Pemprov Jateng Beri Tali Asih untuk Penghafal Al-Qur’an, Capai 2.000 Santri per Tahun

Pemprov Jateng beri tali asih Rp1 juta bagi santri penghafal 30 juz Al-Qur’an. Program ini menyasar hingga 2.000 santri tiap tahun sebagai bentuk apresiasi.
KUDUS, puskapik.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan apresiasi berupa tali asih atau bisyaroh kepada para penghafal Al-Qur’an, termasuk enam santri yang telah menuntaskan hafalan 30 juz.
Penyerahan dilakukan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin dalam Haflatyl Hidzaq atau Wisuda Tahfidh Pondok Pesantren Darul Qur’an Krandon, Kabupaten Kudus, Senin, 11 Mei 2026.
Taj Yasin mengatakan, khataman Al-Qur’an merupakan nikmat yang patut disyukuri. Menurutnya, khataman bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada santri yang telah menjaga hafalan Al-Qur’an.
Baca Juga: 10 Provinsi Perkuat Kolaborasi Energi Bersih, Sampah, dan Giant Sea Wall
Ia mengingatkan, khatam menghafal Al-Qur’an bukan akhir proses belajar. Para santri diminta terus menjaga hafalan melalui murajaah.
“Setelah khatam, jangan berhenti. Hafalan itu harus dijaga,” ujar Taj Yasin.
Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu mengatakan, kecintaan terhadap Al-Qur’an telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan ulama terdahulu.
Ia mencontohkan, para sahabat menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan dan pelembut hati.
Baca Juga: Bupati Tegal Tinjau Perbaikan Ruas Balamoa-Kemantran, Progres Capai 83%
“Kalau para ulama dan sahabat ingin hatinya tersentuh, yang didengarkan adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an dibaca, diresapi, lalu masuk ke dalam hati,” katanya.
Selain mengingatkan pentingnya menjaga hafalan, Gus Yasin juga menegaskan tali asih merupakan bentuk perhatian Pemprov Jateng kepada santri penghafal Al-Qur’an.
“Bisyaroh ini tidak melihat orang Jateng atau luar Jateng. Setiap selesai menghafal 30 juz, kita akan memberikan tali asih atau bisyaroh setiap anak sebesar Rp1 juta,” ujar Taj Yasin dalam kesempatan sebelumnya.
Pada kegiatan di Ponpes Darul Qur’an Krandon Kudus, enam penerima bisyaroh itu yakni Wahyu Indra Maulana asal Pati, Shihab Labib Ruwaifi Iswandy asal Muko-Muko, Bengkulu; Roihan Muhammad Iqbal Farid asal Kudus.
Kemudian Ahmad Syauqi Muhammad, putera Muhammadun asal Probolinggo, Jawa Timur, Mochamad Hakiki asal Semarang, dan Ahmad Bayu Al Azhar asal Jepara.
Program tersebut bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah. Sepanjang 2025, jumlah penerima tali asih tercatat mencapai 1.041 santri, dengan total bantuan sekitar Rp1,041 miliar.


