Wartawan Diusir Saat Liputan Musdes Pembentukan Panitia Pilkades Taman

Jumat, 30 Oktober 2026 | 06.44 WIB
puskapik

Dua wartawan sempat diminta keluar saat meliput Musdes pembentukan panitia Pilkades Taman, Pemalang. Kepala Dinpermasdes mengaku mengira forum tersebut tertutup

PEMALANG, puskapik.com – Musyawarah Desa (Musdes) Taman, Kabupaten Pemalang dengan agenda pembentukan panitia Pemilihan Kepala Desa diwarnai insiden pengusiran wartawan yang tengah melakukan peliputan, Kamis 29 Oktober 2026.

Insiden tersebut dialami Eriko Garda Demokrasi, wartawan puskapik.com, saat meliput kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Desa Taman. Saat itu, Eriko melakukan peliputan bersama Usman, wartawan beritabersatu.com.

Awalnya, kedua wartawan tersebut diperbolehkan masuk ke dalam aula untuk mengikuti jalannya musyawarah.

Baca Juga: Lapas Plantungan Koordinasikan Penilaian Aset Negara ke KPKNL Pekalongan

Forum dipimpin Wakil Ketua BPD Taman, Moh. Bambang, dan dihadiri anggota BPD, LPMD, ketua RT dan RW, tokoh masyarakat (tokmas), tokoh agama (toga), tokoh pemuda (toda), serta perwakilan PKK Taman.

Musyawarah sempat berjalan sebelum Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (Dinpermasdes) Pemalang, Andri Adi, hadir bersama Camat Taman, Dedy Sarwoaji.

Dalam forum tersebut, Andri Adi mendapat kesempatan untuk menyampaikan sejumlah hal terkait pelaksanaan Pilkades. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya hanya untuk mendampingi, mengingat Pilkades menjadi kewenangan desa.

Baca Juga: Kisah Tulang Bawang dari Darupono Kendal Dibawa ke Panggung Nasional di TMII

Andri Adi juga menegaskan bahwa forum tersebut merupakan kewenangan mutlak Desa Taman. Adapun pembentukan panitia Pilkades menjadi tugas dan wewenang Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Taman.

Namun, setelah melihat keberadaan wartawan di dalam aula, Andri Adi meminta wartawan keluar selama musyawarah berlangsung.

"Karena ini Musdes, mohon yang tidak terundang untuk berada di luar dulu, ini mas-mas media (Pers), atau nanti setelah ada keputusan kami sampaikan." kata Andri.

Mendengar permintaan tersebut, Eriko sempat keluar dari aula. Namun, ia kemudian kembali masuk bersama Usman yang sebelumnya berada di luar ruangan untuk merokok.

Kedua wartawan itu sempat berargumen dengan Andri mengenai peliputan dalam forum tersebut. Usman mempertanyakan alasan wartawan diminta meninggalkan ruangan, mengingat musyawarah desa merupakan forum publik.

"Ini kan forum publik, harusnya boleh lah kita liputan" kata Usman.

Insiden tersebut sempat menjadi perhatian peserta yang hadir. Setelah terjadi adu argumen, kedua wartawan akhirnya melanjutkan peliputan jalannya musyawarah.

Saat dikonfirmasi mengenai alasan meminta wartawan keluar dari ruangan, Andri Adi mengaku mengira musyawarah desa tersebut bersifat tertutup.

"Karena pemahaman kami, kadang-kadang rapat itu ada yang bersifat tertutup dan terbuka. Gitu ya, saya berfikir apakah rapat semacam ini diperkenankan dihadiri oleh pihak yang tidak diundang." ungkapnya.

Andri menjelaskan, setelah menyadari musyawarah desa tersebut merupakan forum terbuka, ia membiarkan wartawan melakukan peliputan dan kembali fokus menjalankan tugasnya mendampingi pembentukan panitia Pilkades. **

Artikel Terkait