rumah warga dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia, dua di antaranya anak-anak.

Peristiwa tersebut kembali mengarahkan perhatian warga pada Gedung Hogwan, bangunan tua yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari lanskap Bumiayu.

Namun, Hogwan bukan sekadar bangunan tua. Di balik temboknya tersimpan jejak sebuah industri tapioka yang pernah dikenal luas dan ikut menggerakkan kehidupan masyarakat Bumiayu.

Hogwan dikenal dengan nama NV Hogwan, perusahaan yang bergerak di bidang industri tapioka. Sejumlah warga menyebut NV Hogwan telah berdiri sejak 1901. Namun, tahun tersebut masih memerlukan penelusuran sumber sejarah lebih lanjut.

Baca Juga: Kebakaran Pasar Belik Pemalang, Plt Bupati Nurkholes Turun Langsung ke TKP

Dalam buku Galuh Purba: Antologi Cerita Rakyat Brebes Selatan terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, NV Hogwan disebut sebagai pabrik tapioka yang cukup termasyhur. Kejayaannya bahkan tersohor hingga ke luar daerah.

Keberadaan pabrik tersebut juga disebut ikut memengaruhi perkembangan masyarakat di sekitar Bumiayu. Menurut penuturan para sesepuh Desa Dukuhturi yang dihimpun dalam catatan sejarah desa, berdirinya NV Hogwan menarik penduduk dari luar daerah untuk datang dan bekerja.

Sebagian di antaranya berasal dari Pesayangan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. Mereka kemudian menetap di Bumiayu dan bekerja di pabrik NV Hogwan. Dari cerita tersebut, nama Dukuhturi yang kini menjadi salah satu desa di Kecamatan Bumiayu diyakini berkaitan dengan asal daerah para pendatang tersebut.

Jejak pabrik NV Hogwan ternyata tidak hanya berada di Desa Dukuhturi. Buku Galuh Purba juga mencatat keberadaan pabrik di Desa Jatisawit, Kecamatan Bumiayu.

Baca Juga: Panitia GBF 2026 Brebes Sampaikan Belasungkawa atas Musibah Gedung Hogwan

Di Jatisawit, salah satu jejak kompleks pabrik masih dikenal masyarakat dengan sebutan Crustine. Peninggalan tersebut berupa bangunan tua dengan cerobong besar yang dahulu menjadi bagian dari kompleks pabrik. Cerobong dan bangunan tua itu menjadi pengingat bahwa Bumiayu pernah memiliki industri tapioka yang cukup penting pada masanya.

Kejayaan NV Hogwan ternyata tidak berlangsung selamanya. Catatan sejarah mengenai Bumiayu menyebut NV Hoo Gwan berjaya sejak sebelum Perang Dunia II dan kemudian disebut berhenti beroperasi pada 1957.

Nama Hogwan juga meninggalkan jejak dalam dokumen sejarah dengan ejaan masa kolonial sebagai HOO GWAN. Dalam Boekoe Peringetan Slawi Slamat, nama N.B. Bouw en Handel Mij. HOO GWAN tercantum dalam daftar perusahaan pada masa tersebut.

Dokumen itu menunjukkan nama HOO GWAN tercatat dalam aktivitas usaha pada masa kolonial. Namun, hubungan detail perusahaan yang tercantum dalam dokumen tersebut dengan seluruh fasilitas tapioka di berbagai daerah masih memerlukan penelusuran arsip lebih lanjut.

Baca Juga: Unik! Sirine Kapal Jadi Simbol Pelayanan di Kelurahan Sugihwaras Pemalang

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait