Harga Pakan Menjulang, Peternak Ayam Patean Kendal Mulai Angkat Tangan

30 peternak ayam petelur di Patean, Kendal, mengikuti pelatihan manajemen untuk menghadapi kenaikan biaya pakan dan rendahnya harga telur agar usaha tetap bertahan.
KENDAL, puskapik.com – Usaha ayam petelur di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, mulai berada di titik sulit.
Harga telur yang diterima peternak belum mampu mengejar kenaikan biaya pakan.
Peternak kini harus berhadapan dengan kondisi serba terjepit. Mempertahankan produksi membutuhkan biaya besar, sementara hasil penjualan telur belum memberikan margin yang cukup.
Harga telur di tingkat peternak saat ini hanya sekitar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram.
Baca Juga: Driver Maxim Tegal Desak Transparansi Sistem Pembagian Order
Harga tersebut masih lebih rendah dibandingkan harga di tingkat pasar yang mencapai Rp23 ribu-Rp24 ribu per kilogram.
Masalahnya, biaya produksi justru terus meningkat.
Harga jagung sebagai salah satu bahan utama pakan telah mencapai sekitar Rp7.100 per kilogram. Katul berada di kisaran Rp6.000 per kilogram, sedangkan konsentrat hampir menyentuh Rp10 ribu per kilogram.
“Pakan terus naik. Peternak harus nombok,” ujar Eri Setianto, peternak ayam petelur Desa Selo, Kecamatan Patean.
Baca Juga: Sekolah di Kota Tegal Perkuat Edukasi Pencegahan Kekerasan Anak
Menurut Eri, kondisi tersebut paling terasa bagi peternak dengan populasi ayam yang tidak terlalu besar. Dengan jumlah sekitar 2.000 hingga 3.000 ekor, biaya pakan tetap harus dikeluarkan setiap hari, sedangkan harga telur tidak banyak berubah.
Sejumlah peternak bahkan mulai memilih menghentikan usahanya karena tidak lagi mendapatkan keuntungan.
“Telur tidak naik, pakan terus naik,” katanya.
Persoalan peternak tidak berhenti pada biaya pakan. Ketika ayam sudah memasuki masa afkir, harga jualnya juga dinilai belum mampu memberikan tambahan pendapatan yang berarti.
Saat ini harga ayam afkir berada di kisaran Rp11 ribu-Rp13 ribu per ekor.
“Tidak sebanding dengan biaya pakan dan bibit ayam,” ujar Eri.
Peternak sebelumnya sempat mendapatkan angin segar melalui program jagung SPHP. Sebanyak 150 ton jagung disalurkan dengan harga Rp5.350 per kilogram hingga kandang.
Harga tersebut cukup membantu menekan biaya produksi.
“Kami sangat terbantu,” ungkapnya.
Namun, program tersebut kini telah berakhir. Peternak berharap pemerintah kembali menghadirkan intervensi untuk membantu menekan biaya pakan, terutama ketika harga jagung dan bahan baku lainnya masih tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal menggelar pelatihan manajemen ayam petelur bagi 30 peternak di Kecamatan Patean.
Pelatihan tersebut mengusung tema “Tetap Survive Beternak Ayam Petelur di Masa Sulit”.
Ketua Tim Kerja Seksi Produksi Peternakan DPP Kendal, drh Sri Wahyuni, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan agar peternak memiliki strategi dalam menghadapi tekanan biaya produksi.
“Peternak masih semangat. Ini cara kami,” ujarnya.
Dalam pelatihan, peternak diberikan materi mengenai efisiensi pakan, formulasi ransum, pemanfaatan bahan baku lokal, hingga evaluasi kualitas bahan pakan.
Peserta juga mendapatkan paket suplemen berupa disinfektan, premik mineral, dan vitamin ayam.
Eri mengatakan materi yang diberikan cukup relevan dengan persoalan yang dihadapi peternak sehari-hari. Pengetahuan mengenai pengelolaan pakan dinilai dapat langsung diterapkan untuk mengurangi pemborosan biaya. **