Lulusan Sekolah Rakyat Mau Dibawa ke Mana? Ini Solusi Strategis yang Diusulkan Sekda Jateng

Selasa, 15 September 2026 | 15.53
puskapik

Sekda Jateng Sumarno mendorong masa depan peserta Sekolah Rakyat disiapkan hingga pendidikan vokasi atau perguruan tinggi untuk memutus kemiskinan antargenerasi

JAKARTA, puskapik.com – Masa depan peserta Sekolah Rakyat menjadi salah satu perhatian Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno dalam pembahasan pengentasan kemiskinan lintas kementerian.

Menurutnya, pendidikan yang diberikan melalui Sekolah Rakyat perlu disiapkan hingga jenjang setelah lulus, baik melalui pendidikan vokasi maupun kesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Gagasan tersebut menjadi salah satu rekomendasi yang dirumuskan Sumarno bersama timnya dalam program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Jenjang Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Utama/Madya Tahun 2026.

Baca Juga: Pemprov Jateng Gandeng Rumah Sakit Swasta Tingkatkan Jangkauan Layanan Kesehatan Masyarakat

Rekomendasi itu bahkan telah disampaikan langsung kepada Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam pertemuan daring pada 8 September 2026.

“Untuk Sekolah Rakyat ini, rekomendasinya adalah menentukan arah ke depan, apakah akan diarahkan ke pendidikan vokasi atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi,” kata Sumarno seusai mengikuti Graduation RPL Program Khusus Jenjang JPT Utama/Madya Tahun 2026 di Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Sumarno, pembahasan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran yang mengangkat tema Orkestrasi Kebijakan Lintas Sektor dalam Pengentasan Kemiskinan.

Baca Juga: TeaterQi Gelar Tur Empat Kota, Bangun Pagi Bahagia Angkat Kisah Persahabatan Penuh Makna

Peserta tidak hanya mengikuti pembelajaran di kelas dan e-learning, tetapi juga menyusun rencana aksi kolaboratif berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi pemerintah.

Sebanyak 28 peserta dibagi dalam tiga kelompok isu. Masing-masing membahas integrasi data untuk pemanfaatan data terpadu sosial ekonomi, bantuan sosial adaptif untuk mencegah kemiskinan baru, serta Sekolah Rakyat sebagai investasi modal manusia untuk memutus kemiskinan antargenerasi.

Sumarno berada dalam tim yang membahas Sekolah Rakyat. Dari proses tersebut, ia melihat bahwa persoalan kemiskinan tidak bisa diselesaikan secara sektoral, karena melibatkan banyak aspek sekaligus.

Ia mengatakan, forum tersebut mempertemukan pejabat dari berbagai kementerian dan lembaga dengan pengalaman serta perspektif yang berbeda. Interaksi itu sekaligus membuka jejaring baru yang dapat memperkuat kerja kolaboratif pemerintah daerah.

“Kita mendapat banyak sekali pembelajaran melalui diskusi-diskusi dengan teman-teman, dan kita juga memberi rekomendasi Kementerian Sosial untuk menyelesaikan problem-problem yang di kelompok kami,” kata Sumarno.

Bagi Sumarno, selain mendapatkan pembelajaran baru, jejaring yang terbentuk selama program menjadi modal penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjalankan pemerintahan.

Kepala LAN Muhammad Taufiq mengatakan, pendekatan dalam RPL tersebut memang dirancang agar peserta tidak berhenti pada diskusi dan rekomendasi. Sebab, persoalan kemiskinan merupakan persoalan ekosistem yang memiliki banyak dimensi, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga teknologi.

Halaman 1 dari 2