Idul Adha dan Konsep Pendidikan Andragogi Ismail bin Ibrahim

Luangkan waktu sejenak untuk mencoba menghayati kisah Nabi Ibrahim dan sang putra, Nabi Ismail dari perspektif pendidikan keluarga
Penulis : Pri Jakaria
Penggagas Reumah Explorasi Indonesia
puskapik.com - Idul Adha selalu melekat dengan sejarah Nabi Ibrahim 'alaihissalam, sang abul anbiya yang dengan ketaatan serta pengorbanannya menjadi sebab beliau memiliki hubungan karib dengan Allah subhanahu wata'ala, sehingga kepadanya disematkan gelar Khalilullah.
Selain itu juga Ibrahim dijuluki sebagai Ayahnya para nabi, yang darinya lahir agama agama samawi.
Berpuluh tahun lamanya sang Nabi menanti untuk dikaruniai seorang anak. Hingga Lahirlah Ismail 'alaihissalam, seorang putra dari rahim bunda Hajar.
Baca Juga: Libur Idul Adha, Penumpang di Stasiun Batang Meningkat 88,4 Persen
Ismail yang sama ta'atnya sebagaimana ayahanda yang memiliki ketaatan kepada Allah tidak pernah sekalipun menyekutukannya kepada apa dan siapapun, juga senantiasa berserah penuh atas ketetapan-Nya.
Pada suatu waktu, sang Ayah menyampaikan sebuah pesan kepada putra tercinta.
Ibrahim menceritakan perihal mimpi yang datang kepadanya. Mimpi yang merupakan sebuah wahyu dan perintah dari Allah ta'ala.
Perintah yang sungguh berat bagi siapapun jika menjalankannya. Yakni sebuah perintah untuk menyembelih sang putra terkasih, Ismail.
Jika ada satu pengorbanan yang paling berat di dunia. Maka mengorbankan seorang anak adalah pengorbanan yang tiada taranya.
Pegorbanan Ibrahim adalah teladan bagi kita semua. Dari hikayat ini lahir satu syariat ibadah bagi umat islam yaitu berkurban.
Namun tidak hanya itu, pada kesempatan kali ini, coba kita menilisik pada perspektif yang berbeda.
Luangkan waktu sejenak untuk mencoba menghayati kisah Ibrahim dan sang Putra, Ismail dari perspektif pendidikan keluarga.
Dalam kisahnya, terdapat proses dialog antara ayah dan anak.
Hal ini menjadi refleksi yang mengandung muatan andragogis di dalamnya.
Baca Juga: Harga Emas UBS Hari Ini, Pecahan 1 Gram Dibanderol Rp2,825 Jt
"Wahai anaku" berkata Ibrahim, "Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?" Ibrahim 'alaihissalam mengutarakan perihal mimpi yang merupakan wahyu dari Allah atas perintah untuk menyembelih Ismail.
"Wahai Ayahku" Ismail Menjawab, "Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" tanpa ada keraguan Ismail alaihi salam berserah atas perintah Allah yang diberikan kepada Ayahnya.
Yang menarik dalam hal ini adalah bagaimana Nabi Ibrahim alaihissalam melakukan proses dialog bersama putranya.
Sebagai seorang rosul yang mendapat perintah langsung dari sang pemilik takdir, ia tidak serta merta melaksanakannya secara otoriter dan sepihak.
Pertanyaan yang menjadi cerminan betapa sang Abul Anbiya adalah sosok yang bijaksana, terlebih lagi dalam menjalankan proses pendidikan.
"Pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" Adalah sebuah upaya dialog yang romantis antara ayah dan anak.
Selain menanamkan tauhid yang menumbuhkan ketaatan di hati Ismail, proses demokrasi juga dilaksanakan dalam proses pendidikan keluarga Ibrahim.
Kehendak Berpikir Merdeka
Dalam konsep pendidikan modern, proses pendidikan Ibrahim yang dijalankan kepada putranya biasa disebut dengan konsep andragogi.
Andragogi merupakan konsep pendidikan dimana peserta atau subjek dalam proses belajar dianggap memiliki kehendak berpikir yang merdeka.
Proses belajar tidak terjadi pada pemberian materi satu arah saja, melainkan dijalankan melalui proses diskusi mendalam untuk lebih meningkatkan pemahaman.
Ciri khas dari proses belajar Andragogis adalah adanya proses dialog dan diskusi yang merdeka.
Pendamping belajar seperti guru atau orang tua memiliki posisi setara (egaliter) dengan anak sebagai peserta didik.
Dimana orang tua atau guru berperan sebagai fasilitator yang memantik terjadinya proses belajar.
Proses belajar andragogi tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata, namun lebih menekankan pada menumbuhkan pemahaman mendalam melalui upaya dialogis.
Kebijaksanaan Nabi Ibrahim terejawentah dalam upayanya menggali pendapat Ismail atas perintah yang ia terima.
Bukan karena semata-mata ia adalah seorang nabi dan rosul yang karib dengan penciptanya, atau tidak semata-mata ibrahim adalah seorang ayah yang dari kebanyakan ayah merasa memiliki kehendak atas segala keputusan hidup anak, melainkan Ibrahim melakukan pendekatan yang lebih humanis dimana sang anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.
Harapannya, keteladanan Ini bisa jadi bahan refleksi kita sebagai orang tua, ataupun guru yang memiliki peran sebagai pendidik.
Ibrahim jelas memberikan percontohan kepada kita bahwa proses pendidikan tidak terjadi pada satu arah saja. Upaya dialog dua arah merupakan upaya yang humanis dan membangun.
Terkadang sebagai orang tua dirumah atau sebagai guru di sekolah kerap kali terbuai dengan posisi merasa diatas yang punya wewenang pengambil keputusan utama.
Padahal proses demokrasi juga mesti diupayakan. Pendapat dari berbagai lini hingga akar rumput juga mesti menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan keputusan.
Ibrahim dan Ismail adalah contoh nyata pendidikan andragogi yang merdeka, humanis juga demokratis.
Semoga kita sebagai orang tua dapat meneladaninya.***



