Peringati Pertempuran Lima Hari di Semarang, Ahmad Luthfi Kobarkan Semangat Juang
Rabu, 15 Oktober 2025 | 13.52

SEMARANG, puskapik.com - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Pertempuran Lima Hari di Semarang menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Untuk itu, ia mengaja...
SEMARANG, puskapik.com - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Pertempuran Lima Hari di Semarang menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa.
Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Jawa Tengah untuk menggelorakan semangat perjuangan dan pantang menyerah, dalam membangun Indonesia. Hal itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menjadi inspektur upacara Peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang yang digelar di kawasan Tugu Muda, Selasa, 14 Oktober 2025 malam. Hadir dalam kegiatan tersebut Sekda Jateng Sumarno, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, Forkopimda Jateng dan Kota Semarang, serta para veteran. Menurut Luthfi, para pahlawan bangsa seperti halnya dokter Kariadi dan kawan-kawannya, telah banyak memberi pelajaran tentang pengabdian, pengorbanan, perjuangan untuk Indonesia. Oleh karenanya, generasi penerus perjuangan bangsa, harus bisa mengadopsi nilai-nilai perjuangan dan kebersamaan, untuk diterapkan pada kerja dan karya, dalam konteks saat ini. "Perjuangan tidak pernah ada kata usai. Hari ini kita menghadapi berbagai tantangan serta cobaan dalam berbangsa dan bernegara," katanya. Luthfi menjabarkan, Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 37 juta masyarakat, 8.573 desa/kelurahan, 576 kecamatan, dan 35 kabupaten/kota. Daerah-daerah tersebut memiliki keragaman dan potensinya masing-masing. Oleh karenanya, semangat gotong royong perlu terus dijaga, agar provinsi ini semakin sejahtera. Dalam kesempatan itu, Ia juga berpesan agar seluruh masyarakat Jawa Tengah terus berkreasi, berinovasi, dan menjunjung tinggi nilai integritas. "Dari Kota Semarang dan Jawa Tengah, kita gelorakan semangat perjuangan dalam rangka membangun Indonesia," tutupnya. Adapun rangkaian upacara peringatan tersebut diawali dengan pembacaan nukilan sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang. Sejarah singkat tersebut dibacakan oleh St Sukirno. Di dalamnya diceritakan bagaimana masyarakat di Semarang waktu itu yang sedang merayakan kemerdekaan, mendapatkan gangguan dari tentara Jepang. Hingga pecahlah pertempuran lima hari di Semarang pada 14-18 Oktober 1945. Sejarah singkat tersebut juga ditampilkan dalam sebuah pertunjukan kolosal oleh Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus Semarang. Pertunjukan kolosal menjadi puncak dari rangkaian upacara peringatan Pertempuran Lima Hari Semarang. **Artikel Terkait

Setahun Nahkodai Jateng, Ahmad Luthfi–Taj Yasin Catat Pertumbuhan 5,37 Persen dan Perkuat Sinergi 35 Daerah

Refleksi Satu Tahun Dyah Kartika -Benny Karnadi Pimpin Kabupaten Kendal, Ini Capaiannya

Tinjau KDMP Winong, Menko Pangan : Perkuat Sinergi Ketahanan Pangan dan Ekonomi Rakyat
