Jejak Islam di Pemalang, Syekh Pandan Jati Penerus Mbah Bantarbolang Yang Dituduh Korupsi

Kamis, 26 Maret 2026 | 10.25 WIB
 Sejumlah peziarah mengunjungi makam Syekh Pandan Jati Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Sejumlah peziarah mengunjungi makam Syekh Pandan Jati Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Kisah Syekh Pandan Jati, ulama dari keluarga Mataram yang difitnah korupsi lalu meninggalkan keraton dan menyebarkan Islam di Bantarbolang, Pemalang.

PEMALANG, puskapik.com - Syekh Pandan Jati yang makamnya berada di Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, memiliki kisah yang memilukan.

Syekh Pandan Jati yang berasal dari keluarga pembesar Kerajaan Mataram sempat dituduh korupsi, sehingga harus keluar dari keraton. Namun, keluarnya Syekh Pandan Jati membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan berwibawa.

Dilansir dari intisari, Syekh Pandan Jati berasal dari keluarga pembesar Kerajaan Mataram, salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara pada abad ke-16 hingga ke-18.

Baca Juga: Jembatan Gantung Sangkanjaya Tegal Ditutup, Pondasi Ambrol dan Lantai Bolong

Dia memiliki nama asli Raden Mas Pandan Jati, dan merupakan anak dari Raden Mas Surya Kusuma, seorang patih atau perdana menteri di bawah pemerintahan Sultan Agung.

Sebagai seorang pembesar Mataram, Syekh Pandan Jati memiliki posisi dan harta yang tinggi.

Dia juga dikenal sebagai seorang yang pintar, berwibawa, dan berilmu tinggi. Dia menguasai berbagai bidang ilmu, baik agama maupun dunia.

Dia juga aktif dalam menyebarkan Islam di wilayah Mataram dan sekitarnya. Namun, nasib Syekh Pandan Jati berubah ketika dia difitnah oleh orang-orang yang iri dan dengki padanya.

Baca Juga: Dua Mayat Ditemukan Membusuk di Atap Masjid Gemparkan Warga di Brebes

Dia dituduh melakukan korupsi dan menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri. Tuduhan ini sampai ke telinga Sultan Agung, yang marah besar dan memerintahkan untuk menangkap dan menghukum Syekh Pandan Jati seumur hidup.

Syekh Pandan Jati tidak bisa membela diri karena tidak memiliki bukti yang kuat untuk membantah tuduhan tersebut.

Dia juga tidak mau melawan Sultan Agung karena menghormati kedudukan dan kewibawaannya sebagai pemimpin umat Islam.

Dia merasa bahwa Allah akan memberikan keadilan padanya. Syekh Pandan Jati memilih untuk melarikan diri dari Kesultanan Mataram, dan meninggalkan seluruh identitas kebesarannya.

Dia pergi ke wilayah hutan di sisi barat, tepatnya di kawasan Bantarbolang, Pemalang. Di sana, dia bertemu dengan Mbah Bantarbolang, seorang ulama besar yang memiliki padepokan atau pesantren di tengah hutan.

Mbah Bantarbolang menyambut Syekh Pandan Jati dengan baik, dan mengizinkan dia untuk tinggal di rumahnya. Dia melihat bahwa Syekh Pandan Jati adalah orang yang baik, jujur, dan taat beribadah.

Dia juga merasakan aura keagungan dan kesucian dari Syekh Pandan Jati. Oleh karena itu, dia mengangkat Syekh Pandan Jati menjadi muridnya, dan mengajarkan ilmu-ilmu agama dan tasawuf kepadanya.

Syekh Pandan Jati belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh dari Mbah Bantarbolang. Dia juga bersahabat dengan murid lainnya, yaitu Syekh Palintaran.

Keduanya mewarisi ilmu dari Mbah Bantarbolang, dan menjadi pribadi yang sangat tangguh secara lahir dan batin. Mereka juga memiliki banyak karamah dan keistimewaan sebagai Wali Allah.

Suatu hari, Mbah Bantarbolang memutuskan untuk meninggalkan padepokannya secara diam-diam. Dia ingin memberikan kesempatan kepada Syekh Pandan Jati dan Syekh Palintaran untuk memimpin padepokannya secara bersama-sama.

Namun, kepergiannya membuat mereka merasa kehilangan. Mereka berusaha mencari Mbah Bantarbolang dengan bantuan mata batin mereka. Akhirnya, Syekh Pandan Jati berhasil menemukan Mbah Bantarbolang di sebuah tempat terpencil.

Dia meminta Mbah Bantarbolang untuk kembali ke padepokannya, namun ditolak. Mbah Bantarbolang malah meminta Syekh Pandan Jati untuk menggantikannya sebagai pemimpin padepokannya.

Sebagai murid yang berbakti, Syekh Pandan Jati pun menerima titah gurunya itu. Syekh Pandan Jati memimpin padepokannya dengan bijaksana dan adil. Dia juga terus menyebarkan Islam di wilayah Pemalang dan sekitarnya.

Dia banyak membantu masyarakat dengan ilmu dan karamahnya. Dia juga dikenal sebagai orang yang rendah hati, zuhud, dan wara'.

Dia tidak pernah menyombongkan diri sebagai mantan pembesar Mataram. Syekh Pandan Jati wafat pada tahun 1586 Masehi dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang. Namun, ada yang menyebutkan bahwa makam Ki Pandan Jati di Bantarbolang tersebut hanyalah sebuah petilasan. Diceritakan bahwa Ki Pandan Jati berkelana ke arah selatan untuk menyebarkan Islam hingga akhirnya kembali ke Mataram. Dia mau kembali dan diterima di Mataram setelah diketahui bahwa tuduhan korupsi kepadanya itu keliru.

Makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang yang mengagumi kisah hidupnya.

Jika ingin ke makam Ki Pandan Jati, peziarah bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Dari alun-alun Pemalang, peziarah ke arah selatan menuju jalur Pemalang-Bantarbolang.

Perjalanan akan dilanjutkan beberapa puluh kilometer ke arah selatan melewati daerah perbukitan di jalan utama Bantarbolang-Randudongkal. Setelah itu, saat tiba Pasar Bantarbolang, peziarah berbelok ke kanan memasuki jalan yang menuju area Makam Ki Pandan Jati.

Demikianlah kisah Syekh Pandan Jati yang memiliki banyak kisah menarik yang patut dijadikan contoh.

Artikel Terkait