Sheila On 7 Kembali Tampil di Live Project 2026: Mens Sambat in Corporesano” Cara Baru Menikmati Festival Musik

Sheila On 7 melengkapi line-up Live Project 2026 di Semarang pada 31 Oktober. Festival musik ini hadir dengan konsep “sambat” sebagai ruang interaksi dan pelepasan stres.
SEMARANG, puskapik.com - Grup band Sheila On 7 dipastikan menjadi nama terakhir yang melengkapi line-up Live Project 2026.
Tak sekadar menghadirkan deretan musisi papan atas, festival musik yang digelar di Lanud Ahmad Yani Semarang, 31 Oktober 2026, itu juga membawa konsep tak biasa: mengajak penonton “sambat” sebagai bagian dari pengalaman menikmati konser.
Memasuki penyelenggaraan edisi keempat sejak pertama kali digelar pada 2022, Live Project 2026 menggandeng NKSTHI (Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini) melalui konsep “Mens Sambat in Corpore Sano”. Konsep tersebut dikemas sebagai ruang interaksi dan pelepasan stres bagi pengunjung di tengah rutinitas kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: 1.488 Pramuka Jateng di Jambore Nasional, Ahmad Luthfi: Pulang Harus Jadi Pemimpin
Festival Director MHT Live, Adi Sudono Rahmat, mengatakan konsep tersebut merupakan bagian dari evaluasi penyelenggaraan Live Project sebelumnya. Masukan dari penonton, menurut dia, tidak berhenti pada catatan evaluasi, tetapi diterjemahkan menjadi pembaruan dalam penyelenggaraan tahun ini.
“Kami sudah mendengarkan berbagai masukan dari penyelenggaraan sebelumnya. Tahun ini kami tidak hanya melakukan pembenahan secara operasional, tetapi juga menghadirkan pendekatan baru melalui “Mens Sambat in Corpore Sano” agar pengalaman penonton terasa lebih relevan dan menyenangkan,” kata Adi, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga: Mahasiswa KKN UNDIP Jemput Bola Layani Kesehatan Warga Dawungsari Kendal Lewat Program Jumat Sehat
Kehadiran Sheila On 7 menjadi penutup jajaran enam penampil yang sebelumnya telah diumumkan, yakni Good Morning Everyone, Lomba Sihir, Kunto Aji, Mahalini, Afgan, dan The Changcuters.
Live Project 2026 menawarkan kombinasi lintas genre dan generasi dalam satu panggung. Kehadiran Sheila On 7 sekaligus menjadi magnet tersendiri bagi penonton Semarang yang ingin kembali menyaksikan band tersebut secara langsung.
Bagi basis Sheila On 7, Adam Subarkah, Semarang memiliki kedekatan tersendiri karena karakter penontonnya yang dinilai hangat dan antusias.
“Kami senang sekali bisa kembali konser di Semarang. Setiap tampil di kota ini selalu terasa spesial karena antusiasme penontonnya luar biasa. Semoga nanti di Live Project 2026 kami bisa bertemu lagi dengan teman-teman di Semarang dan membawa malam yang menyenangkan untuk semua,” ujar Adam.
Bagi Adam, Semarang menjadi kota yang selalu menyambut Sheila On 7 dengan baik. Untuk itu, Duta cs bersepakat akan selalu menjaga kecintaan penggemarnya di Semarang, dengan menampilkan karya musik dan penampilan sesuai keinginan mereka.
Adam berharap sambutan Sheila Gank di Semarang dan kota” sekitarnya akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Secara pribadi Adam menganggap Semarang jadi salah satu kota yang selalu menyambut Sheila On 7 dengan baik.
“Sambat” Jadi Pengalaman Festival
Berbeda dari konsep festival musik yang hanya berfokus pada penampilan di atas panggung, Live Project 2026 mencoba memperluas pengalaman pengunjung sejak mereka memasuki kawasan acara.
Melalui kolaborasi dengan NKSTHI, konsep “Mens Sambat in Corpore Sano” akan diwujudkan dalam berbagai instalasi visual dan penggunaan bahasa sehari-hari yang dekat dengan masyarakat.
Pengunjung diajak berinteraksi, merespons, sekaligus menemukan berbagai bentuk “sambat” dalam perjalanan menuju area festival.
Pesan yang ingin dibangun sederhana: mengeluh atau bercerita tentang persoalan sehari-hari merupakan bagian wajar dari pengalaman manusia. “Sambat” tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif, tetapi dapat menjadi pintu untuk mengenali dan mengelola perasaan.
Aik dari NKSTHI mengatakan, kolaborasi tersebut berangkat dari semangat yang sama, yakni menerima berbagai persoalan yang memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sembari mencari cara yang lebih menyenangkan untuk meresponsnya.
“Dari situlah kami mencoba membawa sambat menjadi bagian dari pengalaman Live Project tahun ini,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus diharapkan menjadi ruang stress release bagi pengunjung sebelum maupun saat menikmati rangkaian pertunjukan musik.
Di luar konsep kreatif, penyelenggara menargetkan peningkatan kualitas teknis dan operasional. Evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya diterjemahkan ke sejumlah aspek, mulai dari pengelolaan arus pengunjung, kenyamanan fasilitas, crowd management, hingga sistem penataan suara.
Adi mengatakan, Live Project tidak ingin hanya berkembang dari sisi jumlah penonton maupun skala acara. Festival tersebut juga ditargetkan semakin matang dalam memberikan pengalaman yang aman, nyaman, dan berkesan.
“Bagi kami, setiap evaluasi harus diterjemahkan menjadi langkah nyata, setiap masukan menjadi bagian dari pembelajaran, dan setiap pembaruan menjadi bentuk komitmen kami untuk terus bertumbuh bersama audiens,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Adam. Menurut dia, Live Project memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda musik tahunan yang dinantikan masyarakat Semarang.
“Kami melihat Live Project punya potensi menjadi salah satu momen yang harus dinantikan setiap tahun. Harapannya, penonton bisa datang, menikmati konser dengan nyaman, dan pulang membawa pengalaman yang menyenangkan,” katanya.
Sejak pertama kali digelar pada 2022, Live Project terus berkembang sebagai salah satu festival musik tahunan di Semarang. Pada edisi keempat ini, penyelenggara tidak hanya menjual pertunjukan musik, tetapi mencoba membangun pengalaman yang lebih utuh—mulai dari “sambat”, berinteraksi, menikmati musik, hingga pulang dengan pengalaman yang berkesan.
Live Project 2026 akan berlangsung pada 31 Oktober 2026 di Lanud Ahmad Yani Semarang, dengan Sheila On 7 sebagai pamungkas line-up dan kolaborasi NKSTHI sebagai salah satu warna baru yang membedakan gelaran tahun ini. Penonton diperkirakan akan membeludak hingga 30.000 pengunjung sebagai target dari penyelenggara. **