Fakta-fakta Jejak Meteor di Jawa; Dari Kyai Pamor hingga Bola Api di Langit Cirebon
Rabu, 8 Oktober 2025 | 05.15 WIB

TEGAL, puskapik.com – Suara dentuman keras menyusul cahaya bola api di langit Cirebon dan sekitarnya pada Minggu petang 5 Oktober 2025 menggegerkan masyarakat hingga ramai diperbincangkan di media sos...
TEGAL, puskapik.com – Suara dentuman keras menyusul cahaya bola api di langit Cirebon dan sekitarnya pada Minggu petang 5 Oktober 2025 menggegerkan masyarakat hingga ramai diperbincangkan di media sosial.
Banyak warga mengira ledakan itu berasal dari pesawat atau bahan peledak, namun hasil analisis peneliti menunjukkan dugaan lain yakni adanya meteor berukuran besar melintas di langit Jawa Barat.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan, data seismik BMKG Cirebon menunjukkan adanya getaran di wilayah Astanajapura sekitar pukul 18.39 WIB.
Selain itu, rekaman CCTV memperlihatkan cahaya bola api yang meluncur cepat di angkasa dan ada saksi di Tasikmalaya yang melihat objek seperti meteor.
Berdasarkan fakta-fakta itu, Thomas Djamaludin menyimpulkan bahwa benda tersebut merupakan meteor. Meteor tersebut kemudian melintas ke wilayah Kuningan dan Cirebon.
"Berdasarkan fakta-fakta tersebut, saya menyimpulkan fenomena dentuman di Cirebon dan sekitarnya adalah meteor cukup besar." kata Thomas dalam analisisnya, Senin 6 Oktober 2025.
Batu Misterius Jatuh di Tegal, Diduga Pecahan Meteor
Fenomena itu rupanya tak berhenti di Cirebon saja. Dalam waktu yang bersamaan, warga di Kabupaten Tegal dikejutkan dengan benda hitam bercahaya yang jatuh dari langit di Desa Jatilaba, Kecamatan Margasari.
Batu berwarna hitam pekat dengan berat sekitar 3 kilogram itu jatuh dengan semburan api dan suara dentuman keras.
Saksi pertama, Ibnu (11), siswa SDN Jatilaba 04, mengaku melihat benda itu mengeluarkan asap putih sesaat setelah menghantam tanah.
Ibnu dan teman-temannya akhirnya berteriak dan membuat warga berdatangan. Wasroni (40) yang mendengar teriakan anak-anak, langsung membawa batu itu ke rumahnya.
"Batu ini agak lain dengan batu pada umumnya. Warnanya hitam dan berbentuk seperti segitiga," kata Wasroni yang akrab disapa Wao, Selasa 7 Oktober 2025.
Wao sempat terganggu dengan banyaknya warga yang ingin melihat batu tersebut. Batu yang saat dibenturkan berbunyi nyaring ini, disimpan rapi.
Namun Wao tidak tahu mau diapakan batu tersebut. Menurutnya batu meteor itu sangat spesial, karena belum pernah melihat batu misterius tersebut.
Kisah Meteor Kyai Pamor yang Jadi Pusaka Keraton Surakarta
Peristiwa benda langit jatuh bukan hal baru di Jawa. Sejarah mencatat, pada masa awal berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta, juga pernah ditemukan meteorit.
Meteorit tersebut disakralkan dan diberi nama Kanjeng Kyai Pamor oleh Keraton Kasunanan Surakarta. Benda langit itu ditempatkan di tempat khusus di bagian utama Keraton Kasunanan Surakarta.
Meteor itu jatuh pada tahun 1700-an di kawasan Prambanan. Batu itu pecah menjadi dua dan juga terdapat serpihan-serpihan.
Bongkahan kecil meteor itu pada 13 Februari 1784 diambil atas perintah Raja Pakubuwono III dan dibawa ke keraton. Konon meteorit tersebut besarnya seukuran buah kelapa.
Kemudian pecahan besar pada 12 Februari 1797, atas perintah Pakubuwono IV dibawa ke keraton. Besarnya kira-kira 1 meter kubik. Pada masa Pakubuwono IX, dibangun cungkup khusus untuk Kyai Pamor di Keraton Kasunanan Surakarta.***



