Cegah HIV/AIDS Sejak Dini, Pelajar dan Santri Kendal Jadi Sasaran Edukasi

Senin, 2 November 2026 | 11.43 WIB
Diskusi pencegahan HIV/AIDS yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kendal. dokumen
Diskusi pencegahan HIV/AIDS yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kendal. dokumen

Edukasi pencegahan HIV/AIDS di Kendal menyasar pelajar dan santri melalui kolaborasi pemerintah, MUI, sekolah, pesantren, keluarga, dan organisasi keagamaan.

KENDAL, puskapik.com – Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kendal yang mencapai 2.191 kasus menjadi perhatian pemerintah daerah.

Upaya pencegahan kini diperkuat dengan menyasar generasi muda, khususnya pelajar dan santri melalui edukasi yang melibatkan lembaga pendidikan, keluarga, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan.

Persoalan tersebut dibahas dalam diskusi pencegahan HIV/AIDS yang digelar bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kendal dan sejumlah pemangku kepentingan pendidikan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pentas Seni, Kendal Bawa Cerita Leluhur ke Panggung Nasional

Sekretaris Daerah (Sekda) Kendal Agus Dwi Lestari mengatakan, perkembangan ekonomi daerah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas kesehatan dan pemahaman masyarakat.

Terlebih, pertumbuhan ekonomi Kendal pada 2025 mencapai 7,99 persen yang turut membawa perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, perubahan tersebut perlu diantisipasi agar berbagai risiko yang muncul dapat dikenali dan ditangani sejak dini, termasuk persoalan HIV/AIDS.

Baca Juga: Sheila On 7 Jadi Magnet 25 Ribu Pengunjung di LIVEPROJECT 2026 Semarang

"Jangan hanya bangga dengan dampak positifnya, tetapi dampak negatif juga tidak bisa kita hindari kalau kita tidak bisa mengidentifikasi dan memitigasinya," kata Agus.

Dia menyebut, jumlah kasus HIV/AIDS yang mencapai 2.191 perlu menjadi perhatian bersama.

Angka tersebut juga harus disikapi dengan memperkuat edukasi dan deteksi dini karena kasus yang terdata dianalogikan seperti fenomena gunung es.

"Fenomena ini seperti gunung es, jadi jangan sampai generasi muda kita terdampak persoalan sosial yang kompleks," sambungnya.

Agus menegaskan, pelajar, mahasiswa, dan santri perlu memperoleh informasi yang benar mengenai HIV/AIDS.

Mulai dari cara penularan, langkah pencegahan, hingga pentingnya pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.

Dia juga meminta keluarga dan lembaga pendidikan mengambil peran lebih besar dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda. Menurutnya, pencegahan tidak akan berjalan optimal jika hanya mengandalkan pemerintah.

Selain itu, Agus mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada orang dengan HIV.

Pemahaman yang benar diperlukan supaya seseorang tidak mendapatkan perlakuan negatif hanya karena kondisi kesehatannya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, akan memperkuat edukasi, pendataan, dan deteksi dini melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan serta berbagai pemangku kepentingan.

Sementara itu, Ketua MUI Kendal Mustamsikin mengatakan, diskusi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan HIV/AIDS melalui lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan Islam.

Kegiatan itu melibatkan perwakilan sekolah dan unsur pendidikan lainnya. Mereka diharapkan dapat meneruskan informasi yang benar kepada siswa maupun santri di lingkungan masing-masing.

Menurut Mustamsikin, identitas Kendal sebagai Kota Santri perlu diiringi dengan kepedulian terhadap persoalan kesehatan masyarakat.

Lingkungan pendidikan keagamaan diharapkan ikut menjadi ruang penyampaian edukasi agar generasi muda memahami pentingnya pencegahan HIV/AIDS.

MUI Kendal juga mendorong organisasi kemasyarakatan Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Rifaiyah, dan LDII, untuk terlibat menyampaikan edukasi kepada masyarakat.

"Penyakit HIV/AIDS harus tetap kita antisipasi sejak dini," tandasnya.

Melalui keterlibatan sekolah, pondok pesantren, keluarga, dan organisasi keagamaan, edukasi HIV/AIDS diharapkan semakin luas menjangkau masyarakat.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun kesadaran pencegahan sejak dini tanpa mengabaikan hak orang dengan HIV untuk mendapatkan perlakuan yang setara. **

Artikel Terkait