Dinilai Berhasil, Jateng Jadi “Pilot Project” Penguatan Kemitraan MBG dari Kemenko Pangan

Selasa, 14 April 2026 | 05.28

Jateng ditetapkan sebagai pilot project penguatan kemitraan MBG berkat capaian tinggi SPPG, dukungan UMKM, dan potensi perikanan yang kuat.

SEMARANG, puskapik.com — Keberhasilan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah, mendorong Kementerian Koordinator Bidang Pangan menjadikan provinsi yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), tersebut sebagai "pilot project" penguatan kemitraan, antara sektor perikanan, UMKM, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program itu diharapkan mampu meningkatkan konsumsi ikan, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dandy Satria Iswara mengatakan, dukungan Jawa Tengah terhadap program MBG dinilai sangat kuat, baik dari sisi jumlah SPPG, maupun kepatuhan terhadap standar keamanan pangan. Dia menyebut, banyak dapur SPPG di Jawa Tengah telah memperoleh sertifikasi, dan secara aktif menggandeng UMKM lokal untuk penyediaan bahan baku.

Baca Juga: Balap Liar di Bumiayu Brebes, Sekadar Hobi Anak Muda?

Hingga saat ini, potensi penerima manfaat MBG di Jawa Tengah mencapai 9,63 juta orang, dari target nasional 82,9 juta penerima manfaat. Artinya, Jawa Tengah memegang hampir 11 persen dari total penerima manfaat secara nasional.

“Selain itu, sekitar 3.800 SPPG telah operasional, dengan tingkat pencapaian pembangunan mencapai sekitar 97 persen dari target yang ditetapkan,” ujarnya, saat membuka acara Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Kemitraan MBG, di Ghradhika Bhakti Praja, Senin (13/4/2026).

Baca Juga: Mantab, Atlet Renang Brebes Sabet 7 Medali di Kejurprov 2026, Satu Atlet Pecahkan Rekor

Menurut Dandy, pencapaian tersebut tidak hanya dari sisi kuantitas tetapi juga kualitas. Hampir 2.000 SPPG telah memiliki sertifikasi Sanitasi Laik Higiene (SLHS), ratusan lainnya bersertifikat halal, serta lebih dari 1.300 tenaga chef telah tersertifikasi. Standar keamanan pangan berbasis HACCP juga mulai diterapkan di sejumlah SPPG sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan.

“Kondisi ini menunjukkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan implementasi MBG yang masif, patuh, dan siap secara sistem,” lanjut Dandy.

Ditambahkan, program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Dia menjelaskan, sekitar 70 persen anggaran MBG digunakan untuk pembelian bahan pangan, sehingga berdampak langsung pada penggerakan ekonomi lokal, mengingat belanja bahan pangan tersebut kembali kepada masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

Dandy juga menyoroti dukungan infrastruktur di Jawa Tengah yang dinilai kuat. Lebih dari 8.500 koperasi desa dan kelurahan Merah Putih telah terbentuk, dan sekitar 6.200 di antaranya sudah operasional. Ekosistem ini dinilai dapat memperkuat konektivitas antara produksi pangan dan kebutuhan SPPG.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait