Petani Bawang di Tegal Keluhkan Harga Panen Anjlok dan Kesulitan Pupuk Subsidi

Selasa, 8 September 2026 | 15.41
Panen bawang petani Kota Tegal
Panen bawang petani Kota Tegal

Mayoritas petani bawang di Kota Tegal lebih memilih menyimpan hasil panen bawang daripada menjual ke pasaran karena harga murah dan kesulitan pupuk subsidi

TEGAL, puskapik.com - Petani bawang di Kota Tegal mengeluhkan harga panen bawang saat ini anjlok dan pupuk subsidi yang sulit dibeli.

Mayoritas petani bawang lebih memilih menyimpan hasil panen bawang daripada menjualnya.

Menurut Wasnipah, salah seorang petani bawang warga Kelurahan Kalinyamat Kulon Kecamatan Margadana Kota Tegal, harga bawang saat ini tergolong murah.

Baca Juga: Hari Pelanggan Nasional, Dirut PDAM Pemalang Terjun Langsung Sapa Pelanggan

"Harga jual bawang dari petani ke penjual eceran atau bakul berada pada kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu sedangkan harga bawang eceran di pasar berkisar Rp 25 ribu. Harga tersebut jelas kami kesulitan untuk bisa mendapatkan untung dari harga jual bawang seharusnya Rp 30 ribu," kata Wasnipah saat ditemui puskapik.com di rumahnya.

Selain itu, lanjut Wasnipah, pupuk subsidi sulit dibeli, berbeda dengan pupuk non subsidi yang mudah dibeli. Menurutnya, ada selisih harga yang cukup besar, harga pupuk non subsidi hampir dua kali lipat dibanding dengan harga pupuk subsidi.

"Katakan pupuk dengan merk X, kalau pakai kartu tani supaya bisa dapat subsidi harganya Rp 120 ribu sekantong tapi sulit dibeli, sedangkan kalau beli tanpa kartu tani di toko pupuk lainnya, barangnya ada tapi harganya Rp 200 ribu lebih," terangnya.

Baca Juga: Sampah 1.000 Ton Sehari Bakal Jadi Listrik, Ahmad Luthfi Target PSEL Semarang Raya Groundbreaking Desember 2026

Terpisah, Wajad seorang petani bawang, warga Kelurahan Tunon Kecamatan Tegal Selatan menilai Pemerintah Kota Tegal kurang memperhatikan nasib petani, terutama petani bawang.

"Saya selama menjadi petani bawang puluhan tahun, belum pernah melihat atau mendengar pihak pemerintah khususnya Pemerintah Kota Tegal melakukan sidak ketersediaan pupuk subsidi dan bagaimana distribusinya. Padahal saya meyakini distribusi pupuk subsidi perlu ditelusuri karena sulit dibeli. Kalau tidak ada kecurangan, kemana larinya distribusi pupuk subsidi itu?" kata Wajad saat ditemui di sekitaran sawahnya.

Saat musim kemarau, puluhan petani juga sulit mendapatkan pengairan sawah, sebagaian besar lahan pertanian tidak digarap.

Dia berharap Pemerintah Kota Tegal lebih memperhatikan nasib para petani dan membantu memberikan solusi.***