Puluhan Warga Geruduk Kantor Desa Dukuhturi Bumiayu, Pertanyakan Keberadaan Mobil Siaga

Selasa, 1 September 2026 | 10.52
Audiensi Warga di Kantor Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, terkait mobil siaga.
Audiensi Warga di Kantor Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, terkait mobil siaga.

Puluhan warga Dukuhturi menggelar audiensi soal Mobil Siaga Desa dan pelayanan pemerintahan. Sorotan menguat setelah kendaraan disebut tak berada di lokasi saat tragedi Hogwan.

BREBES, puskapik.com — Puluhan warga Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, mendatangi kantor desa setempat untuk melakukan audiensi terkait pemerintahan desa, pelayanan kepada masyarakat, serta keberadaan dan penggunaan Mobil Siaga Desa, Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan surat pemberitahuan aksi bernomor 001/PA-DKT/IX/2026, aksi dimulai pukul 09.00 WIB dengan titik kumpul di depan Balai Desa Dukuhturi.

Massa aksi diperkirakan mencapai 30 orang, terdiri dari warga dan elemen masyarakat setempat.

Sejumlah tuntutan disampaikan dalam aksi tersebut, di antaranya evaluasi dan pertanggungjawaban Kepala Desa Dukuhturi, transparansi pengelolaan aset desa, penjelasan terbuka soal Mobil Siaga Desa, hingga permintaan agar dugaan pelanggaran yang disampaikan warga diperiksa secara objektif dan transparan.

Baca Juga: Jateng Kembali Kirim Bantuan Korban Gempa NTT, Fokus Atasi Kebutuhan Dasar

Aksi tersebut turut diikuti oleh sejumlah keluarga korban insiden runtuhnya bangunan pabrik Hogwan yang terjadi pada Minggu (30/8/2026).

Warga menyoroti Mobil Siaga Desa yang disebut tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung, padahal kendaraan itu dibutuhkan untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit.

Audiensi berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB dan diterima langsung oleh Kepala Desa Dukuhturi, Achmad Effendi.

Baca Juga: PMI Salurkan Santunan untuk Keluarga Korban Gedung Hogwan Bumiayu

Turut hadir Pelaksana Tugas (Plt) Camat Bumiayu, Hendra Pradistyo Busono, bersama perwakilan dari Polsek dan Koramil setempat.

Koordinator Aksi, Andriyanto, mengatakan runtuhnya bangunan pabrik Hogwan perlu dievaluasi. Andri juga menyoroti keberadaan mobil siaga yang tidak ada ditempat saat peristiwa terjadi.

"Sangat miris melihat di medsos seorang bapak menggendong anak yang menjadi korban mencari kendaraan untuk membawa anaknya ke rumah sakit," katanya.

Warga berharap pihak terkait dapat menerima dan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan. Jika tuntutan tidak mendapatkan penyelesaian yang jelas, warga menyatakan akan menempuh jalur pengaduan ke instansi berwenang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Hingga berita ini ditulis, audiensi antara warga dan pemerintah desa masih berlangsung.

Artikel Terkait