Merasa Dipermainkan, Wali Murid di Pemalang Protes Pembelian Seragam Sekolah

Senin, 6 Juli 2026 | 16.13
puskapik

Wali murid di Pemalang mengaku dipaksa membeli paket seragam Rp600 ribu saat mencari bahan batik sekolah. Keluhan itu kini diminta segera ditindaklanjuti pihak sekolah.

PEMALANG, puskapik.com – Seorang wali murid di Kabupaten Pemalang merasa kesal lantaran dipermainkan saat hendak membeli seragam sekolah untuk anaknya. Ia diarahkan ke toko tertentu, lalu diminta membeli seluruh bahan seragam sekolah.

Pengalaman tak mengenakkan itu dialami Heppy, wali murid baru di SMP Negeri 2 Taman. Dirinya lantas mendatangi SMP Negeri 2 Taman untuk meminta penjelasan dari kepala sekolah, Senin 6 Juli 2026, pagi.

Namun saat itu Kepala SMP Negeri 2 Taman tidak berada di sekolah. Heppy hanya ditemui Petugas Koperasi SMP Negeri 2 Taman, Marwiyah. Ia pun mengungkapkan keluhannya.

Baca Juga: Jateng Ubah Arah Perikanan, Fokus Cetak Sentra Bibit Ikan dan Udang Nasional

Heppy menjelaskan, sehari sebelumnya ia datang ke sekolah untuk membeli sejumlah perlengkapan, seperti emblem kain, seragam olahraga, dan seragam batik. Namun saat itu, seragam batik tidak tersedia di koperasi sekolah.

"Saya tanya ke pihak sekolah, 'beli (bahan) batiknya dimana?', saya diarahkan ke Toko Istra. Kalau seragam yang lain boleh beli yang sudah dijahit (pakaian jadi)," tutur Heppy.

Mengikuti arahan tersebut, Heppy lantas mendatangi Toko Istra untuk membeli bahan seragam batik. Tetapi setibanya di toko, ia tak diperbolehkan membeli sepotong bahan seragam batik sekolah anaknya.

Baca Juga: Pemkab Pekalongan Terima 90 Mahasiswa KKNT Inovasi IPB 2026

Pihak Toko Istra mengharuskan pembelian dalam satu paket yang berisi bahan seragam OSIS, Pramuka, dan batik SMP Negeri 2 Taman dengan harga sekitar Rp600 ribu.

"Waktu ke Toko Istra, disana saya malah disuruh beli paketan, enggak boleh cuma beli bahan seragam batik, ditolak," ungkap Heppy.

"Katanya kalau cuma beli bahan batik saja baru bisa tanggal 20 Juli. Padahal anak sekolah mulai masuk tanggal 13," imbuhnya.

Kondisi itu membuat Heppy kecewa dan merasa dipermainkan. Ia menilai ada yang tidak beres dalam proses pengadaan seragam sekolah. Heppy pun meminta agar dilakukan evaluasi dalam pengadaan seragam sekolah.

"Pendidikan itu harusnya memudahkan, bukan mempersulit. Kasihan orang-orang yang sudah datang jauh-jauh akhirnya pulang tangan kosong, karena ternyata harus beli sepaket, tidak sesuai info dari sekolah. Banyak yang mengeluh." tegasnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Petugas Koperasi SMP Negeri 2 Taman, Marwiyah, membenarkan bahwa sekolah tidak menyediakan bahan seragam identitas atau seragam batik khas SMP Negeri 2 Taman.

Menurutnya, kebutuhan tersebut memang diarahkan untuk dibeli di Toko Istra. "Karena memang sekolah enggak boleh jualan seragam, hanya boleh atribut saja," tuturnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait