Cegah Risiko Berlipat, Ahmad Luthfi Pacu Tim Reaksi Cepat Jateng Lebih Sigap

Senin, 7 September 2026 | 06.37
puskapik

Ahmad Luthfi meminta Tim Reaksi Cepat Jateng meningkatkan kecepatan respons bencana. Pelatihan diperkuat untuk menghadapi kekeringan, karhutla, banjir, dan longsor.

SEMARANG, puskapik.com - Kecepatan menjadi taruhan utama dalam penanganan bencana di Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, Tim Reaksi Cepat (TRC) dan seluruh relawan harus mampu bergerak secepat mungkin ke lokasi kejadian untuk meminimalkan korban dan kerugian.

Pesan itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah di BPKH Penggaron, Kabupaten Semarang, Minggu (6/9/2026).

Pelatihan yang diikuti ratusan personel perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Tengah itu, menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang semakin beragam. Mulai dari kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, longsor, hingga tanah gerak.

Baca Juga: Bupati Batang Targetkan UHC Pulih Oktober 2026, Warga Bisa Berobat Gratis Pakai KTP

Ahmad Luthfi mengatakan, kecepatan respons pada fase awal sangat menentukan efektivitas penanganan bencana. Karena itu, kemampuan teknis harus dibarengi dengan kekompakan tim dan kesiapan personel di lapangan.

Ia mencontohkan Jepang yang dikenal memiliki sistem respons bencana sangat cepat. Dalam kondisi tertentu, tim penanganan bencana di negara tersebut ditargetkan sudah tiba di lokasi dalam waktu sekitar 15 menit.

“Kecepatan penanganan awal bencana Jepang itu nomor satu di dunia. Minimal di Jepang 15 menit sudah sampai di TKP. Di tempat kita masih di atas itu,” kata Luthfi.

Baca Juga: Relawan MDMC Pemalang Tewas Terseret Arus Saat Mandi di Kedung Bokor

Menurutnya, pelatihan menjadi salah satu instrumen penting untuk memangkas waktu respons sekaligus meningkatkan profesionalitas personel.

“Latihan itu perlu untuk meningkatkan profesionalitas dan teamwork, serta membiasakan diri dalam penanganan awal terkait tanggap bencana,” ujarnya.

Ia berharap personel yang mengikuti pelatihan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan individu. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh harus ditularkan kepada personel lain di daerah masing-masing.

“Pelatihan itu 60 persen dari pelaksanaan tugas personel dan relawan tanggap bencana,” katanya.

Di tengah penguatan kapasitas TRC, Ahmad Luthfi juga mengungkapkan perkembangan situasi kebencanaan terkini di Jawa Tengah.

Saat ini, kekeringan menjadi salah satu potensi bencana yang paling tinggi di Jawa Tengah. Dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian, tetapi juga menyangkut kebutuhan air bersih masyarakat.

Kondisi kering juga meningkatkan risiko karhutla, kebakaran bangunan, permukiman hingga kebakaran di kawasan TPA.

Halaman 1 dari 3