Punya Resiko, Orang Tua atau Pendidik Wajib Tahu Ini Agar Tak Bias Memuji Anak

Kita ingin anak-anak tumbuh percaya diri, tapi tanpa sadar kita membangun kepercayaan diri yang rapuh, yang hanya berdiri di atas kata-kata manis orang lain.
puskapik.com - Setiap kali mendapat nilai sempurna, seorang anak disambut dengan tepuk tangan dan seruan, “Kamu memang pintar sekali!”
Namun, pada hari ketika nilainya menurun sedikit, wajahnya muram dan suaranya pelan.
Ia takut pulang, takut kehilangan kalimat manis yang biasa ia dapat.
Apakah Anda pernah mengalami situasi yang saya ceritakan itu?
Jika ya, ada baiknya saya sarankan untuk mengambil jeda dan belajar memahami bahwa memuji anak tak perlu gegap gempita dan heboh.
Sebab, pujian yang semula niatnya baik, bisa menjadi jebakan yang halus.
Saat yang lain, kita kerap memuji anak-anak dengan sebutan, “anak cantiknya mama”, “kamu anak yang soleh”, atau “anak ganteng”.
Sepertinya pujian semacam ini tampak wajar dan baik-baik saja.
Namun, jika kita mau belajar lebih jauh, sejatinya, pujian yang menyasar sifat anak-anak merupakan sesuatu yang kurang pas.
Dalam jangka yang panjang, anak-anak akan mengidentifikasi nilai dirinya sebatas pada sifat yang yang sering disebut itu.
Anak-anak jadi kurang mampu melihat pentingnya proses melalui kinerja produktif yang diupayakan.
Tampaknya kita hidup di zaman yang penuh pujian. Diri yang apa adanya acap hilang oleh gairah untuk menampilkan citra diri dari sudut pandang terbaik.
Setiap pencapaian kecil anak sering diumumkan ke publik, di media sosial, di sekolah, bahkan di ruang keluarga.
Kita ingin anak-anak tumbuh percaya diri, tapi tanpa sadar kita membangun kepercayaan diri yang rapuh, yang hanya berdiri di atas kata-kata manis orang lain.
Sebagai orang tua atau pendidik, kita sering berpikir bahwa memuji anak adalah bentuk kasih sayang. Kita ingin anak merasa dihargai.


