Pemerintah Pulihkan Psikologis Anak Pascabanjir Bandang di Pulosari Pemalang

Rabu, 4 Februari 2026 | 18.36 WIB
Kegiatan trauma healing oleh Dinperpuska Pemalang di SD Negeri 03 Penakir, Pulosari, Kabupaten Pemalang/DOK DINPERPUSKA
Kegiatan trauma healing oleh Dinperpuska Pemalang di SD Negeri 03 Penakir, Pulosari, Kabupaten Pemalang/DOK DINPERPUSKA

Pemkab Pemalang pulihkan psikologis anak-anak korban banjir bandang Pulosari melalui kegiatan trauma healing di sekolah dan pengungsian.

PEMALANG, puskapik.com – Pemerintah Kabupaten Pemalang terus mengintensifkan upaya pemulihan pascabencana banjir bandang yang menerjang Kecamatan Pulosari dan Moga.

Pemulihan tidak hanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur, fasilitas umum, dan rumah warga, tetapi juga menyentuh aspek psikologis masyarakat terdampak, khususnya anak-anak.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui kegiatan trauma healing atau pemulihan psikologis dan emosional bagi anak-anak yang terdampak banjir bandang.

Baca Juga: Bantuan Gubernur Dicoret, Rencana Polder di Pondok Martoloyo Tegal Menggantung

Kegiatan ini bertujuan membantu anak-anak mengatasi luka batin akibat peristiwa traumatis yang mereka alami.

Program trauma healing itu dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinperpuska) Kabupaten Pemalang dengan menyambangi lokasi pengungsian serta sekolah di wilayah terdampak.

"Kita kemarin adakan trauma healing di Gedung NU dan SD Negeri 3 Penakir." kata Edi Sutriyono, Kepala Bidang Perpustakaan Dinperpuska Pemalang kepada puskapik.com, Rabu 4 Februari 2026.

Baca Juga: Vonis Pidana Mati PN Kendal Akhiri Kasus Pembunuhan Kedungsuren Kaliwungu Selatan

Edi Sutriyono menuturkan, kegiatan dilakukan di dua lokasi berbeda dan melibatkan sinergi dengan sejumlah instansi lain agar jangkauan pendampingan lebih luas.

"Jadi kita kebagian di dua tempat itu. Di Gedung NU tanggal 29 Januari dan di SD 3 Penakir tanggal 2 Februari, kita sinergis dengan instansi lain untuk menjangkau masyarakat terdampak." imbuhnya.

Dalam kegiatan trauma healing, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas menyenangkan seperti mendongeng, bermain, menyanyi, membaca cerita, hingga menonton film tiga dimensi.

Metode itu dipilih untuk menciptakan suasana ceria sekaligus mengalihkan ingatan anak-anak dari pengalaman traumatis akibat banjir.

"Kita pancing agar anak-anak ikut aktif berpartisipasi, bergiliran, tampil menyanyi di depan." tutur Edi Sutriyono.

Diungkapkan Edi Sutriyono, pada pelaksanaan awal di Gedung NU Pulosari, kondisi psikologis anak-anak masih terlihat tertekan. Mereka tampak kurang antusias saat kegiatan dimulai.

"Waktu itu kita bagikan makanan saja enggak antusias. Tapi begitu bermain, menonton film tiga dimensi, mereka antusias sekali," tutur Edi Sutriyono.

"Kita ajak mereka bergurau dan main tebak-tebakan." imbuhnya.

Trauma healing diharapkan membantu memulihkan kondisi mental dan emosional anak-anak korban banjir bandang agar kembali ceria dan bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, proses pemulihan pascabencana di wilayah Pulosari dan Moga menunjukkan perkembangan yang cukup positif.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Pemalang per Senin malam 2 Februari 2026 pukul 21.00 WIB, jumlah pengungsi tersisa 135 jiwa. Beberapa warga sudah kembali ke rumah masing-masing.

Untuk kondisi lingkungan, sekitar 80 persen akses jalan di lokasi terdampak banjir bandang kini sudah dapat dilalui kendaraan. Aktivitas masyarakat pun mulai berangsur normal.

Meski demikian, pemerintah daerah bersama warga dan relawan masih terus membersihkan material lumpur dan kayu sisa banjir di sejumlah titik terdampak di Kecamatan Pulosari dan Moga. **

Artikel Terkait