Sidak Proyek Revit di Banjarhajo, Komisi IV DPRD Brebes Temukan ini

Komisi IV DPRD Brebes menemukan pemasangan baja ringan yang dinilai tidak sesuai pada proyek revit SMPN 1 Banjarharjo dan meminta segera dibongkar serta diperbaiki.
BREBES, puskapik.com – Komisi IV DPRD Kabupaten Brebes melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap sejumlah proyek rehabilitasi dan revitalisasi (revit) fasilitas pendidikan di wilayah Kecamatan Banjarharjo. Dalam sidaknya, wakil rakyat menemukan beberapa yang dinilai tidak sesuai.
Sidak dipimpin langsung Ketua Komisi IV DPRD Brebes, Ferry Anggrianto, dan diikuti seluruh anggota Komisi IV. Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung progres pekerjaan sekaligus memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai dengan perencanaan.
Salah satu lokasi yang menjadi sasaran sidak yakni SMP Negeri 1 Banjarharjo yang berada di Desa Cikakak, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes.
Sekolah tersebut mendapatkan bantuan anggaran revit sebesar Rp1,8 miliar. Anggaran itu diperuntukkan bagi perbaikan sebanyak 14 ruang kelas.
Baca Juga: Terus Bergerak, Kodim Pemalang Salurkan Bantuan Air Bersih ke Pulosari
Dalam kunjungannya, jajaran Komisi IV DPRD Brebes melihat langsung kondisi bangunan serta progres pengerjaan proyek. Peninjauan lapangan juga menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan pembangunan yang menggunakan anggaran pemerintah.
Saat meninjau pekerjaan revitalisasi SMPN 1 Banjarharjo, rombongan DPRD menemukan bagian konstruksi yang dinilai tidak sesuai. Salah satunya terkait pemasangan baja ringan pada struktur bangunan.
Ketua Komisi IV DPRD Brebes, Ferry Anggrianto, meminta pekerjaan yang dinilai keliru tersebut segera diperbaiki. Bagian yang sudah terlanjur dikerjakan tidak cukup hanya dirapikan, tetapi harus dibongkar dan dipasang kembali sesuai konstruksi yang semestinya.
"Kalau memang salah, harus dibongkar dan disusun ulang. Jangan sampai kesalahan konstruksi ini dibiarkan karena menyangkut keselamatan bangunan," katanya..
Menurut dia, pemasangan baja ringan yang ditemukan berada pada pasangan bata atau tertanam dalam adukan.Pemasangan seperti itu dinilai bermasalah karena baja ringan seharusnya bertumpu pada struktur beton, bukan pada pasangan bata.
"Jangan ditanam di adukan atau pasangan bata. Kuda-kuda baja ringan harus berdiri di atas ring balok, bukan ditanam di dalam bata," tegasnya.
Sementara itu Anggota Komisi IV DPRD Nasirul Umam menjelaskan, secara teknis baja ringan dapat mengalami perubahan dimensi akibat perubahan suhu. Jika elemen baja ringan ditanam langsung pada pasangan bata, pergerakan tersebut berpotensi menimbulkan keretakan pada bagian pasangan di sekitarnya.
Baca Juga: Pemkab Batang Beri Bantuan Pendamping Pasien Korban Keracunan MBG, Ini Besarannya
Selain itu, lingkungan adukan yang lembap juga menjadi perhatian terhadap ketahanan material baja. Kerusakan lapisan pelindung dapat meningkatkan risiko korosi pada bagian baja yang sulit terlihat setelah tertutup adukan.
Persoalan lainnya adalah perbedaan karakteristik material. Pasangan bata bukan merupakan elemen struktur yang dirancang untuk menjadi tumpuan utama kuda-kuda baja ringan.Karena itu, pemasangan konstruksi atap perlu menggunakan sambungan dan angkur yang terhubung dengan struktur beton.
Umam meminta tukang bangunan segera memperbaiki pemasangan tersebut dengan membuat atau memastikan keberadaan ring balok beton, kemudian memasang angkur atau bracket sebagai pengikat kuda-kuda baja ringan.
"Kuda-kuda harus ditaruh di atas ring balok. Pengikatnya menggunakan plat angkur atau bracket dan baut yang sesuai, bukan sekadar ditanam ke pasangan bata," ujarnya.
Dalam konstruksi yang benar, jelas dia, ring balok menjadi bagian penting sebagai tumpuan struktur atap. Angkur kemudian digunakan untuk menghubungkan kuda-kuda dengan struktur beton. Sehingga beban dan gaya yang bekerja pada atap dapat disalurkan ke struktur bangunan.
"Jika terdapat bagian yang sudah telanjur tertanam, pekerjaan perbaikannya antara lain dengan membongkar adukan di sekitar baja ringan, memeriksa kondisi material, mengganti bagian yang mengalami kerusakan, serta membuat sambungan kembali pada struktur beton menggunakan plat dan baut yang sesuai spesifikasi teknis," paparnya.
Baca Juga: Sajam Panjang Disiapkan untuk Tawuran, Polisi Bongkar Gengster di Kendal
Umam menegaskan, pengawasan terhadap proyek revitalisasi sekolah tidak hanya menyangkut progres pekerjaan, tetapi juga kualitas dan kesesuaian konstruksi.
"Jangan sampai proyeknya selesai secara administrasi, tetapi di lapangan justru menyisakan persoalan konstruksi. Kami minta diperbaiki sekarang sebelum bangunan digunakan," katanya.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Brebes, Aditya Perdana yang mendampingi sidak Komisi IV DPRD mengatakan, untuk progres proyek revitalisasi SMPN 1 Banjarharjo sudah mencapai 41 persen.
"Untuk anggaran revitalisasi di SMPN 1 Banjarharjo ini sekitar Rp 1,8 miliar. Anggaran ini untuk merehab 14 ruang kelas, penataan lingkungan dan drainase. Sekolah ini kalau hujan besar ada genangan air. Jadi nanti akan dibuat sumur resapan," tandasnya.
Dia menyambut positif sidak yang dilakukan DPRD. Hasil sidak akan menjadi bahan masukan untuk segera ditindaklanjuti. ***
Artikel Terkait

Terus Bergerak, Kodim Pemalang Salurkan Bantuan Air Bersih ke Pulosari

Pemkab Batang Beri Bantuan Pendamping Pasien Korban Keracunan MBG, Ini Besarannya

Sajam Panjang Disiapkan untuk Tawuran, Polisi Bongkar Gengster di Kendal
