Ijo Sage Ajang Diskusi dan Berbagi Pengalaman para Seniman Pemalang

Dalang anak dan remaja Pemalang tampil dalam Ijo Sage, sekaligus menjadi wadah generasi muda belajar dan melestarikan seni wayang kulit serta kesenian Jawa.
PEMALANG, puskapik.com - ALUNAN gending yang terasa rancak dan cepat memecah keheningan malam di pinggir jalan Tol, Desa Mengori, Kecamatan, Kabupaten Pemalang.
Sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Yayasan Roda Kendali Mengori (YRKM) dengan tekun memainkan setiap nada dalam permainan gending.
Iringan gamelan yang terasa menggugah semangat tersebut diperuntukkan mengiringi pertunjukan fragmen budalan dan perang dalam pementasan wayang kulit.
Baca Juga: Sebelum Melaut, Nelayan Kendal Dibekali Cara Baca Cuaca dan Kondisi Laut
Semangat berlatih yang ditunjukan para seniman muda yang terus melestarikan budaya Jawa itu menjadi salah satu lentra dalam kegelapan.
"Optimisme terpancar dari raut muka mereka, dimana mereka membawa pesan, bahwa kesenian Jawa khususnya wayang kulit tidak akan punah atau hilang di Indonesia. Dalang anak Ki Narendra Hang Eshan dari MTsN 1 Pemalang dan dalang remaja Ki Sugangsar M Jati dari SMK Negeri 1 Pemalang malam ini pentas dalam acara Interaksi dan Jagongan Selasa Wage (Ijo Sage). Ki Naren panggilan akrab Narendra membawakan fragmen budalan sedangkan Jati fragmen perang dengan iringan pengrawit tim karawitan dan sinden YRKM," ujar Marsudi Wahyu Nugroho, Ketua YRKM sekaligus tim pengajar, serta dalang senior, Senin malam (28/9).
Baca Juga: 312 Kali Kebakaran Terjadi, Kendal Perkuat Kesiapan Warga Hadapi Api
Ia mengatakan, YRKM menjadi salah satu kawah Candradimukanya para seniman muda di Kabupaten Pemalang untuk belajar berbagai kesenian Jawa.
Sebab di YRKM ada berbagai kelas seni, seperti kelas pedalangan, kelas karawitan, kelas vokal, kelas tari maupun kelas baca tulia aksara Jawa. Khusus untuk kelas pedalangan saat ini, YRKM sudah ada lima dalang yang selalu siap berkiprah kapanpun.
Dalam rangka merekatkan dan berbagi ilmu serta pengalaman, YRKM selalu rutin menggelar acara Interaksi dan Jagongan Selasa Wage (Ijo Sage).
Nantinya tidak hanya dunia pedalangan saja yang menjadi topik diskusi tetapi bisa kesenian lainnya. Dalam acara tersebut masyarakat bisa bergabung untuk berinteraksi dengan para narasumber.
Para narasumber juga membagikan berbagai pengalamannya dalam meniti karir awal dalam dunia pedalangan.
"Saya benar benar merasa menjadi dalang itu saat tampil ndalang di Alu alun Pemalang dalam rangka Hari Wayang Nasional (HWN). Hal itu disebabkan dalam pementasan tersebut benar benar diringi gamelan asli dan ada sindennya bukan dari iringan youtube," terang Ki Narendra saat menjadi narasumber dalam Ijo Sage.
"Salah satu hal mistis yang pernah saya alami yaitu saat pentas dalam lakon Bima Suci, dimana saat dewa memberi nasehat pada Bima, ada hembusan angin semilir. Untuk kesulitan yang perlu saya pelajari yaitu tekni sabet, sebab itu cukup sulit bagi saya," imbuh Ki Jati.



