Ajeng Triyani: Pesantren Sumber Ilmu dan Adab, Bukan Komoditas Sensasi Televisi

Rabu, 15 Oktober 2025 | 02.16
Ajeng Triyani: Pesantren Sumber Ilmu dan Adab, Bukan Komoditas Sensasi Televisi

PEMALANG, puskapik.com – Anggota DPRD Pemalang, Ajeng Triyani, menyesalkan munculnya tayangan salah satu program di Trans7 yang menampilkan narasi negatif terhadap pesantren dan kehidupan santri. Ajen...

PEMALANG, puskapik.com – Anggota DPRD Pemalang, Ajeng Triyani, menyesalkan munculnya tayangan salah satu program di Trans7 yang menampilkan narasi negatif terhadap pesantren dan kehidupan santri. Ajeng menilai tayangan tersebut tidak hanya melukai perasaan masyarakat pesantren, tetapi juga menunjukkan lemahnya sensitivitas media terhadap nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal. “Saya menyesalkan tayangan yang menggambarkan pesantren secara keliru dan menyinggung kehidupan para kiai serta santri." kata Ajeng dalam keterangan pers, Selasa 14 Oktober 2025. "Bagi kami, pesantren adalah sumber ilmu, adab, dan peradaban. Narasi seperti itu sangat tidak pantas muncul di televisi nasional,” lanjutnya. Sebagai politisi muda yang tumbuh dalam lingkungan Nahdliyin, ia memahami betul bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan moral bangsa. Menurut Ajeng, pesantren telah berperan penting sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini dalam membentuk masyarakat yang berakhlak, mandiri, dan berdaya saing. “Santri itu bukan hanya belajar kitab. Mereka belajar menghormati, melayani, dan berjuang. Nilai-nilai itu yang justru menjadikan bangsa ini punya akar kuat." tegas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. Maka jika ada media menggambarkannya secara sempit, kata Ajeng Triyani, hal itu sama saja mengaburkan jati diri bangsa. Ajeng juga menyoroti bahwa masyarakat Kabupaten Pemalang memiliki banyak pondok pesantren besar dan kecil yang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Maka itu, ia menyebut bahwa reaksi publik terhadap tayangan tersebut sangat wajar dan harus dihargai sebagai bentuk kepedulian terhadap martabat pesantren. “Di Pemalang, hampir di setiap kecamatan ada pesantren. Banyak kiai dan santri yang ikut membangun kehidupan masyarakat dari bawah — dari pendidikan, sosial, sampai kegiatan ekonomi." jelas Ajeng. "Jadi wajar jika masyarakat tersinggung. Ini bukan soal emosional, tapi soal harga diri dan kehormatan pesantren,” sambungnya. Ajeng mengingatkan bahwa media memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Maka semestinya media juga memiliki kepekaan sosial dan kultural. "Jangan hanya mengejar sensasi, tapi hilang arah dalam memahami nilai-nilai bangsa,” tandasnya. Terakhir, Ajeng menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang sehat antara kalangan pesantren, masyarakat, dan media agar tidak terjadi kesalahpahaman serupa di masa depan. Ia menyebut bahwa media juga berpotensi menjadi mitra strategis dalam memperkenalkan pesantren secara positif kepada generasi muda. “Kita tidak menolak kritik, tapi kita ingin ada keseimbangan. Media bisa jadi jembatan edukasi publik tentang pesantren, bukan malah sumber salah paham. Kalau ini disikapi dengan bijak, justru bisa menjadi momentum memperkuat saling pengertian,” tutupnya. Diketahui, tagar #BoikotTrans7 viral di media sosial usai tayangan program Xpose Uncensored pada 13 Oktober 2025 dianggap melecehkan dan menyinggung martabat kiai serta pondok pesantren. Dalam tayangan tersebut, muncul sejumlah narasi yang dinilai merendahkan kehidupan pesantren, seperti “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan pondok?”. Tayangan itu juga menyinggung soal kiai “Kiai kaya raya tapi umat kasih amplop.” serta menyoroti penggunaan mobil mewah oleh kiai dan bahkan membahas harga outfit mereka. Program yang tayang pada sore hari itu menuai kecaman dari berbagai pihak, terutama kalangan pesantren dan alumni santri di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Pemalang. **

Artikel Terkait