Hujan Mulai Turun, Ahmad Luthfi Optimistis Target 11 Juta Ton Padi Tercapai

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12.59 WIB
puskapik

Gubernur Ahmad Luthfi optimistis produksi padi Jawa Tengah mencapai 10,5–11 juta ton hingga akhir 2026, didukung hujan yang mulai turun dan upaya menjaga irigasi.

SEMARANG, puskapik.com - Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Bagi petani, perubahan cuaca ini menjadi harapan untuk menjaga produktivitas sawah di tengah kemarau yang membayangi musim tanam.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun optimistis produksi padi hingga akhir 2026 mampu mencapai target 10,5 juta–11 juta ton.

Baca Juga: PKS Minta Wali Kota Tegal Segera Terbitkan Perwal Penanganan Banjir

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, hujan yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir menjadi momentum untuk mengejar target produksi pangan hingga Desember mendatang.

“Alhamdulillah kemarin sudah mulai hujan. Semoga sampai Desember nanti kita mampu mencapai target 10,5–11 juta ton padi,” kata Luthfi, Sabtu (31/10/2026).

Target tersebut ditopang capaian produksi padi yang telah mencapai 8,5 juta ton sepanjang Januari–September 2026.

Baca Juga: Bentuk Satgas Khusus, Bulog Tegal Perketat Pengawasan Distribusi Beras SPHP

Artinya, masih ada pekerjaan untuk menjaga produksi pada tiga bulan terakhir tahun ini, terutama di tengah awal musim hujan yang diperkirakan tidak serentak di seluruh wilayah.

Pada 2025, produksi padi Jawa Tengah mencapai sekitar 11,5 juta ton. Capaian itu memperkuat posisi provinsi tersebut sebagai salah satu penyangga pangan nasional.

Luthfi berharap Jawa Tengah dapat mempertahankan kontribusinya terhadap produksi gabah nasional. Namun, ketersediaan air dan kesiapan lahan menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas di tengah peralihan musim.

Sebelum hujan kembali turun, Pemprov Jateng telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak kemarau terhadap lahan pertanian. Upaya tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan, kesiapan waduk dan embung, serta perbaikan dan optimalisasi jaringan irigasi.

Pemerintah juga berkolaborasi dengan TNI-Polri dan instansi terkait untuk mendukung pompanisasi dan pipanisasi, terutama di lahan yang membutuhkan pasokan air tambahan.

Data Pemprov Jateng mencatat, terdapat 242.826 hektare sawah tadah hujan dan 530.748 hektare sawah irigasi. Dua karakter lahan tersebut membutuhkan penanganan berbeda agar petani tetap dapat menanam sesuai kondisi air yang tersedia.

Pada sawah tadah hujan, intervensi dilakukan melalui irigasi perpompaan. Sementara itu, optimalisasi jaringan irigasi tersier menjadi salah satu upaya untuk menjaga pasokan air di sawah beririgasi.

Perlindungan terhadap petani juga disiapkan melalui asuransi usaha tani untuk mengantisipasi risiko puso atau gagal panen. Program tersebut direncanakan melindungi 10.000 hektare lahan pertanian.

“Asuransi gagal panen untuk mem-backup, jadi jangan sampai nanti kena puso, kena banjir, dan gagal panen. Itu nanti akan membantu masyarakat kita, khususnya para petani, agar tetap mempunyai modal dasar untuk melanjutkan kegiatan meskipun gagal panen,” kata Luthfi.

Asuransi tersebut diharapkan membantu petani menjaga modal usaha ketika hasil panen tidak sesuai harapan, sehingga mereka tetap memiliki kesempatan untuk kembali menanam pada musim berikutnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, pola tanam petani di sejumlah daerah berbeda-beda, bergantung pada ketersediaan air dan kondisi setempat.

Di sebagian wilayah Pantura, misalnya, petani dapat menjalani dua kali musim tanam padi yang diselingi komoditas pertanian lain.

Di daerah yang pasokan airnya mencukupi, petani bisa menjalani tiga kali musim tanam.

Menurut Defransisco, ketersediaan air tetap menjadi faktor utama dalam menentukan pola tanam. Sementara itu, penerapan sistem pertanian modern dapat membantu meningkatkan produktivitas meski frekuensi musim tanam lebih sedikit.

Pemprov Jateng juga mengandalkan program Pilar Jateng untuk memetakan kondisi lahan, infrastruktur irigasi, serta ketersediaan dan kondisi alat mesin pertanian.

Data tersebut digunakan untuk menentukan kebutuhan intervensi dan bantuan bagi kelompok tani secara lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di Jawa Tengah berlangsung bertahap.

Sejumlah wilayah di sekitar Pegunungan Slamet dan Pegunungan Dieng diperkirakan memasuki musim hujan lebih awal, meliputi bagian utara Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Wonosobo.

Sebaliknya, beberapa wilayah Pantura dan Jawa Tengah bagian timur diperkirakan baru memasuki musim hujan sekitar awal Desember.

BMKG juga mengingatkan bahwa pengaruh El Niño masih perlu diperhatikan.

Meski demikian, aktivitas atmosfer, termasuk Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby, dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.

Analisis curah hujan harian BMKG menunjukkan hujan telah terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Tengah. Namun, intensitas dan sebarannya belum merata.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan air tetap menjadi tantangan bagi petani di sejumlah daerah.

Hujan yang mulai turun menjadi peluang untuk mengejar target produksi, tetapi keberlanjutan pasokan air dan perlindungan lahan pertanian akan menentukan apakah target hingga akhir tahun benar-benar tercapai. **

Artikel Terkait