Panitia Pilkades Taman Pemalang Diajak Sumpah Banyu Taman, Ini Mitosnya

Selasa, 27 Oktober 2026 | 09.31 WIB
Massa pendukung bakal calon kades di Desa Taman Kabupaten Pemalang mengirim keranda ke ruang panitia Pilkades/PUSKAPIK/ERIKO
Massa pendukung bakal calon kades di Desa Taman Kabupaten Pemalang mengirim keranda ke ruang panitia Pilkades/PUSKAPIK/ERIKO

Massa pendukung bakal calon kades Desa Taman, Pemalang, membawa keranda ke ruang panitia Pilkades dan menantang sumpah Banyu Taman saat memprotes hasil tes tertulis.

PEMALANG, puskapik.com – Tantangan sumpah Banyu Taman muncul di tengah aksi protes hasil tes tertulis bakal calon Kepala Desa Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Senin 26 Oktober 2026 malam.

Massa yang mempersoalkan hasil seleksi meminta pihak yang dianggap tidak jujur untuk membuktikan kebenarannya melalui sumpah yang lekat dengan mitos dan cerita rakyat setempat itu.

Tantangan tersebut dilontarkan saat massa pendukung bakal calon kepala desa, Agus Feriyanto dan Triyatno Yuliharso, membawa keranda ke ruang panitia Pilkades Taman.

Baca Juga: Kisruh Tes Bakal Calon Kades Taman Pemalang, Ini Kronologinya

"Sing ora jujur lebokna méné! (red-yang tidak jujur masukan ke sini!)." teriak salah seorang pendukung sambil menunjuk keranda.

"Ayo sumpah, nginung banyu taman (red-minum air taman)." sahut massa lainnya.

Sumpah Banyu Taman bukan sekadar seruan dalam aksi tersebut. Bagi sebagian masyarakat setempat, tradisi ini dikenal sebagai cara untuk menyelesaikan perselisihan atau membuktikan kebenaran.

Massa melontarkan tantangan itu di tengah keberatan atas hasil tes tertulis yang menentukan lima bakal calon kepala desa untuk melaju ke tahapan berikutnya. Mereka menduga terdapat kekeliruan dalam tes tertulis tersebut.

Baca Juga: Kisruh Pilkades Taman Pemalang, Massa Bawa Keranda ke Ruang Panitia

Diketahui, tujuh bakal calon mengikuti tes tertulis tersebut. Berdasarkan hasil yang diumumkan, Witno memperoleh nilai 98, Agus Feriyanto 96, Kusmiasih 96, Usup Sumanang 97, Indah Kuswati 98, Triyatno Yuliharso 96, dan Rifki Romadhoni 98.

Sesuai ketentuan, hanya lima bakal calon yang dapat lolos ke tahapan selanjutnya.

Mitos Air Blumbang untuk Pembuktian

Sumpah Banyu Taman sendiri berkaitan dengan sebuah blumbang atau kolam tua di Desa Taman. Air dari kolam tersebut dipercaya sebagian warga memiliki kekuatan magis dalam menyelesaikan perselisihan.

Konon, orang yang bersalah akan merasakan efek seperti sakit setelah meminum air dari blumbang tersebut. Kepercayaan itu diwariskan secara turun-temurun dan masih dikenal oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Pemalang.

Kolam tersebut kerap disebut Blumbang Beji. Nama itu merujuk pada Kelurahan Beji yang berbatasan langsung dengan Desa Taman. Namun, lokasi blumbang yang dikaitkan dengan cerita Banyu Taman kini berada di Desa Taman.

Kisah Adu Kesaktian Mbah Alif dan Mbah Menu

Di balik nama Blumbang Beji, berkembang cerita rakyat tentang dua tokoh yang disebut memiliki ilmu kesaktian, yakni Mbah Alif dari Desa Taman dan Mbah Menu dari Desa Beji.

Dalam kisah yang dituturkan Aisyah, Mbah Alif dikenal sebagai salah satu tokoh berpengaruh di Desa Taman. Sementara itu, Mbah Menu merupakan tokoh yang disegani di Desa Beji.

Keduanya disebut memiliki hubungan baik, meski konon sama-sama memiliki kemampuan yang membuat mereka saling menguji.

Cerita bermula ketika Mbah Alif berkunjung ke rumah Mbah Menu. Saat tiba di depan pintu, pintu rumah itu disebut terbuka dengan sendirinya, disertai suara engsel menyerupai rintihan orang menangis.

Mbah Alif merasa tersinggung. Ia menilai kejadian tersebut sebagai bentuk pamer ilmu, sebab Mbah Menu tetap duduk tenang di ruang tamu yang letaknya jauh dari pintu.

Meski demikian, Mbah Alif masuk tanpa memperlihatkan kemarahannya. Setelah keduanya berbincang cukup lama, tibalah waktu makan siang. Dalam cerita itu, Mbah Alif kemudian menunjukkan kemampuannya.

Setelah menyantap ikan bakar, ia memasukkan tulang-belulang ikan ke dalam kobokan, wadah untuk mencuci tangan. Tulang-tulang tersebut konon kembali menyatu dan bergerak layaknya kerangka ikan hidup di dalam air.

Mbah Menu yang melihat kejadian itu kemudian memberikan tantangan lain. Ia meminta Mbah Alif membawa pulang blumbang yang berada di belakang rumahnya.

Di luar dugaan, Mbah Alif disebut mampu memindahkan blumbang tersebut dalam sekejap mata. Sejak saat itulah, menurut cerita rakyat tersebut, blumbang yang semula berada di Desa Beji berpindah ke dekat rumah Mbah Alif di Desa Taman.

Meski lokasinya berada di Desa Taman, masyarakat kerap menyebutnya Blumbang Beji. Cerita tersebut kemudian menjadi bagian dari asal-usul tradisi Banyu Taman yang dikenal hingga kini.

Artikel Terkait