Santri Laju Madrasah Budaya Pungkuran Kendal Patahkan Stigma, Mahir Bermusik hingga Berbahasa Inggris

Minggu, 5 Juli 2026 | 19.02
Pagelaran seni dan akhirussanah santri laju madrasah budaya Pungkuran Kaliwungu. (edhot)
Pagelaran seni dan akhirussanah santri laju madrasah budaya Pungkuran Kaliwungu. (edhot)

Santri Laju Madrasah Budaya Pungkuran membuktikan santri tak hanya mahir ilmu agama, tetapi juga bermusik, berteater, bersastra, dan berbahasa Inggris.

KENDAL, puskapik.com – Tepuk tangan panjang menggema di halaman Madrasah Budaya Pondok Pesantren Pungkuran, Kaliwungu, Sabtu (4/7/2026) malam.

Bukan hanya karena lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibaca para santri, tetapi juga penampilan mereka yang sukses memadukan seni, budaya, dan pendidikan dalam satu panggung akhirussanah.

Jika selama ini santri identik dengan kitab kuning dan kegiatan keagamaan, malam itu para santri membuktikan mereka juga piawai memainkan alat musik, berteater, menulis puisi, hingga berpidato menggunakan bahasa Inggris.

Baca Juga: Proyek Dok Kapal di Kramat Tegal Langgar Aturan Tata Ruang, Komisi III Tegas Dihentikan Sementara

Pertunjukan seni bertajuk Pagelaran Seni Santri Laju menjadi panggung unjuk kemampuan para santri setelah mengikuti pembelajaran selama satu tahun di Madrasah Budaya Pondok Pesantren Pungkuran.

Satu demi satu penampilan disuguhkan. Mulai dari dialog berbahasa Inggris, pembacaan puisi karya santri, hingga pementasan teater yang mengundang decak kagum para wali santri dan tamu undangan.

Penampilan yang paling menyita perhatian adalah konser mini yang dimainkan para santri.

Baca Juga: 9 ASN Brebes Tersangka Absen Fiktif, Sekda Jateng Dorong Penguatan Integritas dan Pengawasan Berlapis

Dengan percaya diri mereka menguasai gitar, bass, keyboard, dan drum. Atraksi semakin memukau saat alat musik modern dipadukan dengan gamelan dan angklung dalam aransemen lagu Laskar Cinta.

Kolaborasi tersebut menghadirkan nuansa baru yang memadukan musik kontemporer dengan kekayaan budaya Nusantara. Penonton pun beberapa kali memberikan tepuk tangan sepanjang pertunjukan.

Malam itu ditutup dengan lagu legendaris Rumah Kita yang dibawakan bersama oleh santri dan para pengajar. Lagu tersebut dipilih sebagai simbol kebersamaan di Madrasah Budaya.

Pembina Santri Laju Madrasah Budaya Pungkuran, H Abdul Muis atau Gus Muis, mengatakan konsep pendidikan yang dikembangkan berupaya menghidupkan kembali tradisi pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama dan akhlak, tetapi juga memberi ruang bagi setiap santri untuk mengembangkan bakatnya.

"Rumah Kita ini adalah simbol dari Santri Laju. Semua kreasi santri dan dewan pengajar yang bersatu di Madrasah Budaya adalah rumah bagi kita semua," katanya.

Menurut Gus Muis, seluruh kegiatan pendidikan di Santri Laju diberikan secara gratis. Para pengajar mengabdikan diri tanpa menerima bayaran sebagai bentuk sedekah ilmu kepada para santri.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait