Cegah Keracunan MBG, Dapur SPPG Kendal Diawasi hingga Dini Hari

Kamis, 24 September 2026 | 15.35 WIB
puskapik

SPPG Kendal memperketat pengawasan keamanan pangan MBG setelah dugaan keracunan di Batang. Sebanyak 127 SPPG beroperasi dan seluruhnya telah ber-SLHS.

KENDAL, puskapik.com – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang menjadi perhatian pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kendal.

Pengawasan diperketat, mulai proses pengolahan bahan makanan hingga sebelum makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.

Koordinator SPPG Kendal M Faris Maulana mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP), khususnya terkait keamanan pangan.

Baca Juga: Insentif Bertambah, Guru PAUD Kendal Masih Perjuangkan Kesetaraan

Saat ini terdapat 142 SPPG di Kendal. Sebanyak 127 SPPG telah beroperasi dan seluruhnya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Untuk SPPG yang operasional di Kendal, 100 persen sudah ber-SLHS,” kata Faris di hubungi Kamis 24 September 2026.

Menurut dia, pengawasan dilakukan setiap hari melalui inspeksi mendadak (sidak) oleh koordinator wilayah. Pemeriksaan bahkan dilakukan sejak tengah malam hingga pagi untuk melihat langsung proses produksi dan kondisi makanan.

Baca Juga: 100 Warga Terlaya Brebes Jalani Tracing TBC, Sampel Dahak hingga Rontgen

Pengecekan kembali dilakukan sebelum makanan dikirim. Jika ditemukan kejanggalan pada rasa, aroma, maupun warna makanan, distribusi diminta dihentikan.

“Meskipun sudah terlanjur dimasak, kalau ada kejanggalan dalam rasa, aroma, maupun warna, diarahkan untuk tidak melaksanakan distribusi. Karena keamanan pangan lebih penting,” tegasnya.

Selain kualitas makanan, waktu produksi juga menjadi perhatian. Jam memasak disesuaikan dengan waktu konsumsi agar jeda antara makanan selesai diproduksi dan dikonsumsi tidak terlalu panjang.

Pengawasan juga mencakup kondisi fasilitas dan sarana prasarana SPPG. Hasil sidak menjadi bahan evaluasi apabila ditemukan fasilitas yang sudah tidak sesuai standar atau perlu diperbarui karena intensitas pemakaian.

“Beberapa SPPG yang fasilitas dan sarprasnya tidak sesuai menghasilkan rekomendasi untuk renovasi secara menyeluruh sesuai standar seperti awal SPPG operasional. Beberapa sarpras karena sering digunakan perlu diperbarui dan direnovasi,” jelas Faris.

Evaluasi turut dilakukan terhadap jam kerja, waktu produksi, menu, serta bahan baku yang memiliki risiko lebih tinggi karena mudah basi.

Kendati demikian, variasi menu tetap diperlukan agar penerima manfaat tidak bosan. Pemilihan sejumlah bahan makanan yang rentan tetap mendapat perhatian khusus dalam proses pengolahan dan distribusi.

Saat ini, jumlah penerima manfaat MBG di Kabupaten Kendal mencapai 291.580 orang. Dengan cakupan tersebut, pengawasan keamanan pangan dinilai menjadi bagian penting untuk mencegah persoalan serupa terjadi.

“Kami berharap kasus serupa jangan sampai terjadi di Kendal. Evaluasi dan SOP diperketat serta dibarengi dengan sidak yang terus dilaksanakan setiap hari,” ujarnya.

Artikel Terkait