Cegah Narkoba di Jateng, Gubernur Ahmad Luthfi Perkuat BNNP dan Aktifkan Kampung Bersinar

Gubernur Ahmad Luthfi perkuat BNNP dan Kampung Bersinar guna cegah narkoba di Jateng, dorong kolaborasi dan peningkatan anggaran serta rehabilitasi.
SEMARANG, puskapik.com – Ancaman narkoba yang terus membayangi generasi muda di Jawa Tengah mendorong Gubernur Ahmad Luthfi untuk mengintensifkan upaya pencegahan agar tidak meluas. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun memperkuat strategi pencegahan berbasis masyarakat sekaligus memperkokoh peran Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP) sebagai garda terdepan dalam memerangi peredaran narkotika.
Komitmen tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat menerima audiensi Kepala BNNP Jateng, Toton Rasyid, di ruang kerjanya, Kamis, 26 Februari 2026. Ia menegaskan, pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti pada momentum seremonial atau sekadar respons atas penangkapan bandar.
“Jangan hanya saat hari narkoba atau saat penangkapan bandar. Upaya pencegahan harus lebih masif dan konsisten,” ujar Ahmad Luthfi.
Baca Juga: Pemkab Pemalang Tekan Inflasi hingga Level Desa Lewat Pasar Murah Ramadan
Menurutnya, program seperti “Kampung Bersinar” (Bersih dari Narkoba) dan “Kampung Tangguh” perlu diperkuat dengan kegiatan nyata di tingkat desa dan kelurahan. Pelibatan masyarakat, kata dia, menjadi kunci utama keberhasilan gerakan antinarkoba.
“Paling penting kampung bersinar dan tangguh itu diekspose. Masyarakat harus ikut berbicara dan menggalakkan bersama pemerintah dan kepolisian,” tegasnya.
Ahmad Luthfi juga menyoroti wilayah Semarang dan Solo sebagai daerah prioritas karena tingkat kerawanannya relatif tinggi. Ia meminta BNNP Jateng segera mendata kabupaten/kota yang belum memiliki Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (BNNK) untuk didorong pembentukannya.
“Nanti BNNK yang belum ada kantornya didata, agar bisa kita bantu,” katanya.
Dari sisi anggaran, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus meningkatkan dukungan hibah bagi BNNP Jateng. Tercatat, hibah sebesar Rp 200 juta pada 2022 dan 2023 meningkat menjadi Rp 750 juta pada 2024, serta naik signifikan menjadi Rp 1,5 miliar pada 2025 dan 2026.
Toton Rasyid menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah provinsi. Ia mengungkapkan, survei prevalensi penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah pada 2024 mencapai 1,3 persen atau setara 195.081 jiwa.


