Industri Furnitur di Kendal Tak Lagi Sekadar Kayu dan Alat, Generasi Muda Dituntut Kuasai Teknologi

Talent Camp Asia 2026 di Polifurneka Kendal dorong generasi muda menguasai teknologi, desain, dan kreativitas untuk menghadapi masa depan industri furnitur.
KENDAL, puskapik.com — Industri furnitur Indonesia tengah memasuki babak baru. Keahlian mengolah kayu secara manual saja dinilai tak lagi cukup untuk menghadapi perubahan industri yang semakin mengandalkan teknologi, desain, kreativitas, hingga sistem produksi otomatis.
Tantangan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Talent Camp Asia 2026 yang digelar di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal, Senin (7/9/2026).
Kegiatan yang untuk kedua kalinya digelar di Polifurneka tersebut bukan sekadar ajang kompetisi.
Baca Juga: Tungku Ditinggal Mengamen, Rumah dan Warung di Paduraksa Pemalang Terbakar
Talent Camp Asia menjadi ruang pembelajaran sekaligus kolaborasi untuk menyiapkan generasi muda agar mampu mengikuti perkembangan industri furnitur yang semakin berbasis teknologi.
Direktur Polifurneka Kendal, Dr Peni Shoffiyati SP MSi, mengatakan Talent Camp Asia yang dimulai sejak 2023 telah berkembang menjadi wadah pembelajaran dan pertukaran pengetahuan antara insan akademik dengan pihak eksternal, termasuk tenaga ahli internasional.
Tahun ini, kegiatan diikuti 40 peserta. Sebanyak 29 peserta berasal dari internal Polifurneka yang terdiri atas dosen dan mahasiswa, sedangkan 11 lainnya merupakan peserta eksternal.
Baca Juga: Biasanya Sidak Warga Binaan, Kali Ini HP Petugas Lapas Plantungan Kendal yang Diperiksa
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi insan akademik Politeknik, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dengan pihak eksternal,” ujar Peni.
Menurutnya, Talent Camp Asia juga diarahkan menjadi ajang yang melibatkan peserta dari berbagai negara Asia, di antaranya Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, dan India.
Sejumlah materi mengenai perkembangan teknologi desain furnitur modern turut diberikan dalam kegiatan tersebut. Regional Director CAD+T Austria Pty/Ltd, William Dedella, dijadwalkan memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan software CAD+T dalam pengembangan desain furnitur.
Peni menjelaskan, sebelum digelar di Polifurneka, Talent Camp Asia pada 2023 dan 2024 berlangsung di Pradita University, Tangerang. Sejak 2025, pihak CAD+T memilih Polifurneka sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki sarana dan prasarana yang mendukung penerapan langsung hasil pelatihan.
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Industri BPSDMI Kementerian Perindustrian, Wulan Aprilianti Permatasari, saat membuka kegiatan secara daring mengatakan Talent Camp Asia 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) industri furnitur.
Menurutnya, tenaga kerja industri masa depan harus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus menghadapi persaingan global.
“Teknologi terbaru harus bersinergi dengan pikiran, ide, dan gagasan peserta untuk membuat suatu produk yang baru dan berbeda,” kata Wulan.
Ia menilai kebutuhan industri furnitur kini semakin luas. Tenaga kerja tidak cukup hanya memiliki keterampilan produksi, tetapi juga perlu memahami desain, manufaktur berkelanjutan, perkembangan teknologi serta dinamika pasar global.
Indonesia, lanjutnya, memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi industri furnitur di pasar internasional. Namun peluang tersebut harus dibarengi penguatan desain dan merek, perluasan pasar, serta peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi.
“Kita perlu menyiapkan SDM yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, kreatif, mampu memanfaatkan teknologi serta memiliki wawasan terhadap perkembangan industri di tingkat global,” tegasnya.
Perubahan industri juga menjadi perhatian Direktur PT Felder Group Indonesia, Ligorius Wijaya. Ia mengingatkan para peserta, khususnya mahasiswa baru, agar tidak memandang masa depan industri furnitur hanya dari pekerjaan manual.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (AI), perangkat lunak, dan mesin produksi telah mengubah cara industri kayu bekerja. Ketiganya bahkan dapat terintegrasi untuk membuat proses manufaktur semakin otomatis.
“Talent Camp Asia ini bukan hanya bicara tentang kompetisi, tapi bagaimana Anda mendapatkan pelatihan dan pengetahuan tentang industri kayu di masa mendatang,” ujarnya.
Ia menggambarkan bagaimana sistem produksi modern memungkinkan sebagian besar proses pengerjaan dilakukan secara otomatis berdasarkan program yang telah dibuat.
Material dapat disiapkan, kemudian mesin bekerja mengikuti sistem yang telah diprogram. Kondisi tersebut membuat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja dengan kemampuan teknologi semakin besar.
“Kalau Anda menjadi pekerja yang selamanya hanya memegang alat kerja manual, Anda akan ketinggalan. Anda harus berpikir bagaimana menjadi carpenter di depan PC atau laptop,” pesannya kepada mahasiswa.
Menurut Ligorius, kemampuan memahami teknologi produksi akan menjadi modal penting bagi generasi muda yang ingin masuk ke industri furnitur.
Talent Camp Asia diharapkan menjadi salah satu jembatan untuk memperkenalkan perubahan tersebut kepada mahasiswa dan insan akademik. Tidak hanya mencetak tenaga kerja yang terampil mengolah kayu, tetapi juga melahirkan SDM yang mampu merancang, memprogram, mengoperasikan teknologi, serta menciptakan inovasi baru.
Dengan demikian, masa depan industri furnitur Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa terampil tangan mengolah kayu, tetapi juga seberapa jauh kreativitas dan teknologi mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar global.
Artikel Terkait

Semarak HUT ke-81 PMI di Pemalang, Warga Ikuti Senam dan Donor Darah

Berkunjung ke Batang, Wapres Gibran Jenguk Korban Keracunan MBG, Jumlah Total Capai 674 Orang

Puluhan Driver Ojol di Tegal Deklarasi Patrol, Satukan Roda Dua dan Roda Empat
