31 Tunanetra di Kendal Ikuti Pesantren Kilat Al Qur’an Braille

Senin, 2 Maret 2026 | 10.06
Pesantren kilat penyandang tuna netra di Kendal. (edhot)
Pesantren kilat penyandang tuna netra di Kendal. (edhot)

Pesantren Kilat Ramadan PERTUNI Kendal ajarkan 31 tunanetra membaca Al Qur’an Braille, lengkap dengan kajian, tadarus, dan ibadah berjamaah.

KENDAL, puskapik.com – Semangat belajar Al Qur’an mewarnai Pesantren Kilat Ramadan Tunanetra yang digelar Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Kendal. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan keimanan bagi para peserta selama bulan suci Ramadan.

Sebanyak 31 penyandang tunanetra mengikuti kegiatan yang berlangsung di aula Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kendal. Para peserta mendapatkan modul pembelajaran membaca huruf Braille Al Qur’an sebagai sarana latihan mandiri.

Materi utama dalam pesantren kilat ini adalah pembelajaran membaca huruf Arab dalam sistem Braille. Selain itu, peserta juga mengikuti kajian Islam untuk memperdalam pemahaman keagamaan.

Baca Juga: Lelang Karya Peduli Padasari Tegal Raup Donasi Rp27.550.000, Lelang Berlanjut Melalui Online

Rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan sesi belajar, tetapi juga buka puasa bersama, shalat tarawih, tadarus, sahur bersama, hingga ditutup dengan shalat Subuh berjamaah.

Ketua PERTUNI Kendal, Imam Sahrozi, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat iman dan ketakwaan melalui pembelajaran Al Qur’an Braille.

“Kami ingin teman-teman tunanetra memiliki akses yang luas untuk belajar Al Qur’an. Dengan menguasai Braille Al Qur’an, mereka dapat membaca secara mandiri dan lebih percaya diri dalam beribadah,” ujarnya.

Ia menambahkan, PERTUNI Kendal secara rutin membuka kelas pembelajaran pada pekan terakhir setiap bulan, tepatnya setiap Sabtu. Ke depan, pembelajaran juga dirancang dapat diakses secara daring agar menjangkau lebih banyak peserta.

Guru pembimbing membaca huruf Braille Al Qur’an, Sofyan, menekankan pentingnya latihan rutin dan penguasaan kode huruf Arab dalam sistem Braille.

“Belajar Braille Al Qur’an membutuhkan ketekunan. Jika rutin berlatih, kemampuan membaca akan semakin lancar dan peserta bisa mandiri,” jelasnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait