Pekan Maulud Masjid Al Mutaqqin Kaliwungu Dimulai, Bupati Ikut Bertukar Makanan

Pekan Maulud Nabi di Kaliwungu, Kendal, dibuka dengan tradisi weh-wehan. Bupati Kendal turut bertukar makanan, sekaligus mendorong pelestarian tradisi khas Kaliwungu.
KENDAL, puskapik.com – Suasana menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, kembali diwarnai tradisi weh-wehan. Tradisi saling bertukar makanan tersebut menjadi pembuka Pekan Maulud Nabi yang digelar Masjid Besar Al Muttaqin Kaliwungu.
Tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, weh-wehan dalam kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan warga sekaligus mempertahankan tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Kaliwungu.
Ketua Panitia Pekan Maulud Nabi Masjid Besar Al Muttaqin Kaliwungu, Ahmad Zaenudin, mengatakan rangkaian kegiatan sengaja memadukan unsur keagamaan dengan tradisi masyarakat setempat.
Baca Juga: Korban Meninggal Adu Banteng di Patebon Bertambah Jadi Tiga
"Untuk pembukaan dilakukan lomba weh-wehan dengan mengolah bahan makanan tradisional khas tradisi yang hanya ada di Kaliwungu Kendal," ujar Ahmad.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari turut mengikuti tradisi weh-wehan. Bupati bertukar makanan dengan peserta lomba sebagai bentuk apresiasi terhadap tradisi masyarakat Kaliwungu.
Menurut Ahmad, Pekan Maulud tahun ini tidak hanya menghadirkan weh-wehan. Sejumlah perlombaan juga disiapkan, di antaranya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan rebana yang terbuka untuk masyarakat umum.
Baca Juga: Niat Menyalip Berujung Maut, Dua Pelajar di Kendal Tewas di Jalan Tembus Patebon
Sementara tradisi khas Kaliwungu juga mendapat ruang melalui lomba teng-tengan, pembacaan Maulid Nabi dan kegiatan keagamaan lainnya.
Ada perubahan dalam pelaksanaan lomba teng-tengan. Jika sebelumnya lampion khas Kaliwungu tersebut dibawa ke masjid untuk dinilai, kini pemasangannya dilakukan langsung di lingkungan masing-masing kampung.
Dengan pola tersebut, kampung-kampung di Kaliwungu akan dihiasi teng-tengan sehingga kemeriahan Maulid Nabi tidak hanya terpusat di sekitar masjid, tetapi menyebar ke lingkungan masyarakat.
Rangkaian kegiatan nantinya ditutup dengan pembacaan Berzanji secara massal di Masjid Besar Al Muttaqin Kaliwungu.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan Pekan Maulid harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah SAW sekaligus kesempatan untuk meneladani akhlaknya.
"Pekan Maulid ini adalah wujud cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Kita semua hendaknya terus belajar dan mengikuti tuntunan mulia Rasulullah," katanya.
Ia menilai tradisi weh-wehan memiliki nilai sosial yang kuat karena mengajarkan masyarakat untuk saling berbagi. Nilai tersebut sejalan dengan anjuran Rasulullah untuk memperbanyak sedekah dan kepedulian terhadap sesama.


