Warga Tiga Desa Datangi Pabrik Sepatu PT HAI Pekalongan , Isu Pungutan dan Minimnya Serapan Tenaga Lokal Disorot

Warga tiga desa desak transparansi rekrutmen PT HAI, soroti isu pungutan dan minimnya serapan tenaga kerja lokal.
PEKALONGAN, puskapik.com – Warga dari tiga desa di sekitar kawasan industri, yakni Desa Sampih (Kecamatan Wonopringgo), serta Desa Wangandowo dan Sokosari (Kecamatan Karanganyar), mendesak pihak PT Hardases Abadi Indonesia (HAI) untuk membuka secara transparan proses rekrutmen tenaga kerja.
Desakan ini mencuat seiring beredarnya isu adanya pungutan dalam proses perekrutan, serta belum meratanya penyerapan tenaga kerja lokal, khususnya pelamar laki-laki.
Direktur BUMDes Wangandowo, Zulfikar Tagayo, mengatakan persoalan rekrutmen menjadi perhatian utama masyarakat.
Baca Juga: Usai Bebas Bersyarat, Mukti Agung Pilih Fokus Usaha Keluarga dan Cooling Down dari Politik
Hingga kini, masih banyak pelamar laki-laki dari tiga desa tersebut yang belum mendapatkan kesempatan bekerja, meskipun dalam setiap pembukaan lowongan disebut selalu mencantumkan kebutuhan tenaga kerja laki-laki.
“Dari tiga desa ini, masih banyak pelamar laki-laki yang belum direkrut. Padahal hampir setiap rekrutmen itu ada kebutuhan tenaga laki-laki,” ujarnya usai audiensi di PT HAI di wilayah Bojong, Jumat (24/4/2026).
Selain itu, isu adanya pungutan dalam proses rekrutmen turut memperkeruh situasi.
Baca Juga: Dongkrak Ekonomi Pesisir, Pemkab Tegal Usulkan Dua “Kampung Nelayan Merah Putih” ke KKP
Di masyarakat beredar informasi bahwa pelamar yang ingin segera diterima bekerja harus membayar sejumlah uang, dengan nominal berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Meski demikian, Zulfikar menegaskan informasi tersebut masih sebatas isu yang belum terverifikasi.
“Ini masih sebatas pembicaraan di masyarakat. Namun, informasinya sudah ada oknum yang dilaporkan ke Polres Pekalongan terkait dugaan tersebut,” jelasnya.


