Mudik Gratis Jateng: Cerita Para Sopir Bus yang Ikut Mengantar Rindu Pulang Kampung

Minggu, 15 Maret 2026 | 20.48
puskapik

Program Mudik Gratis Jateng 2026 tak hanya membawa pemudik pulang, tapi juga kisah sopir bus yang mengantar rindu ribuan perantau ke kampung halaman.

JAKARTA, puskapik.com - Di balik ribuan pemudik yang bersiap pulang kampung melalui program Mudik Gratis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah 2026, ada para sopir bus yang bekerja dalam senyap.

Mereka bukan hanya mengemudikan kendaraan ratusan kilometer, tetapi juga ikut mengantar harapan, rindu, dan kebahagiaan para perantau menuju kampung halaman.

Sore itu, Minggu sore (15/3/2026), suasana di area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, tampak lebih sibuk dari biasanya.

Baca Juga: Ammy Amalia Resmi Plt Bupati Cilacap, Pelayanan Publik Tak Boleh Terganggu

Ratusan bus berjajar rapi, sementara para kru dan sopir hilir mudik memeriksa kendaraan masing-masing.

Di tengah kesibukan tersebut, Sugio, seorang sopir bus asal Sukoharjo, terlihat memeriksa kondisi armadanya sebelum keberangkatan. Ia memastikan semua dalam kondisi baik, sebelum mengantar pemudik menuju Karanganyar.

Menurutnya, seluruh armada yang terlibat dalam program mudik gratis telah melalui berbagai tahapan pemeriksaan untuk memastikan perjalanan berlangsung aman.

Baca Juga: Berkah Ramadan, PSHT Pemalang Bagi-bagi Ribuan Takjil

“Unit sudah dicek semua. Dari mesin, kaki-kaki sampai ramp cek juga sudah. Kru juga sudah cek kesehatan. Kalau unitnya sudah di jalan siap,” ujar Sugio.

Dalam satu bus, terdapat dua kru yang akan bergantian mengemudi selama perjalanan. Hal itu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kondisi fisik pengemudi selama menempuh perjalanan panjang. Menjelang keberangkatan, Sugio memilih fokus menjaga stamina.

“Persiapannya paling istirahat yang cukup supaya besok bisa mengemudi dengan prima,” katanya.

Bagi Sugio, program mudik gratis bukan hanya membantu masyarakat yang ingin pulang kampung dengan biaya lebih ringan, tetapi juga memberi manfaat bagi para sopir dan perusahaan otobus. Ia menjelaskan, selama Ramadan biasanya perjalanan wisata atau trip reguler cenderung menurun.

“Kalau Ramadan biasanya sepi trip. Jadi kegiatan seperti ini bisa membantu juga,” ujarnya.

Cerita serupa disampaikan sopir lainnya, Ginanjar Aji (36), asal Cilacap. Ia mengaku hampir setiap tahun terlibat dalam program pengangkutan pemudik seperti ini. Sebelum keberangkatan, ia memastikan semua komponen kendaraan dalam kondisi baik.

“Armada dicek semua, mulai kampas rem, oli, dan lain-lain. Driver juga sudah cek kesehatan dan tes narkoba, jadi semuanya siap,” kata Ginanjar.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait