Bapak-Bapak Desa Mojo Kendal Jadi Penggendong Tumpeng dalam Tradisi Sedekah Bumi

Tradisi sedekah bumi di Desa Mojo Kendal berlangsung unik. Para bapak-bapak menggendong tumpeng dan ayam ingkung sebagai simbol syukur dan pelestarian budaya.
KENDAL, puskapik.com — Pemandangan berbeda terlihat dalam tradisi sedekah bumi atau merti desa di Desa Mojo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Jika biasanya tumpeng dan ayam ingkung identik dibawa kaum perempuan, kali ini justru para bapak-bapak tampil menjadi pengemban hidangan sakral tersebut.
Dengan mengenakan pakaian tradisional, puluhan warga laki-laki berjalan kaki mengelilingi desa sambil menggendong tumpeng dan ayam ingkung menggunakan selendang.
Baca Juga: 100 Lebih Raja dan Sultan Dunia Kumpul di Salatiga, Ada Apakah?
Di belakang mereka, gunungan hasil bumi ikut diarak menjadi bagian dari kirab budaya tahunan masyarakat Desa Mojo.
Tradisi ini menjadi pemandangan unik bagi warga maupun pengunjung yang menyaksikan.
Para bapak-bapak tidak hanya membawa makanan, tetapi juga membawa simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus menjaga warisan budaya yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Tumpeng dan ayam ingkung tersebut sebelumnya dimasak sendiri oleh warga di rumah masing-masing.
Baca Juga: Dilirik Investor, Rawa Pening Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Air Unggulan Jawa Tengah
Saat pelaksanaan sedekah bumi, seluruh hidangan dibawa menuju rumah Kepala Desa Mojo untuk dikumpulkan sebelum mengikuti prosesi kirab.
Kepala Desa Mojo, Nur Khalis mengatakan, sedekah bumi merupakan tradisi yang terus dipertahankan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur dan doa bersama agar warga desa diberikan keselamatan serta kesejahteraan.
Menurutnya, keunikan tradisi Desa Mojo terlihat dari cara warga membawa tumpeng dan ayam ingkung.
“Mayoritas penggendong merupakan bapak-bapak dan anak laki-laki dengan menggunakan wadah serta perlengkapan yang masih mempertahankan unsur tradisional,” katanya Kamis 25 Juni 2026.
Kirab budaya dimulai dari rumah kepala desa dengan membawa gunungan hasil bumi menuju masjid desa. Di tempat tersebut, seluruh hasil bumi dan makanan yang dibawa warga mendapatkan doa bersama dari tokoh agama setempat.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju balai desa. Di lokasi tersebut, panitia mengambil sebagian ayam ingkung warga untuk disajikan dalam acara puncak pagelaran wayang kulit.


