Bapak-Bapak Desa Mojo Kendal Jadi Penggendong Tumpeng dalam Tradisi Sedekah Bumi

Kamis, 25 Juni 2026 | 15.58
Bapak-bapak Desa Mojo membawa tumpeng dan ingkung dalam tradisi sedekah bumi, Kamis 25 Juni 2026. (edhot)
Bapak-bapak Desa Mojo membawa tumpeng dan ingkung dalam tradisi sedekah bumi, Kamis 25 Juni 2026. (edhot)

Tradisi sedekah bumi di Desa Mojo Kendal berlangsung unik. Para bapak-bapak menggendong tumpeng dan ayam ingkung sebagai simbol syukur dan pelestarian budaya.

KENDAL, puskapik.com — Pemandangan berbeda terlihat dalam tradisi sedekah bumi atau merti desa di Desa Mojo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Jika biasanya tumpeng dan ayam ingkung identik dibawa kaum perempuan, kali ini justru para bapak-bapak tampil menjadi pengemban hidangan sakral tersebut.

Dengan mengenakan pakaian tradisional, puluhan warga laki-laki berjalan kaki mengelilingi desa sambil menggendong tumpeng dan ayam ingkung menggunakan selendang.

Baca Juga: 100 Lebih Raja dan Sultan Dunia Kumpul di Salatiga, Ada Apakah?

Di belakang mereka, gunungan hasil bumi ikut diarak menjadi bagian dari kirab budaya tahunan masyarakat Desa Mojo.

Tradisi ini menjadi pemandangan unik bagi warga maupun pengunjung yang menyaksikan.

Para bapak-bapak tidak hanya membawa makanan, tetapi juga membawa simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus menjaga warisan budaya yang telah dilakukan secara turun-temurun.

Tumpeng dan ayam ingkung tersebut sebelumnya dimasak sendiri oleh warga di rumah masing-masing.

Baca Juga: Dilirik Investor, Rawa Pening Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Air Unggulan Jawa Tengah

Saat pelaksanaan sedekah bumi, seluruh hidangan dibawa menuju rumah Kepala Desa Mojo untuk dikumpulkan sebelum mengikuti prosesi kirab.

Kepala Desa Mojo, Nur Khalis mengatakan, sedekah bumi merupakan tradisi yang terus dipertahankan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur dan doa bersama agar warga desa diberikan keselamatan serta kesejahteraan.

Menurutnya, keunikan tradisi Desa Mojo terlihat dari cara warga membawa tumpeng dan ayam ingkung.

“Mayoritas penggendong merupakan bapak-bapak dan anak laki-laki dengan menggunakan wadah serta perlengkapan yang masih mempertahankan unsur tradisional,” katanya Kamis 25 Juni 2026.

Kirab budaya dimulai dari rumah kepala desa dengan membawa gunungan hasil bumi menuju masjid desa. Di tempat tersebut, seluruh hasil bumi dan makanan yang dibawa warga mendapatkan doa bersama dari tokoh agama setempat.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju balai desa. Di lokasi tersebut, panitia mengambil sebagian ayam ingkung warga untuk disajikan dalam acara puncak pagelaran wayang kulit.

Sementara nasi tumpeng dan ayam ingkung lainnya kembali dibawa pulang oleh warga untuk dinikmati bersama keluarga.

Tradisi sedekah bumi Desa Mojo juga mendapat perhatian dari Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi contoh bagaimana masyarakat menjaga budaya sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.

‘Nilai utama dari sedekah bumi bukan hanya pada rangkaian acaranya, tetapi juga semangat kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang diwariskan oleh para leluhur,”ungkapnya.

Puncak acara semakin meriah ketika gunungan hasil bumi yang berisi berbagai sayuran dan buah-buahan dibawa ke depan balai desa. Dalam hitungan menit, gunungan tersebut habis menjadi rebutan warga.

Bagi masyarakat Desa Mojo, sedekah bumi bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, kirab tumpeng dan ayam ingkung menjadi cara warga menjaga identitas budaya sekaligus mempererat kebersamaan antar generasi.