Plt Bupati Pekalongan Minta Kebutuhan Telur MBG Disuplai dari Peternak Lokal

Sabtu, 13 Juni 2026 | 21.26
Rakor MBG Pemprov Jateng
Rakor MBG Pemprov Jateng

Pemkan Pekalongan mendorong agar kebutuhan telur untuk Program MBG disuplai dari peternak lokal agar memberi manfaat ekonomi langsung kepada peternak daerah

PEKALONGAN, puskapik.com – Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendorong agar kebutuhan telur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disuplai dari peternak lokal.

Langkah ini dinilai penting agar program nasional tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi peternak dan pelaku usaha pangan di daerah.

Komitmen tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan, Sukirman, usai mengikuti Rapat Koordinasi Tata Kelola Penyelenggaraan dan Rantai Pasok Bahan Baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tingkat Jawa Tengah di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Jumat 12 Juni 2026.

Menurut Sukirman, evaluasi MBG kali ini menitikberatkan pada penguatan rantai pasok bahan baku agar petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal memperoleh porsi yang lebih besar dalam penyediaan kebutuhan program.

Baca Juga: 38 Tim Ikuti Turnamen Bola Voli Piala Kapolres Pemalang, Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80

"Fokus pembahasan hari ini adalah bagaimana rantai pasokan bahan baku bisa lebih melibatkan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal. Selama ini masih ada sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan, termasuk terkait harga dan mekanisme distribusi," ujarnya.

Salah satu isu utama yang mengemuka dalam rapat adalah rendahnya keterlibatan peternak telur lokal dalam memasok kebutuhan MBG.

Padahal, Jawa Tengah merupakan salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia.

Menurut Sukirman, masih terdapat persoalan harga yang membuat rantai distribusi belum berjalan optimal dan berpotensi merugikan peternak maupun pedagang.

"Pembahasan banyak mengarah pada komoditas telur. Kita mencari solusi terbaik agar peternak lokal dapat terakomodasi dalam rantai pasok bahan baku MBG tanpa merugikan pihak manapun," jelasnya.

Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Kabupaten Pekalongan, tetapi juga menjadi perhatian pemerintah provinsi setelah adanya aspirasi dari asosiasi peternak telur di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan bahwa rapat koordinasi digelar sebagai tindak lanjut atas keluhan peternak petelur yang mengaku belum merasakan dampak signifikan dari Program MBG.

Menurutnya, kapasitas produksi telur di Jawa Tengah sangat besar, namun tingkat penyerapannya untuk kebutuhan MBG masih jauh dari harapan. Di sisi lain, harga telur di pasaran saat ini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.

"Produksi telur kita melimpah, tetapi yang terserap untuk Program MBG masih sangat kecil. Harga pasar juga berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram, sementara harga acuannya Rp26 ribu. Ini yang sedang kita carikan solusinya bersama," kata Taj Yasin.

Ia menegaskan bahwa bahan baku Program MBG harus berasal dari masyarakat lokal sehingga manfaat program dapat dirasakan langsung oleh petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan di daerah.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait