Tepis Stigma Bahasa Tegal Kampungan, TeaterQi Luncurkan Buku Ngapak Bukan Sebuah Perundungan

TeaterQi Tegal melalui gerakan kebudayaan meluncurkan buku Ngapak Bukan Sebuah Perundungan.untuk menepis bahasa Tegalan yang dinilai masih kampungan
TEGAL, puskapik.com - Bahasa Ngapak selama ini kerap menjadi bahan candaan, bahkan tak jarang dilekatkan dengan stigma kampungan dan tidak serius.
Padahal, logat maupun dialek merupakan bagian dari identitas budaya yang semestinya dihargai, bukan dijadikan bahan perundungan.
Kegelisahan itulah yang diangkat TeaterQi melalui gerakan kebudayaan bertajuk Ngapak Bukan Sebuah Perundungan.
Baca Juga: RSUD Kardinah Tegal dan BPJS Ketenagakerjaan Lindungi 902 Pekerja Rentan
Gagasan tersebut sekaligus didokumentasikan melalui penerbitan buku yang diluncurkan di Pawon Mane, Minggu 1 November 2026.
Penasihat TeaterQi, Rudi Iteng mengatakan, gerakan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap cara sebagian masyarakat memandang bahasa Tegal, khususnya logat Ngapak.
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Ngapak masih kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang lucu, kurang berkelas, bahkan dianggap tidak pantas ditampilkan dalam pergaulan yang lebih luas.
Stigma tersebut juga terbentuk melalui representasi dalam film, sinetron, maupun tayangan hiburan yang sering menempatkan karakter berlogat Ngapak sebagai sosok lucu atau bahan komedi.
Dampaknya, tidak sedikit masyarakat Tegal yang memilih menyamarkan logat daerahnya ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.
Bahkan, ungkapan bernada merendahkan seperti "cantik-cantik kok Ngapak" masih ditemukan dalam kehidupan sosial.
Padahal, bahasa daerah bukanlah ukuran kecerdasan, status sosial ataupun tingkat pendidikan seseorang.
Kekayaan Kebudayaan Lokal
Melalui gerakan ini, TeaterQi ingin mengajak masyarakat memandang bahasa Ngapak secara lebih utuh sebagai bagian dari identitas dan kekayaan kebudayaan lokal.
Peluncuran buku tersebut juga menjadi ruang diskusi kebudayaan dengan menghadirkan Yus Winardi dan Marjo Klengkam Sulam, sebagai nara sumber. Diskusi dipandu moderator Iqbal Alfariky.
Dalam program Ngapak Bukan Sebuah Perundungan, TeaterQi tidak hanya mengandalkan penerbitan buku, tetapi juga pendekatan seni dan pertunjukan.
Sejumlah kegiatan telah diselenggarakan, di antaranya lokakarya bertajuk "Dadi Wadon Kudu Kuat" dan Parade Teater "Ngapak Bukan Sebuah Perundungan".
Baca Juga: Bupati Brebes Minta Provider Patuhi Aturan Daerah, Saat Rapat Penertiban Kabel FO
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi, ekspresi, sekaligus refleksi terhadap persoalan bahasa, identitas, stereotip dan pengalaman sosial masyarakat Tegal.
Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana Tahun 2025.
Selain itu, sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan program, diterbitkan pula KancaQi Volume 1, akronim dari Kabar dan CatatanQi.
Publikasi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menampung gagasan, pertanyaan serta refleksi mengenai berbagai persoalan kebudayaan.
Dengan demikian, gagasan yang lahir dari sebuah kegiatan seni tidak berhenti setelah pertunjukan selesai.
Melalui gerakan tersebut, TeaterQi ingin menegaskan bahwa menjadi orang Tegal bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.
Bahasa Ngapak bukan kekurangan, apalagi alasan untuk merendahkan seseorang. Sebaliknya, bahasa daerah merupakan warisan kebudayaan yang memiliki martabat dan patut dibanggakan.
Melalui seni dan literasi, gerakan Ngapak Bukan Sebuah Perundungan mengajak masyarakat untuk berhenti menjadikan identitas orang lain sebagai bahan olok-olok dan mulai merayakan keberagaman bahasa sebagai kekayaan bersama.***
Artikel Terkait

RSUD Kardinah Tegal dan BPJS Ketenagakerjaan Lindungi 902 Pekerja Rentan

Bupati Brebes Minta Provider Patuhi Aturan Daerah, Saat Rapat Penertiban Kabel FO

Ribuan Bibit Nila Dikembangkan di Lapas Plantungan, Penopang Ketahanan Pangan
