Berawal dari Ancaman Rob, Ekowisata Mangrove Mulyosari Pekalongan Raih Nominasi Kalpataru

Sabtu, 16 Mei 2026 | 11.13
puskapik

Berawal dari ancaman rob, warga Mulyosari sulap lahan pesisir jadi ekowisata mangrove hingga raih nominasi Kalpataru dan pusat edukasi lingkungan.

PEKALONGAN, puskapik.com – Berawal dari keresahan warga terhadap banjir rob yang terus mengancam kawasan pesisir, lahan terlantar di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan kini bertransformasi menjadi kawasan Ekowisata Mangrove Mulyosari dan pusat edukasi lingkungan melalui Sekolah Mangrove.

Pengembangan kawasan mangrove tersebut dimulai sejak tahun 2019. Saat itu, rob yang terus terjadi menyebabkan sejumlah lahan tidak lagi produktif dan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Banawa Sekar dan sejumlah pihak melakukan upaya rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove secara bertahap.

Baca Juga: Update Gunung Slamet Terkini, 28 Kali Gempa Low Frequency

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Banawa Sekar, Muh Ridho, mengatakan upaya tersebut awalnya dilakukan sebagai bentuk ikhtiar masyarakat dalam mengatasi dampak rob yang semakin mengkhawatirkan.

"Awalnya karena kondisi rob sangat meresahkan warga. Banyak lahan yang akhirnya terbengkalai dan tidak produktif. Dari situ kami mulai bergerak menanam mangrove dan perlahan mengembangkan kawasan ini menjadi tempat edukasi dan wisata," ujar Muh Ridho.

Ia menjelaskan, berbagai jenis mangrove ditanam di kawasan tersebut, mulai dari Sonneratia atau kapidada, Avicennia yang dikenal masyarakat sebagai brayo atau api-api, Rhizophora atau bakau, hingga Bruguiera yang biasa disebut lindur atau tancang.

Baca Juga: Banjir Sungai Waridin Kendal Putuskan Jembatan Antar Kecamatan, Warga Terancam

Menurut Muh Ridho, keberadaan mangrove memiliki manfaat besar bagi lingkungan pesisir karena membantu menahan abrasi, memperlambat dampak rob, serta menjadi habitat berbagai jenis biota.

"Kami ingin masyarakat memahami bahwa mangrove bukan sekadar pohon di pesisir, tetapi memiliki peran penting bagi kehidupan dan keberlanjutan lingkungan," katanya.

Perkembangan kawasan tersebut kini mulai menunjukkan hasil. Selain menjadi lokasi konservasi dan pembelajaran, Ekowisata Mangrove Mulyosari juga mendapat perhatian lebih luas hingga memperoleh nominasi Kalpataru kategori penyelamat lingkungan.

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui gerakan berbasis komunitas.

Salah seorang warga, Rohman, mengaku perubahan kawasan pesisir mulai dirasakan masyarakat.

"Dulu rob sering mengganggu dan banyak lahan yang terbengkalai. Sekarang kawasan lebih tertata, hijau, dan mulai banyak dikunjungi orang," ungkapnya.

Dengan kolaborasi masyarakat dan berbagai pihak, kawasan Ekowisata Mangrove Mulyosari diharapkan terus berkembang sebagai pusat konservasi, edukasi, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir. **

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait